Duke’s Daughter Bab 100

Font Size :
Table of Content

“Jadi, guru, kenapa kami harus ikut juga?”

Cukup aneh, Ryle sama sekali tidak terganggu dengan sikapku.

Bagiamanapun juga, aku selalu diurus oleh Putri, tidak ada apapun yang menuntut bahwa putri harus hadir, dan Tanya juga selalu berada disisinya. Jadi harusnya tidak ada masalah.

“Haha, jangan bilang begitu. Aku juga ingin meninggalkan ibukota berisik ini secepat mungkin, dan pulang ke tanah kita untuk bersantai!”

Guru saat ini seorang Jendral.

Tapi itu juga peran yang memiliki makna sebagai pahlawan dalam reputasi dan tugas-tugasnya.

Awalnya, Guru harusnya sudah pensiun beberapa tahun lalu jika dilihat dari umur… hanya saja belum ada yang muncul yang lebih kuat dari dia.

Seiring usianya yang bertambah, kekuatan Guru semakin menurun, tapi pada saat yang sama tekniknya telah meningkat melalui latihan.

Bahkan sekarang dalam kondisi terlemahnya, dia masih sebanding dengan Ryle. Sepertinya kami tidak bisa memperlakukannya seperti orang tua kebanyakan.

Bagaimanapun juga, tidak lebih dari lima orang diantara seksi militer dan knight yang benar-benar bisa bersaing dalam pertarungan melawan Ryle.

Boleh saja menyebut bahwa kekuatan Guru telah menurun, tapi bukan berarti juga kekuatannya secara keseluruhan telah hilang.

Btw, kesampingkan masalah itu sejenak.

Saat ini, pekerjaan Guru terdiri dari hampir tidak ada tugas-tugas nyata. Bagaimanapun juga, tidak ada perang skala besar yang terjadi beberapa tahun terakhir.

Saat ini, pekerjaannya hanya mengkoordinir hubungan antara militer dan knight, dan melatih orang-orang baru.

Jadi meskipun dia memegang gelar Jenderal, dia terbilang cukup senggang dalam kesehariannya.

Normalnya dia akan berada di wilayahnya sendiri. Beberapa waktu lalu ia mengunjugi wilayah Duke Armelia juga. Meskipun terkadang ia akan pergi ke perbatasan untuk memeriksa keadaan, kemungkinan besar itu hanya untuk memuaskan hasratnya untuk jalan-jalan.

Singkatnya, seharusnya dia tidak berada di ibukota selama itu.

Dia sendiri pernah bilang bahwa dia membenci semua peraturan rumit dan regulasi.

Tapi saat ini Guru selalu bepergian di sekitar ibukota, dan sering keluar masuk istana.

Satu-satunya alasan yang bisa kupikirkan adalah proposal yang meminta untuk “pembubaran militer.”

“Guru, apa ada pergerakan dari atas?”

“Um, tidak ada saat ini. Tapi jika kita tidak disini, aku tidak tahu apa yang akan terjadi.”

Dia menjawab dengan ekspresi pahit.

Keberadaannya adalah sesuatu yang berbagai Penguasa dan para pejabat tidak bisa abaikan.

Bagaimanapun juga, dia memiliki rekam jejak seorang pahlawan, dan sangat populer diantara orang-orang biasa.

Selama Guru tetap ada, dia bisa mengerahkan tekanan ke semua sisi.

Itulah kenapa dia secara berkala sering mengunjungi istana baru-baru ini, untuk melihat apakah ada sebuah perubahan yang akan terjadi tidak lama nanti.

“Aku tidak memulai perang karena aku suka bertarung, tapi aku juga tidak bodoh seperti mereka. Tanpa perlindungan militer, siapa yang akan mempertahankan negara? Bahkan Edward-sama sepertinya belum menyadarinya sama sekali… para bangsawan naif yang menyetujui proposal di pertemuan itu berpikir, bahkan jika negara runtuh, mereka masih bisa menghindari kekacauan dengan tetap tinggal di wilayah mereka sendiri. Dengan begitu, mereka mengabaikan bahaya kehancuran.”

“Nyonya muda sudah mengambil tanggung jawab untuk perang, Guru.”

“Begitukah?”

Mananggapi perkataanku, Guru tertawa kecil.

“Aku orang tua renta yang hanya bisa memberikan sedikit dorongan ketika dibutuhkan. Jika aku mengkhawatirkan ketetapan hati anak itu, maka aku benar-benar harus bekerja keras.”

“Begitu, jika itu untuk nyonya muda maka tidak ada pilihan lain.”

“Apa yang kau katakan? Jaringan sosialmu tidak cukup luas untuk mendesak tekanan politik. Aku membiarkan kalian tinggal disini supaya aku bisa meluapkan semua kemarahanku pada kalian.”

“Emm Guru, aku tiba-tiba merasa kehilangan motivasi.”

“Hey, Dida. Selama kau bisa berguna bagi Putri di akhir, kita harus melakukan semua yang kita bisa. Tentu saja, melindungi dia adalah prioritas utama kita.”

Tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Jika memang seperti itu, aku hanya bisa menemani Ryle dan tetap berjuang bersama Guru.

* * *

Table of Content

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *