Bab 5 – Keberangkatan / Peluang Pertemuan (bagian 1)

Font Size :
Table of Content

Saat fajar ketika aku bangun tidur, aku dengan segera mulai memanggang daging sisa kemarin. Setelah selesai, aku mencabik-cabik tanaman herbal dan menaburkan di atasnya lalu membungkusnya dengan daun-daun sayuran. Aku kemudian memasukkan potongan-potongan jadi itu ke dalam pembungkus makanan sementara yang terbuat dari daun. Dengan begini, bekal makananku sudah jadi.

Tas yang kubawa berisi prosesor module, seragam militerku, dan pakaian kerja, ransum-ransum yang tersisa, 3 botol air mineral dan satu pack tablet material langka.

Aku menggendong tas itu di punggungku, membelitkan selimut di masing-masing lenganku, meletakan senapan laser di sarungnya dan mengaitkan pistol di bahuku.

Dengan peralatan lengkap, aku berjalan menjauhi area tepi danau menuju sungai.

(Tolong beri tanda jika menemukan umbi mirip kentang di sekitar sini.)

Ini cara tercepat untuk menemukan umbi mirip kentang yang tumbuh di area sekitar karena tanaman-tanaman itu akan menyala merah secara otomatis dalam pandanganku.

Aku berhasil menemukan beberapa saat itu juga. Aku mencabutnya dan memasukannya ke dalam saku samping ranselku. Saku itu langsung penuh dengan umbi-umbi mirip kentang, jadi aku berhenti mengumpulkannya lagi. Masih ada perjalanan di depan, jadi aku tidak bisa terlalu menghabiskan banyak waktu dengan melakukan ini.

Aku berhasil mencapai sungai besar itu dalam dua jam. Aku sangat takut mandi di anak sungai dekat danau besar itu karena mahluk misterius itu, jadi ayo cari tempat dimana airnya tidak terlalu dalam.

Setelah 30 menit berjalan menyusuri tepi sungai, aku akhirnya berhasil menemukan tempat dengan pemandangan sekeliling yang jelas dan bagus serta kedalamannya cocok.

Airnya cukup dalam untuk membenamkan seluruh tubuhku, namun dasar sungainya masih kelihatan dan sepertinya tidak ada organisme misterius yang berdiam di dalamnya. Aku masih menyalakan kewaspadaan, namun melihat tidak ada ancaman yang berarti, jorlah kita mandi!!

Uh~yaa!! Dingin! Namun itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan sukacita bisa membasuh seluruh tubuhku yang tidak mandi selama tiga hari.

Sayang sekali aku tidak punya sabun mandi ataupun shampo, namum ini masih menyegarkan.

Fu~u, ini hebat. Aku menyingkirkan pakaian yang habis dicuci setelah meremasnya sampai kering dan mengambil yang baru dari tasku. Sedikit mengkerut memang, tapi apa boleh buat

Aku mulai berjalan sekali lagi setelah mengisi botol air mineral dengan air sungai.

Kemudian, setelah menyusuri tepi danau selama sekitar sejam, aku mendengar suara meyembur samar-samar. Aku bergegas menuju arah suara itu dan mendapati air terjun dari kejauhan. Ketinggiannya sepertinya lebih dari 30 meter.

Aku hanya pernah melihat air terjun dalam holobit sebelumnya, jadi cukup mengejutkan bagiku bisa menyaksikannya secara langsung.

Tapi ini sedikit bermasalah. Aku tidak bisa mencapai tempat itu karena tidak jalan yang mengarah kesana. Setelah mencari beberapa saat, aku berhasil menemukan sesuatu yang mirip dengan jalur hewan.

Jalur itu mengarah menjauhi sungai, tapi aku tidak punya pilihan lain. Tidak ada waktu untuk mencari jalur lain, dan kelihatannya juga bukan masalah karena jalan itu mengarah ke hilir.

Aku sudah berjalan selama berjam-jam, jadi aku sedikit lapar. Aku putuskan memakan bekalku.

Mm. Daging bungkusnya masih enak meskipun dingin! Sekarang sudah tengah hari huh.

Setelah mengetahui jumlah waktu planet ini, aku bisa menentukan jam sekarang dalam jendela virtual.

Setelah menghabiskan bekalku, aku melanjutkan perjalanan. Dan tepat saat aku memikirkan mencari tempat yang bagus untuk tidur selagi hari masih terang, tiba-tiba aku mendapati diriku melihat area terbuka yang dibersihkan.

Aku bergegas ke sana untuk memeriksanya. Kupikir entah kenapa aku punya perasaan bahwa area itu sengaja dibersihkan, dan ketika aku melihatnya dari dekat, benar saja, kecurigaanku terbukti.

Ini memang jalan yang sengaja dibuat!

Ada jejak-jejak roda yang pernah melewatinya. Jalanan ini dibuat dengan memangkas tepi gunung dan kelihatannya memiliki lebar lima meter.

Aku menyiapkan senapanku dan segara mengawasi daerah sekitar.

Kelihatannya untuk sementara ini tidak ada masalah.

Tapi ini benar-benar mengejutkan. Apakah mahluk-mahluk hijau itu yang membuat ini? Tidak, mereka tentunya tidak cukup cerdas untuk membuat sesuatu pada tingkat ini.

