Duke’s Daughter Bab 98

Font Size :
Table of Content

Nasi Sudah Menjadi Bubur

Berbagai masalah yang mangancam konglomerat sekarang sudah dibereskan.

Karena perusahaan Karim sekarang yang mengambil peran transfortasi, memungkinkan kami melewati perbataaan dengan tarif pajak standar.

Dengan bergantungnya transfortasi pengiriman barang pada perusahaan Karim juga berarti menyukseskan pengurangan biaya pengawalan dan biaya personel yang selangit untuk konglomerat lain juga.

Dan untuk perusahaan milik Karim, sebagai gantinya, juga akan mendapatkan keuntungan.

Semua orang mendapatkan keuntungan secara merata.

Sejujurnya, negosiasi dengan Tuan Feodal itu, yang membebankan tarif tinggi pada kami, tidak berjalan dengan baik.

Intervensi dari Ratu kedua mungkin yang memainkan peran utama.

Tarif pajak biasanya diserahkan ke masing-masing Tuan Feodal, bahkan setelah aku membuat permintaan agar tarif pajak diturunkan, setelah pengucilanku terbukti tidak bersalah, jawaban yang mereka berikan masih belum berubah. “Betapa beruntungnya dirimu, akan tetapi, alasan saya menaikan tarif pajak untuk seluruh wilayah saya. Itu adalah kebijakan yang kami tetapkan.”

Aku semakin yakin ada motif tersembunyi di balik penaikan pajak di sekitar Wilayah Armelia.

Tapi mengajukan banding tidak akan ada bedanya dengan menuruti keinginan Ratu kedua, yang sudah siap dan menunggu.

Tanpa ragu dia akan menghancurkannya.

Sekalipun ayah adalah seorang Perdana Menteri, ia tidak mempunyai wewenang untuk memerintah Tuan Feodal lainnya.

Raja memiliki wewenang. Namun Raja sudah dipastikan terbaring di tempat tidur karena penyakitnya.

Yah… meski begitu, itu tidak mengubah fakta bahwa Tuan Feodal diberikan hak untuk membuat aturan mengenai tarif pajak di wilayah mereka.

Setidaknya selama masa damai, seorang Raja akan jarang menggunakan haknya, dan ikut campur mengenai keputusan Tuan Feodal.

Aku kira inilah yang dimaksud dihalangi dari semua sisi.

.. Setidaknya aku berhasil memenuhi tujuanku, mungkin aku bisa kembali sekarang. Sebastian boleh jadi pria yang bisa diandalkan, namun beban kerjanya mungkin sudah mencapai batas yang tidak bisa ditoleri kali ini.

Ah….tapi. Jika Dean disana, dia mungkin bisa mengatasinya.

Aku memilah dokumen, memikirkan masalah itu.

“Tanya. Aku berencana pulang ke wilayah feodal.”

“Saya pikir itu keputusan terbaik. Saya akan mengatur jadwal anda segera.”

Yah… ada banyak hal yang mesti diurus dan orang-orang yang mesti kutemui dulu, jadi kupikir akan memakan beberapa hari lagi.

“Terima kasih.”

Ah, betapa aku merindukan tempat itu.

Meski belum setahun atau dua tahun seperti absenku selama masa sekolah, tapi meski begitu aku merasa seolah sudah pergi jauh untuk waktu yang lama.

Aku kira ini menunjukkan betapa padatnya jadwalku selama dua hari terakhir.

“Nyonya, sebuah surat dati Mimosa telah datang.”

Aku menerima amplop dari Tanya dan menyobek segelnya dengan pisau kertas dan melihat isinya.

Aku merasa kemampuanku dalam membaca cepat sudah meningkat pesat.

Setelah selesai membacanya, aku menutupnya dan memasukannya kembali ke dalam amplop.

“…. Sepertinya ini cukup serius.”

Isi surat ini adalah respon untuk permintaan maaf mengenai Damme.

Respon ini memang Mimosa banget, jadi sepertinya aku tidak perlu terlalu mengkhawatirkannya, dan dia akan sangat sedih jika aku berhenti mengajaknya jalan-jalan keluar.

Akan tetapi, setelah bagian itu, entah kenapa mulai merembet pernikahan.

Sepertinya….. dia mengalami kesulitan menemukan pasangan untuk pertunangan.

Itu tidak mengejutkan, keluarga Mimosa adalah bagian dari faksi netral… yang membuat meraka sangat hati-hati.

