Chapter 1 – Knight yang Tidak Naik Kelas (part 4)

Posted by admin release on May 14th, 2020

“Instruktur sungguh tak masuk akal..”

Di pojok bangku Cafetaria, Huntis menyantap makan siangnya.

Dia dengan bosan memasukan tumis sayuran ke mulutnya.

“Ehh….S-senpai… ”

Tiba-tiba seseorang memanggilnya, menengadah, dia mendapati Maron. Dia membawa baki makanannya sendiri, secara kebetulan dia melihat Huntis, jadi dia bermaksud menemaninya.

Memahami niatnya, dengan sikap bosan, Huntis berkata.

“Kau tidak mau duduk?”

“T-terima kasih.”

Maron berterimakasih padanya dan dengan hati-hati duduk di depan Huntis.

Huntis melanjutkan makan siangnya dalam diam. Maron melihatnya dengan tatapan khawatir. Dia benar-benar sangat khawatir, karena Huntis tidak mengucapkan sepatah kata pun. Tapi ketika Huntis menengadah dan menatapnya, wajah Maron berubah merah, dia membuang mukanya dan mulai memakan makan siangnya.

“S-selamat makan.”

“Itu bukan garpu.”

“Huh….. Ini pisau?”

“Kau tidak bisa makan tumisan dengan pisau kan?”

“Auuu….”

Maron menundukan kepalanya, kuncir kembarnya bergerak-gerak.

“Maron, kau tidak salah. Kau bisa gunakan pisau itu untuk menusuk hewan di depanmu. Ayolah! Jangan ragu untuk menusuknya.

“Jangan mengatakan hal mengerikan seperti itu.”

Huntis menoleh ke arah sumber suara itu, kemudian mendapati Shisurine dengan tatapan bengis.

“Apa kau baik-baik saja Maron? Apa hewan ini melakukan sesuatu padamu?”

“Uh, um, belum…”

“Belum? Apa maksudmu aku hendak melakukan sesuatu padamu?”

“Bisa saja, mungkin kau meracuni makanannya tanpa sepengetahuannya.”

“Bisa kau diam?”

“M-maaf…”

“Aku tidak bicara padamu…”

Huntis mulai merasakan sakit kepala.

Waktu itu, seorang gadis berambut hitam lewat di sampingnya.

Huntis menatapnya seperti orang asing.

Di dalam hati dia mengejek dirinya sendiri.

(Aku benar-benar bodoh, jika dia disini pasti mereka juga kemari.)

“S-senpai….?”

“… Aku baik-baik saja.”

Maron menatap Huntis dengan penasaran, namun dia menjawab tidak peduli.

“Hey, kenapa Akademi ini menerima orang Yamatai?”

Sesaat setelah gadis berambut hitam itu lewat, kalimat kejam itu datang entah dari mana.

“Sial. Mengikuti kelas dengan budak membuatku tidak nyaman. Mereka tidak layak disebut sebagai Knight.”

Kata-kata itu berasal dari dua orang yang duduk di dekatnya. Gadis berambut hitam itu menggigit bibir bawahnya.

Diskriminasi terhadap bangsa Yamatai sudah menjadi hal lumrah di Akademi Knight ini, dengan sebagian besar siswanya adalah anak-anak bangsawan.

Karena pemberontakan besar-besaran para budak beberapa dekade lalu, kekaisaran saat ini melarang perbudakan.

Meki begitu, biarpun status budak saat ini sudah tidak ada, namun diskriminasi yang melekat pada mereka tidak bisa dihapuskan. Bangsa Yamatai, yang mempelopori pemberontakan ini, telah banyak membunuh bangsawan. Akibatnya, publik–terutama dari kalangan bangsawan–menunjukan diskriminasi yang kuat terhadap mereka.

Situasi serius ini juga terjadi di Akademi Kekaisaran. Untuk mengindari konflik, Akademi memperbolehkan bangsa Yamatai untuk mendaftar.

“Meskipun kau bangsawan, kau tidak pantas mengatakan itu…”

“Ah?”

“Hey, kau! Apa yang barusan kau katakan.”

Telinga kedua orang itu sangat tajam, mereka bisa mendengar gumaman Huntis dan segara melontarkan sikap permusuhan Selagi adanya.

“…Tidak, aku cuma bergumam sendiri.”

“Ah, senpai…..”

Selagi tidak menatap mereka berdua, Huntis berdiri dan meninggalkan Cafetaria dengan hanya menghabiskan setengah makan siangnya.