To Be a Power in the Shadows! Volume 4 Bahasa Indonesia – Chapter 2 (Bagian 5)

Font Size :
Table of Content

* Bagian 5 *

Rose meraih tangan Shadow dan mereka berdua berjalan menuruni balkon kastil. Angin dingin menyentuh pipinya.

“Tempat ini…”

Itu adalah kamar ibunya, sang ratu.

“… Di sinilah letak kebenarannya.”

“Kebenaran…?”

Dia tidak tahu apa yang dia maksud.

Untuk alasan ini, Rose mengamati apa yang terjadi di dalam ruangan dengan ekspresi gugup dan cemas.

“Hei…?!”

Apa yang dia lihat ada sesuatu yang mengejutkan.

Di ruangan yang remang-remang oleh cahaya lilin, ibunya dan Duke Doem berpelukan.

Rose berdiri tanpa bereaksi selama beberapa saat.

“Mengapa…?”

Sang ratu tidak merasa jijik sama sekali, nyatanya, dia menerima pelukan Doem dengan sangat bahagia.

Percakapan mereka sampai ke luar jendela.

“Kerajaan Oriana akan segera menjadi milik kita sendiri.”

“Sayangku, semuanya berkatmu.”

“Pada akhirnya, adalah ide yang bagus untuk memberikan obat itu kepada suamiku yang bodoh. Dia melakukan pekerjaannya sebagai boneka dengan baik. ”

“Ya, meskipun aku ingin menggunakannya lebih lama sebelum dia terbunuh …”

“Itu sebabnya kubilang kau harus membunuh Rose dulu. Semuanya menjadi lebih rumit sekarang karena dia adalah ahli waris … ”

Dia tidak ingin mendengarnya lagi.

Rose berpaling dari jendela, tapi dia masih bisa melihat sosok mereka di balik tirai.

“Tidak…”

Tubuhnya bergetar, tatapannya berubah, dan dia merasa dunia seperti hancur berantakan.

“… Ini adalah kebenarannya”.

“Tidak … ini tidak mungkin … ibuku tidak mungkin …”.

Dia berjalan dengan lemah ke balkon, mengistirahatkan tangannya di atasnya.

“… Terima kebenarannya.”

Dia mendengar suara Shadow semakin jauh.

“T-Tidak …”

“Saatnya telah tiba-”

Kemudian kesadarannya mulai memudar.

“Apa yang dilihat matamu … apa yang coba dipegang tanganmu—”

“Aah …!”

“Ini waktumu, lepaskan pedang pemberontakan yang—”

Di tengah kesadarannya yang memudar, dia akhirnya mengerti segalanya. Dia mengerti apa yang ibunya lakukan dengan kelompok sekte malam itu dan mengapa No. 559 mencoba membunuhnya.

Dan, ketika dia memahami semua itu, hati nuraninya terpotong seperti seutas benang.

Rambut berwarna madu tergeletak di lantai balkon sementara Shadow menatapnya dengan ragu.

“Hei…? Apakah kau pingsan? Tepat setelah aku ingin mengatakan bagian bagusnya?”

Rose tidak bereaksi.

“Apa yang sedang terjadi? Apakah kam
u baik-baik saja?”

Dia mencoba menggerakkan bahunya, tetapi dia tidak menanggapi.

“Para pengkhianat ada tepat di depan matamu, bukan? Ini adalah kesempatanmu untuk balas dendam, tidak bisakah kamu lihat? Aku dapat membantumu jika kau mau, kau tahu? ”

Angin dingin hanya berlalu tanpa suara.

Shadow memiringkan kepalanya, lalu mendongak dan menghela nafas.

“Haah … rencanaku yang indah …”

Dia memeluk Rose dan kemudian melompat dari balkon.


Please do 1x cIick before you leave the site, thank you 😀
Table of Content
Advertise Now!

Please wait....
Disqus comment box is being loaded