Tapi aku juga merasakan dari Mimoza, sebuah kegelisahan karena menggunakan ini sebagai alasan untuk melanjutkan hari-hari damai ini.

Untuk anak-anak bangsawan, ikatan yang kau punya diantara pasangan suami-istri sangat penting, sangat penting untuk memastikan dari faksi mana mereka berasal, atau tujuan mereka nanti berafiliasi ke mana.

Kau mulai mengerti betapa seriusnya status keluarga pasanganmu.

Akan tetapi, waktu terus bejalan dengan langkah pasti sekalipun kau berusaha tidak memikirkannya.

… Terlebih lagi usia pernikahan diantara bangsawan jauh lebih muda dari usia pernikahan minimal di Jepang. Tapi tentu saja, latar belakang sosial dan nilai budaya, semuanya berbeda, jadi bukan sesuatu yang aneh.

Dengan ingatan Iris yang bercampur dengan milikku, aku bisa mengerti perasaan Mimosa karena ketidaksabaran sampai titik itu.

Tapi hanya “sampai titik itu”, dan tidak “memenuhinya”.

Aku sendiri bahkan belum menikah.. Aku tidak lagi memegang impian menuju pernikahan.

Aku menulis balasan, yang terbaik adalah dia lebih tenang dan tidak terlalu memikirkannya.

Sangat penting untuk memastikan tidak hanya individunya, tapi juga keluarganya… menekankan pada bagian itu; aku tertawa sembari mengejek diri sendiri.

“… omong-omong, aku penasaran bagaimana kabar Ryle dan Dida.”

Ryle dan Dida sudah diambil oleh kakek, kemarin dan hari ini dua hari berturut-turut.

Mereka harusnya menjadi pengawal pribadiku… yah, kukira ini tidak jadi masalah, toh aku masih punya tugas dengan tumpukan dokumen mengenai Conglomerate Kyle, dan tidak ada rencana meninggalkan rumah.

“Saya yakin mereka berdua akan baik-baik saja, berangkat selama dua hari. Bagaimanapun juga mereka sudah menghabiskan waktu bertahun-tahun di bawah pelatihan Jenderal Gazeff.

“… Itu benar.”

Ketika aku berbincang dengan Tanya, kami mendengar suara ketukan pintu.

Tanya pergi membukanya dan memeriksa siapa itu.

Setelah berbincang dengan pelayan, ekspresi Tanya berubah semakin gelap.

“…. segera usir dia, secepatnya.”

“Tapi…”

Pelayan itu tersentak mendengar suara Tanya yang dingin dan mengancam namun ia masih berdiri di tempat.

“Baiklah. Aku yang akan melakukannya kalau begitu.”

Katanya seolah tidak ada lagi manfaat berbicara lebih jauh.

Tapi ekspresi pelayanan itu berubah lega mendengar jawaban Tanya.

Mungkin ini mengindikasikan bahwa pengunjung itu… adalah seseorang yang cukup penting.

“…. Tanya.”

“Permisi. Saya akan keluar dan mengurusi ini.”

Melihat Tanya, aku mengerti dia tidak ingin aku tahu… Entah masalah apa itu, dia ingin mengurusinya secara pribadi.

“Tunggu sebentar Tanya. Siapa yang berkunjung?”

“Nyonya muda, anda tidak perlu sampai turun tangan. Saya yang akan menyelesaikan semuanya.”

“… Tanya.”

Saat aku memanggil namanya sekali lagi, dia menoleh ke arahku, dengan ekspresi bersalah di matanya.

“Van Lutasaha yang berkunjung untuk bertemu dengan anda, Nyonya muda.”

Karena kebencian di dalam diriku, aku merasa tidak nyaman setelah mendengar namanya.

“Sebaiknya anda tidak sembrono berhubungan dengannya, selama Ryle dan Dida tidak bersama anda. Kita tidak bisa menduga apa yang dia pikirkan, dan tindakan yang akan dia buat. Selain itu, kunjungannya tanpa pemberitahuan terlebih dahulu sudah termasuk penghinaan.”

Dia benar. Lagipula, sama sekali tidak ada yang perlu dibicarakan lagi dengannya.

Kenapa juga aku harus mendengarkan kata-katanya, sedangkan dia tidak mendengarkan kata-kataku, disaat aku membutuhkannya.

“… Kamu benar. Terimakasih Tanya. Usir dia.”

“Tentu.”

* * *

Table of Content

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *