To Be a Power in the Shadows! Volume 4 Bahasa Indonesia – Chapter 1 (Bagian 2)

Font Size :
Table of Content

*Bagian 2*

Setelah memasuki kastil tanpa cek apa pun berkat Epsilon, aku terpana oleh semua dekorasi artistik yang ada di tempat ini.

“Seperti yang diharapkan dari negara seni.”

“Kastil ini terkenal sebagai yang terindah di dunia.”

Saat kami berjalan menyusuri lorong panjang dengan langit-langit tinggi, orang-orang yang melewati kami menyambut kami dengan ramah.

“Di negeri ini yang paling penting adalah seni. Selama senimu diakui, mereka akan menghormatimu terlepas dari status atau rasmu ”.

“Fumu, fumu.”

“Berkatmu aku juga dihormati, lagipula, kamu adalah guruku.” Kata Epsilon, mendekatiku dengan bisikan dan kemudian meraih lenganku.

Saat dia melakukannya, aku secara otomatis mulai menghitung. Dadanya masih 99% slime.

Sepertinya tidak ada yang berubah.

Slime suit Epsilon dimodifikasi hampir setiap hari.

Dia menambahkan slime ke dada dan pinggulnya, membuatnya mengencangkan pinggangnya dan bahkan memakai sepatu bot khusus untuk menambah tinggi badannya, dengan cara tertentu yang aneh tentu saja, tubuhnya sempurna, meskipun dengan slime.

“Fufufu, apakah ada yang salah?” Kata Epsilon, menatapku tersenyum.

“Bukan apa-apa, aku hanya berpikir kamu belum berubah.”

Aku tahu semua kekuatan magis yang dia butuhkan dan ketepatan kontrol yang diperlukan untuk melakukan apa yang dia lakukan.

“Oh fufu.” Epsilon berkata, meraih lenganku lebih erat dengan reaksi senang.

“Kita saat ini sedang mengawasi target.”

“… Um.”

Target? SIAPA?

“Dia belum menyadari kita sudah di sini. Juga, waktunya— ”

Tiba-tiba, sekelompok orang mulai berbicara dengan kami.

“Oh, bukankah ini Nona Silon? Apakah anda akan tampil untuk penjamuan siang ini?”

“Benar, Duke Doem. Hari ini saya akan mulai dengan lagu baru ”. Epsilon menjawab, sudah cukup terbiasa dengan sapaan semacam ini. Di belakang Doem, ada banyak pengawal.

Dia adalah tunangan yang dibenci Rose-senpai.

“Saya akan sangat ingin mendengarnya. Lagipula, lagunya indah dan inovatif. ”

Aku berpikir, ya iyalah, bagaimanapun juga itu adalah karya yang diciptakan oleh komposer dari dunia lain.

“Saya ingin Rose-sama mendengarnya juga. Apakah Anda akan melewatkan makan siang hari ini? ” (Epsilon)

“Itu benar, saya sepertinya tidak enak badan. Karena upacaranya sebentar lagi, saya lebih suka istirahat. Ngomong-ngomong, siapa pemuda itu?” (Doem)

Doem menatapku.

“Dia adalah muridku.”

“Saya tidak tahu bahwa Anda memiliki seorang murid. Saya minta maaf atas pertanyaan saya, tetapi apakah Anda memperoleh izin untuk memasuki kastil? ”

“Saya tidak percaya bahwa murid saya membutuhkan izin untuk masuk bersama saya.”

“Aturan di sekitar sini telah sedikit berubah akhir-akhir ini. Anda tahu, karena situasi yang kami alami, kami telah sedikit memperketat keamanan. Ada desas-desus bahwa bahkan ada orang yang tidak pantas yang menyusup ke kastil. ”

“Kalau begitu kami akan pergi dulu untuk mendapatkan izin itu dan kami akan kembali nanti.” Epsilon berkata, dengan ‘Maaf’ di matanya.

Aku menanggapi dengan cara yang sama dengan, “hal-hal ini terjadi.”

“Itu tidak perlu. Tentu saja, kami semua ingin tahu seberapa baik murid anda, jadi jika tidak ada masalah, kami akan senang mendengar lagu darinya ”.

Suatu peristiwa terbentuk dimana aku tidak bisa melarikan diri.

Tapi tidak ada masalah. Aku akan menjadi Mob yang bisa memainkan piano sedikit.


Please do 1x cIick before you leave the site, thank you 😀
Table of Content
Advertise Now!

Please wait....
Disqus comment box is being loaded