Duke’s Daughter Bab 96

Font Size :
Table of Content

Kesepakatan

Dan kemudian, setelah dengan hati-hati membolak-balikkan dokumen yang sudah disiapkan, dia menandatanganinya.

“…Diterima.”

Aku juga memeriksa dokumen-dokumen itu dan menerimanya. Setelah itu aku menyerahkannya pada Sei. Yang tersisa adalah menyerahkan salinan dokumen ini ke serikat dagang.

“…. Baiklah kalau begitu, Vuld-sama. Kami mohon pamit. Waktu sangat berharga, bagaimanapun juga. Bagi saya, dan bagi anda juga.”

“Oh astaga, tidakkah anda terlalu terburu-buru? Yah.. anda adalah seorang presiden perusahaan jadi saya kira anda akan sibuk mulai sekarang, sedangkan saya seorang pengangguran. Banyak waktu luang yang saya punya.”

Dia masih tertawa saat mengatakan itu.

Menanggapinya, aku membuat ekspresi bingung dan menjawab.

“Oh?…. Tapi saya pikir anda akan lebih sibuk dari saya. Bagaimanapun juga, seseorang yang kehilangan pekerjaannya harus mencari pekerjaan lain.”

“Saya kira itu tidak perlu, tidakkah anda tahu?”

“Ah, saya paham….. Apa anda sudah selesai mengemasi barang-barang anda?”

Kataku sambil mencibir.

“Itu juga tidak perlu. Dari sejak saya menandatangani dokumen itu, sudah diputuskan bahwa perusahaan akan ditutup. Karena perusahaan ditutup dan anda yang akan membayar hutang-hutangnya, semua tanah dan bangunan yang dimiliki perusahaan ini akan diserahkan pada saya, secara pribadi. Jadi saya tidak melihat adanya alasan untuk berkemas.”

Katanya sambil tersenyum, memberikan tekanan pada penjelasannya.

“… Apa maksud anda? Saya cukup yakin bahwa dokumen yang baru saja anda tandatangani menjelaskan anda akan meninggalkan perusahaan… tidak ada satupun yang menjelaskan bahwa perusahaannya akan ditutup.”

Menanggapi penjelasannya, aku berakhir menjawab dengan suara yang lebih rendah dari sebelumnya.

“Yah terserah… Kertas yang kutanda tangani menjelaskan aku akan meninggalkan perusahaan tapi aku tidak menyentuh izin usahanya sama sekali. Aku tidak berencana menyerahkan izin itu ke siapapun jadi pada akhirnya perusahaan itu akan ditutup, dan itu pasti.”

Mendengar itu, bahuku merosot. Dia mungkin melihatnya karena matanya bersinar dengan superioritas.

Ah, aku sudah tidak bisa menahannya lagi.

Tidak mampu lagi menahan tawa, aku cepat-cepat menutupi mulutku dengan kipasku.

“…. Apa ada sesuatu yang lucu?”

Dia bertanya bahkan tanpa menyembunyikan ketidaksenangannya.

“Terimakasih karena sudah menjelaskan. Akan tetapi… Tidakkah anda pikir anda terlalu kurang ajar?”

“Apa yang anda maksud?”

“Apa maksud saya….? Yah, lagipula, perusahaan ini sebenarnya bukanlah ‘kepemilikan pribadimu’, anda tahu?”

Kuakui cukup sulit menjelaskannya selagi aku berusaha menahan tawa.

“Sepuluh tahun lalu… setelah presiden dan istrinya waktu itu meninggal karena kecelakaan, anda mengambil alih perusahaan. Mengambil keuntungan karena anak-anak mereka yang belum cukup usia, anda memperkuat pijakan anda di perusahaan ini dan mendapatkan kekuatan… Setelah itu anda menyingkirkan putra-putra mereka dan semua pejabat yang berpihak pada mereka. Apa saya salah?”

Mendengar pertanyaanku, dia melihatku dengan keterkejutan.

“B-bagaimana kau…?”

“Bagaimana…? Sangat mudah mencari tahunya jika kita memeriksa ke serikat dagang.”

“Tetapi, itu sama sekali tidak berguna jika orang yang bersangkutan itu tidak terdaftar.”

“Fufufu. Sudah saya katakan sebelumnya, bukan? Saya mempunyai banyak telinga di mana-mana. Saya sudah menemukan lokasinya dan membicarakan ini dengannya. Dia bilang bersedia mewarisi perusahaan ini dan sudah memperbaharui izin usahanya beberapa saat lalu. Sisanya tinggal membuatmu mengundurkan diri dan otomatis perusahaan ini akan menjadi miliknya”

“Kuugghhh…!”