Ketika aku melihatnya dari dekat, aku mendapati beberapa jejak kaki mirip kuda yang membawa gerbong transportasi, ada bekas rodanya juga. Apakah ada kuda di planet ini? Apapun itu, yang jelas ini jejak hewan pengangkut.

Apakah ini kereta kuda yang selalu muncul dalam kisah-kisah? Ada banyak jejak kaki kuda tersebar dimana-mana. Mungkin kereta itu ditarik oleh banyak kuda atau semacamnya?

Jejak kaki itu kebetulan mengarah ke tempat tujuanku. Jejak rodanya cukup dalam, jadi sepertinya itu kereta yang cukup besar.

Aku coba mengikuti jejak itu. Ini adalah petunjuk pertama yang kudapatkan mengenai kemungkinan keberadaan kehidupan cerdas. Kesempatan seperti ini belum tentu muncul di lain waktu.

Jejaknya terlihat baru. Kemungkinan tercipta paling lama dua hari lalu. Baiklah, saatnya untuk serius!

(Mode Berlari Jarak Jauh)

[Dipahami]

Kemudian aku mulai berlari mengejar kereta itu.

Manusia bernafas dengan menghirup oksigen dan mengeluarkan karbondioksida dari tubuhnya.

Dalam ‘Mode Berlari Jarak Jauh’, nanom memperkuat sel-sel paru-paru agar memaksimalkan efisiensi proses pernapasan dan juga meningkatkan kapasitas penyaluran oksigen secara maksimal dalam darah. Dengan kata lain, ini memungkinkanku untuk lari secara terus-menerus tanpa kelelahan.

Ini memungkinkan tubuh untuk terus berlari dalam kecepatan konstan dalam waktu yang lama, namun ini tidak bisa dipakai terlalu sering karena memberikan terlalu banyak ketegangan dalam tubuh.

Aku sudah berlari cukup lama saat ini. Seratus kilometer seharusnya sudah kulewati. Aku sudah berlari dalam kecepatan konstan sedari tadi namum belum juga melihat kereta itu.

Sekarang hampir malam jadi mungkin sudah waktunya untuk menyerah mengejar mereka hari ini. Namun tiba-tiba, pendengaranku yang sudah ditingkatkan mendengar suara perkelahian daru jarak jauh. Jalanan ini berkelok-kelok di sekitar kaki gunung, jadi aku tidak bisa melihat apapun.

Aku berhenti berlari dan dengan hati-hati mendekat.

Aku berhasil memastikan sumber suara setelah bergerak melewati jalanan yang sangat bengkok ke samping. Jaraknya sekitar seratus lima puluh meter ke depan.

Kereta itu sudah ambruk ke tanah, dan dua makhluk humanoid sedang diserang oleh mahluk mirip serigala besar berjumlah lebih dari lima puluh.

Aku segera men-zoom pandanganku.

“Itu–!!!”..

Yang nampak di depanku adalah bentuk kehidupan yang tidak ada bedanya dengan manusia kebanyakan. Mereka adalah pria dan wanita; masing-masing memegang sebuah pedang. Mereka sedang bertarung selagi melindungi satu-sama lain dengan kereta di belakang mereka.

Sejumlah orang dan kuda terkapar di tanah di sekitar mereka.

“Sialan!”

Sesaat aku mencoba menarik senapanku, dua ekor serigala secara berbarengan menyerang pasangan itu.

(Aku akan menyelamatkan mereka. Aku serahkan padamu.)

[Dipahami.]

Nanom langsung menanggapi.

Setelah tanggapan cepat mereka, aku segera menarik pelatuk.

Peluru laser meledak dari selongsong senapan. Tembakannya menyebar supaya tidak mengenai manusia. Semua serigala langsung terkapar. Namun, dua manusia itu sudah dalam keadaan ambruk.

Sialan! Aku mulai berlari ke arah mereka dengan kakiku yang sudah diperkuat berkat nanom.

Aku melihat betapa parahnya mereka ketika mendekat. Semuanya berjumlah sepuluh orang. Delapan pria dan dua wanita. Masing-masing dari mereka mengenakan zirah mirip abad pertengahan.

Selain dari mereka berdua yang bertarung sampai ambruk sebelumnya, semuanya mati dalam keadaan leher yang terkoyaj. Aku cepat-cepat lergi kearah mereka berdua yang sudah sepenuhnya ambruk.

Si pria paruh baya masih bernafas, namun lehernya juga sepertinya terkoyak. Darah dalam jumlah besar memancar dari luka-lukanya. Sepertinya dia sudah tidak tertolong lagi.

Leher si wanita muda tidak tergigit, namun tangan kanannya terkoyak dari siku ke bawah dan kaki kanannya dari atas pergelangan kaki juga menghilang. Dia bersimbah darah dan kehilangan kesadaran.

Pria paruh baya itu bersandar ke kereta. Kemudian, mata kami bertemu.

Pria itu terus menatapku beberapa saat, berbalik ke arah si wanita dan sekali lagi menatapku.

Saat aku mengangguk mengenali permintaan tersiratnya untuk menjaga wanita muda itu, dia perlahan menutup matanya dan berhenti bernafas.

Table of Content