Chapter 1 – Knight yang Tidak Naik Kelas (part 3)

Posted by admin release on May 11th, 2020

“Seperti yang kubilang terakhir kali, hari ini kalian harus menyelinap kedalam labirin bawah tanah dan mengalahkan monster yang berada di sana. Jika kalian masih setengah hati, kalian akan menemui nasib yang menyedihkan. Berkumpul dengan tim kalian dan ikuti aku.”

Instruktur Paretto memberikan instruksi, dan para siswa mengikutinya dengan ekspresi tegang.

Di tengah basemen terdapat tangga yang mengarah ke bawah labirin bawah tanah.

Awalnya, sisa-sisa peradaban kuno -Yureshia- ditemukan saat pembangunan akademi ini. Ketika investigasi dimulai, sekelompok monster sudah tinggal disini.

“Meskipun resiko di dalam labirin ini rendah, tapi sulit diprediksi apa apa yang akan terjadi. Jangan sampai lengah!”

Instruktur Paretto dengan tegas mengingatkan ke para siswa.

Di dalam tempat itu sangat gelap, lebih tepat menyebutkannya goa ketimbang labirin. Suara langkah-langkah kaki bisa terdengar saat rombongan itu berjalan dalam kegelapan.

Akhirnya, mereka sampai di area yang lebih terbuka.

“Area pelatihannya di sini. Setiap kali monster muncul, masing-masing grup akan melawannya satu persatu. Sekarang dimulai dari unit ke-26!”

Pelatihan tempur ini berjalan dengan lancar.

Meskipun sekelompok monster telah muncul, seperti yang diharapkan dari siswa-siswi yang lulus seleksi masuk, dua grup pertama berhasil mengalahkan monster-monster itu tanpa kesulitan. Dan sekarang adalah giliran unit ke-28 yang sedang bertarung.

Semua orang dengan ekspresi serius menyaksikan pertarungan itu.

Semuanya kecuali unit ke-29.

“Maron, bangunkan aku jika sudah giliran kita.”

“S-senpai….kau tidak boleh tidur di tempat seperti ini…”

“Maron, lupakan lelaki itu. Kemarilah dan buat bahtera cinta kita bersama-sama….”

“Em~~ Mina sedikit lapar…..”

“Bekas pukulan Nee-san masih terasa sakit…. Namun rasa sakit ini mengingatkanku akan saat-saat bahagia itu. Hahahaha”

Di waktu inilah suara Intruktur Paretto terdengar.

“Hey! Unit ke-29. Bersiaplah!’

Grup lain sepertinya berhasil menyelesaikan pelatihan mereka. Huntis dan yang lainnya bersiap.

“A-aku gugup….”

Tubuh Maron kaku karena gugup, sama ketika ia berusaha berjalan, ekspresi yang dia tampilkan juga nampak tidak nyaman.

“Jangan gugup Maron. Santai saja.”

“Ya santai saja. Dan kau akan menjadi makanan monster.”

Menanggapi saran Huntis, Shisurine berkomentar hal-hal menyeramkan.

“….. Tak apa, Maron. Aku akan melindungimu.”

“Shisu-chan….”

Maron meletakkan tangannya di dada, menatap Shisurine yang telah memberinya kepercayaan diri.

“… Sebaliknya, kau juga harus melindungiku sampai kau mati 馃槇.”

“Shisu-chan?”

Kata Shisurine dengan tatapan dan nada meyeramkan. Membuat ekspresi Maron ketakutan.

Di sisi lain, Dank dengan arogan mengayun-ayunkan pedangnya.

“Tidak peduli monster macam apa kalian, sini maju semuanya! Aku akan mengalahkan kalian sekaligus!!”

“Sakit bangsat!!!”

Dia tiba-tiba berteriak. Sepertinya ia secara tidak sengaja mengenai betisnya.

“Ugh~~ sepertinya ini patah~~~ tapi selama Nee-san dengan lembut menyentuhnya dan berkata “Rasa sakit, menghilanglaah~~鉂わ笍鉂わ笍” itu pasti segera sembuh.

“Hanya karena itu kau sampai patah tulang, idiot. Aku cuma akan meludahimu dan menyuruhmu tetap maju.”

Instruktur Paretto dengan santai menolak. Namun dia tidak menyerah dengan mudah.

“Tolong ludahi aku, Nee-san….”

“Kalau kau sampai segitunya ingin diludahi, maka Mina akan dengan senang hati membantu. Cuih* Cuih* Cuih*.

“Uwaa, apa yang kau lakukan? Jangan mengarahkan ke wajahku!”

“Nyaaahaha~, kau terlihat lebih baik!”

“Cukup becandanya bodoh! Lihat, monster datang!”

Tepat ketika Instruktur Paretto berteriak, beberapa bayangan muncul dari kegelapan.

Mereka adalah kelelawar.

Panjangnya tidak lebih dari 30 sentimeter, itu adalah monster kecil. Meskipun gerakan mereka cepat, tapi selama kau tetap tenang, bahkan tanpa menggunakan Heraldic Art sekalipun kau bisa menang. Meskipun jika kau sampai tergigit, kau akan merasakan sedikit sakit, karena gigi-gigi mereka yang kecil, namun itu tidak menyebabkan luka serius.

Huntis adalah kapten kelompok ini, jadi dia harus membuat rencana.

“Tujuan kita adalah mengalahkan semua monster.”

“Sangat biasa! Tapi dari awal aku tidak mengharapkan apapun darimu sih.”

Meskipun Dank secara terang-terangan menghinanya, dia masih maju ke garis depan.

Namun yang lain tidak mengikutinya.

“Tunggu, kenapa kalian tidak maju?” Dank terkejut.

“Aku adalah kapten, orang penting sepertiku harus tetap di belakang.” Kata Huntis.

“Tugasku hanya melindungi Maron.” Kata Shisurine menimpali.

“Uwooo!!”

Lima kelelawar mulai menyerang Dank.

“Tunggu, aku belum siap! Kubilang tunggu!”

Dank dengan mati-matian berteriak, namun tentu saja monster-monster itu tidak berhenti. Mereka terus menggigit, jadi dia melarikan diri.

“Apa kalian pengecut? Lima melawan satu!? Apa kalian pikir itu adil?”

“Mina akan membantu, nyaaan~~”

Yang membantu Dank hanya Mina. Dia kedua tangannya dia mempunyai sepasang sarung tinju besi, percikan listrik biru dan putih meyebar dari sarung tinju itu.

Ini adalah pengaplikasian Heraldic Art yang bernama “Armanent.” Mengubah spirit menjadi senjata yang membungkus tangan, tipe teknik seperti ini sangat sulit dilakukan.

Tergantung kepada level kemahiran pengguna, kekuatannya bisa mencapai tingkat luar biasa.

….. Hanya jika serangan itu mengenai musuh, sih.

“Uryaaaaaa!”

Dia berteriak, tapi akibatnya para monster bergerak dengan cepat.. Jadi serangan itu hanya mengenai udara.

“Doryaaaaa! Doryaaaaa! Doryaaaa!”

Dia berteriak setiap kali dia meninju. Rutinitasnya adalah: Meninju, berteriak. Mereka menghindar. Meninju, berteriak. Mereka menghindar. Meninju, berteriak. Mereka menghindar.

“Mina Miklan, jangan berteriak tiap kali kau menyerang!”

Instruktur Paretto memberinya saran, tapi….

“Ini membuatku lebih nyaman ketika berteriak! Selain itu ini tampak keren!”

“Kalau begitu serang musuhnya!”

“Ah, ah, ah… Aku, apa yang harus kulakukan..?”

Selagi Mina dan Instruktur Paretto berbincang, Maron panik ketakutan.

“Maron Mamado! Jangan khawatir, tenanglah!”

“Kyaaa..!”

Salah satu kelelawar yang mengejar Dank secara tiba-tiba mengubah targetnya dan menyerang Maron. Untungnya, dia segera berjongkok dan kelelawar itu hanya lewat di atas kepalanya.

Rona kemarahan tiba-tiba muncul di mata Shisurine.

“Bajingan! Akan kuberi kau kematian yang menyakitkan!”

Menanggapi perapalan mantranya, udara berubah menjadi berwarna perak.

Spirit es yang dipanggil dengan Heraldic Art menunjukan kekuatannya.

Itu adalah Heraldic Art level ke-dua [Freezing].

Udara dingin menyebar ke seluruh area. Kelelawar itu langsung membeku dan jatuh ke tanah.

“Kau kelelawar yang jelek dan kotor, beraninya kau menyerang Maron-ku yang sangat imut!”

Shisurine tidak segera membunuh kelelawar itu. Dia menginjak-injak kelelawar itu dengan kejam. Lalu merapalkan Heraldic Art untuk memanggil pedang dan menggunakannya untuk melubangi sayap kelelawar itu.

“Kii~ Kii~ Ki~~ ” Monster itu mengerang kesakitan.

“Fu, fu, fu. Rasakan itu! Aku akan menyiksamu perlahan-lahan sampai kau mati!” Dia tertawa seperti orang gila.

“Apa yang kau lakukan, Shisurine Shirubelsto”

Kelakuannya itu terlampau aneh, bahkan Instruktur Paretto terkejut.

Pada saat itu, tawa meledak dari siswa-siswa di sekitarnya.

“Uh, apa ini?… Bau pesing! Ini air kencing!”

Tampaknya Dank basah kuyup oleh air kencing kelelawar.

“Kegelapan datanglah! Renggut visi dan harapannya!”

Dank merapalkan mantra, Heraldic Spirit Kegelapan menunjukan kekuatannya.

Akibatnya, kabut gelap muncul di udara.

Visi semua orang berubah menjadi gelap. Ini adalah Heraldic Art level pertama, [Blackout].

Akan tetapi…

“Sakit! Apa yang terjadi pada kelelawar-kelelawar ini? Mengapa kalian masih bisa melihatku!? Apa kalian monster super?”

“Dank! [Blackout] tidak bekerja pada kelelawar!”

“Benarkah! Aku baru, tahu, ugh…. Sialan!”

Dank digigit oleh sekawanan kelelawar dan berteriak kesakitan.

“Dank-san…!”

Maron hendak membantu Dank.

“Uhm, pedang…. pedang angin yang tajam, belah segalanya!”

Heraldic Art tingkat kedua dari elemen angin [Wind Blade]. Maron dengan panik merapalkan mantranya.

Namun angin yang ia panggil tidak mengenai sekawanan kelelawar itu, namun mencukur semua rambut Dank.

Ledakan tawa lebih keras dari sebelumnya.

“Rambut gaya militerku, arghh…..!”

“Nyahahaha, botak, botak! Itu lebih cocok untukmu!”

Dank berteriak putus asa, di sisi lain Mina bertepuk tangan sambil mengejeknya.

“A-apa yang kau lakukan?!”

“M-maaf!”

Maron tampak murung, Dank yang marah terus memegangi kepalanya.

Tiba-tiba teriakan bergema ke seluruh tempat.

“Sudah cukup!”

Instruktur Paretto berteriak dengan suara nyaring. Dia mengayunkan tombaknya dan semua kelelawar segera jatuh ke tanah. Semua orang yang melihat Instruktur, mereka bisa tahu bahwa dia sangat berang.

“Unit ke-29!”

Dia memusnahkan semua monster di tempat itu. Labirin bergema setiap kali dia berteriak.

“Sudah cukup!! Kurang ajar, pergi bergabung dengan yang lain!”

Ekspresi Instruktur Paretto sangat galak, Unit ke-29 dengan cepat mematuhi instruksinya.

…..

“Ini pertama kalinya aku melihat pelatihan sekacau ini. Ini bukan tempat untuk pelawak!”

Setelah kelas berakhir, unit ke-29 masih berada di gedung latihan. Instruktur Paretto memarahi mereka dengan keras. Urat bisa terlihat di wajah cantiknya.

“Hehehe, kami tidak sehebat itu kok~~”

“Ini bukan pujian, Mina Miklan. Hilangkan sifat konyolmu, jangan lakukan gerakan sia-sia. Pelatihan bukankah permainan. Serius sedikit!”

Instruktur Paretto memarahi Mina dengan keras. Gadis itu menjatuhkan bahunya dengan frustasi setelah dimarahi.

Instruktur kemudian mengarahkan kemarahannya ke orang di sebelah Mina, Dank. Lalu merapalkan Heraldic Art [Life] untuk mengembalikan rambutnya.

“Dank Defrik!”

“Ya, Nee-san!”

Sebuah tinju mengenai rahang Dank dengan keras dengan kecepatan tinggi.

“Sudah kubilang jangan panggil aku Nee-san!”

Instruktur Paretto memelototinya dan menarik tinjunya.

“Menyerang secara berkelompok itu pengecut? Pertarungan yang adil? Konsep semacam itu tidak ada di dalam otak monster. Dan juga kau menggunakan [Blackout] pada kelelawar, itu perbuatan yang sangat bodoh….. Hey, kenapa kau gemetaran?”

“Tolong terus marahi aku, Nee-san!”

Instruktur Paretto kemudian menendang perut Dank, ia pun terkapar di tanah.

Selanjutnya adalah gadis yang meringkuk sambil memegangi kepalanya.

“Maron Mamado. Kau selalu ketakutan dalam pertarungan. Untungnya musuh tidak begitu kuat. Jika kau hendak menggunakan Heraldic Art, pastikan lain kali kau tidak meyerang teman setimmu.”

“B-baik…”

Instruktur kemudian menatap gadis berambut perak.

“Shisurine Shirubelsto. Aya yang sebenarnya kau pikirkan? Kenapa kau menyiksa kelelawar itu?”

“Itu pembalasanku.”

Shisurine hanya membenarkan tindakannya. Jadi ini hanya memberi Instruktur Paretto sakit kepala.

“Jangan sampai perasaan pribadimu mempengaruhi tindakanmu, Shisurine Shirubelsto. Di medan perang, itu adalah tindakan tercela. Apa menurutmu kau bisa lebih baik lain kali?”

“Ya.”

“Sekarang, Huntis Harmillion!”

Huntis adalah yang terakhir. Instruktur Paretto mengubah nada bicaranya. Suaranya seolah menandakan dia sudah menyerahkan terhadap orang ini.

Huntis sudah mengenal Instruktur Paretto sejak setahun lalu. Dan juga sudah biasa mendengar tegurannya. Dia juga paham bahwa Instruktur Paretto selalu keras pada siswa. Oleh sebab itu, dia juga berniat menghadapinya seperti biasa

“… Kau, jika kau tidak mau melakukan ini, kenapa kau masih berada di Akademi?”

Akan tetapi, yang datang kali ini adalah suara rendah, menandakan betapa kecewanya dia. Kali ini, Huntis juga tidak tahu harus menjawab apa.

“Jika kau tidak mau barubah, kau boleh mengemasi barang-barangmu dan pulang ke kampung halamanmu.”

Kemudian, secara tidak terduga Instruktur Paretto mengatakan kalimat beracun.

“….”

Huntis hanya bisa diam.

“Aku selesai.”

Setelah mengatakan itu, Instruktur Paretto meninggalkan gedung pelatihan.