“Sayang sekali buatmu. Kau pikir jika perusahaan ditutup, semuanya akan menjadi milikmu.”

Wajahnya yang semula merah sekarang berubah pucat. Seluruh tubuhnya gemetar.

“Jangan main-main denganku…”

Dia mengatakan itu seperti berbisik. Bagaimanapun juga, karena suaranya begitu rendah, aku tidak bisa paham.

“… Kau jangan main-main denganku!!! Memangnya, apa hakmu….!!!”

Karena dia semakin panas, kata-katanya mulai terdengar keras lagi.

Dan sesaat kemudian, dia mulai berteriak. Kemungkinan sampai terdengar ke luar ruangan juga. Penasaran apa yang terjadi, orang-orang mulai berdatangan memeriksanya.

Namun, dia kemungkinan tidak memperhatikannya karena keadaan mentalnya saat ini tidak cukup baik untuk memperdulikan hal semacam itu, tatapannya diarahkan pada Sei.

Dan kemudian, dia menerjangnya untuk merebut dokumen itu.

Orang yang menghentikannya adalah Tanya, yang bersembunyi di balik kegelapan.

“Guuh . . !”

“Cukup sampai disini, Vuld Rankam.”

Muncul dari kerumunan, seorang pria datang menghampiri. Melihatnya, mata Vuld terbelalak lebar.

“Kenapa…Karim disini…”

“Kau tidak menyembunyikannya lagi, ya, Vuld-san? Aku terkejut kau masih mengingat namaku bahkan setelah sepuluh tahun. Apa aku segitu miripnya dengan ayahku?”

Menanggapi respon keterkejutannya, Karim menjawab seolah dia menikmati ini.

“……Ah…”

Buah dari keterkejutan itu, Vuld menatap Karim terpaku.

“Sepuluh tahun lalu, setelah kehilangan kedua orang tuaku, kau punya keberanian dengan mengatakan ‘serahkan semuanya padaku’ dan mengusirku dari rumahku sendiri. Berkat itu, selama sepuluh tahun ini aku mempunyai kehidupan yang sulit di luar sana.”

Dia tersenyum tapi matanya jelas tidak senang. Sebenarnya, atmosfir di sekitarnya memberikan perasaan seolah ia akan meludahkan kata-kata hinaan kapanpun.

“…Karim.”

Saat aku memanggil namanya untuk memastikan bahwa dirinya masih memiliki kontrol, dia tersenyum padaku, menunjukkan bahwa dia tahu dan memejamkan matanya sesaat.

“Ada banyak hal yang ingin kukatakan tapi… kau tahu, setelah kau akhirnya tepat di depanku, aku akan berusaha menahan diri.”

Mengatakan itu, dia membuka matanya sekali lagi.

“Aku sudah membuat laporannya, aku, Karim Douma, putra dari presiden sebelumnya, akan mewarisi perusahaan. Karena aku sudah dewasa sekarang, semenjak kau menandatangani dokumennitu, aku menjadi kepala perusahaan ini.”

Mengatakan itu, dia melihat sekitar.

Semua wajah mengungkapkan bahwa mereka tidak mengerti apa yang sedang terjadi, dia kemudian mengangkat izin usaha yang didapat dari serikat dagang.

“Dan, sebagai kepala perusahaan ini, aku sekarang secara resmi mengumumkan bahwa kami akan menjalin kerjasama dengan Azuta Conglomerate. Aku tidak menerima keberatan apapun.”

Karim mengumumkan. Sepertinya dia ahli di bidang ini, kecakapannya bisa terlihat.

“… Aku minta maaf tapi bisakah seseorang mengusir orang ini dari sini? Aku tidak bisa membiarkan dia melukai rekan bisnis pentingku. Selain itu, orang ini tidak mempunyai ikatan dengan perusahaan ini lagi.”

Tanya mengangguk atas permintaannya dan menyeret Vuld keluar. Karena Vuld masih dalam keadaan linglung, tidak sama sekali tidak melawan.

“…Ah, benar juga. Vuld-sama.”

Saat aku memanggil namanya, Tanya yang menyeretnya keluar berhenti.

“Bantuan keuangan semenjak awal dimaksudkan untuk perusahaan. Jadi jumlah uang yang anda minta semenjak awal adalah untuk perusahaan… Pada dokumen yang anda tanda tangani barusan, sangat jelas tertulis demikian. Jadi tolong bayar hutang anda sendiri dengan uang anda.”

Kataku dengan senyuman.

* * *

Table of Content

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *