Bleach: We Do Knot Always Love You (chapter 3 part 4)

Font Size :
Table of Content

Setelah acara di Kuil kediaman Kuchiki selesai, acara selanjutnya adalah acara makan-makan di restoran favorit Renji, Daruma Bar. Tempatnya tidak jauh dari kediaman Kuchiki.

Berkaca dari acara sebelumna, kali ini Renji yang mengatur sendiri acara di restoran itu. Namun, seperti biasa Rangiku mengeluhkannya. “Coba saja yang ngatur acara ini Kuchiki, sudah pasti kita dapat restoran mewah kelas ryotei lagi~”

“Restoran mewah?! Apa maksudnya fukutaichou?!”

Daisanseki Juusanbantai—Kursi ke-3 Divisi Tiga belas. Kotsubaki Sentaro sedikit penasaran maksud Rangiku dan menanyakan pada Rukia.

“Yang gak tahu diam sajalah!” Celetuk Kiyone.

“Pergi kau sana, Wanita Gorila Ingusan—”

“Yay~ aku juga ada di sana~ hmmm makanan dan minumannya lezat-lezat waktu itu~” Kiyone memanas-manasi.

“Kok, aku gak diundang?”

“Itu pertemuan untuk mengumumkan pernikahanku pada teman-teman dekatku~ hanya mereka yang datang~”

“Fukutaichou~ anda pasti tak menyukaiku, ya?”

“Sudah pasti, mana mungkin Kuchiki-san suka sama Beruang Dekil macem dirimu!” Kiyone kembali nyeletuk.

“Bukan— bukan begitu! Kotsubaki-dono kan sudah tahu beritanya sebelum itu. Lagipula aku juga tidak tahu kalau acaranya di restoran itu…”

Orihime langsung memotret saat melihat Rukia yang Nampak kebingungan saat melerai mereka berdua.

“Jarang sekali melihat Kuchiki-san seperti itu! Hee..heee… imut sekali…”

“Kau cuma memotret Kuchiki saja? Aku juga mau, tahu….”

“Hah?! Aku juga mau memotretmu, Rangiku-san.”

Memang berniat untuk memamerkan kimono barunya, Rangiku berpose di depan Orihime. Rambut emasnya begitu cocok dengan kimono ungu bermotif bunga peoni.

“Ayo semuanya, para cewek foto bareng dengan Kuchiki.”

“Waaah, Ide bagus~”

Atas ide Isane, semua Shinigami perempuan mulai berkumpul mengelilingi Rukia.

“Taichou~ tolong ambilkan gambar, dong~”

“Hah?! Kok aku?!”

Walaupun mengeluh, Hitsugaya tetap mengambil kamera di Orihime dan mulai memotret beberapa gambar.

Saat para perempuan berkerumun untuk melihat hasil foto mereka, Kyoraku datang.

“Permisi~ maaf mengganggu kalian~”

“Soutaichou?! Anda datang juga?”

Bangkit dari tempat duduknya, Renji menyambut Kyoraku.

“Ya ampun~ sungguh pemandangan yang indah~” Mengabaikan Renji, Kyoraku justru tertarik memperhatikan para perempuan yang sedang mengenakan kimono. Rukia beranjak dari kerumunan para perempuan menghampiri Kyoraku.

“Terima kasih sudah sempat datang, Soutaichou.” Rukia membungkuk.

“Ah Rukia-chan, aku ada perlu denganmu.”

“Denganku?” Rukia memiringkan kepalanya. Kyoraku mengangguk dan menunjuk ke pintu masuk restoran.

“Ayo keluar sebentar. Abarai-kun, aku pinjam pengantinmu sebentar~”

“Eh? Iya silakan~”

Renji memandang kedua punggung Shinigami itu hingga keluar dari restoran, sedikit penasaran apa yang sedang mereka bicarakan.

Di depan Daruma Bar, terdapat sebuat kolam besar, di tepi kolam itu terdapat beberapa kursi yang bisa diduduki. Rukia duduk di sana seperti yang diminta oleh Kyoraku.

“Ini untukmu—”
Kyoraku duduk di sampungnya dan memberikan sebuah paket cukup besar yang dibungkus kain furoshiki.

“Apa ini?!”

“Buka saja—”

Dengan anggukan, Rukia membuka ikatannya.

“Ini—” Gumam Rukia terbata.

Sebuah angka 13 bertuliskan dengan huruf jepang terlihat oleh Rukia.

“—untukmu, dari Ukitake.”

Itu adalah Haori Juusanbantai Taichou.

“Dari… Ukitake Taichou?!”

“Sebelum Ukitake menggunakan Kamikake dia menyerahkannya padaku dan berkata, tolong jadikan Rukia sebagai taichou berikutnya di juusanbantai, aku membalasnya agar tidak mengatakan yang tida-tidak. Tapi dia justru tertawa dan berkata, tolong rahasiakan ini dari Kuchiki karena mungkin aku akan memintamu memberikan haori ini lagi—”

“—ah, lagi.” Pikir Kyoraku.

“Seperti itu…. Aku menjadi seorang taichou… itu begitu…” Rukia menggigit jarinya. Pikirannya membuat tubuhnya gemetar. Walaupun begitu, dia begitu senang karena Ukitake secara pribadi meninggalkan sesuatu seberharga ini untuknya.

“Haori ini… awalnya untuk Kaien-kun.”

“Eh?!” Mata Rukia melebar saat mendengar namanya.

“Yah—agaknya tidak masalah aku menceritakan ini padamu… Ukitake begitu mengharapkan Kaien-kun. Dia berencana untuk berhenti dan menyerahkan posisi taichou pada Kaien.”

Ukitake mengunjungi Hachibantai dan menceritakan rencananya itu pada Kyoraku.

“Ukitake mengatakan kalau dia punya pengetahuan tentang medis. Jadi dia berencana menjadi penasehat di Rumah Sakit Yonbantai”

Namun empat hari kemudia, Shiba Kaien terbunuh di depan Ukitake saat melawan hollow.

“Aku tidak tahu kalau dia sampai sejauh ini memesan Haori.”

Setelah kematian Kaien, haori itu tersimpan di sudut ruangan Ukitake hingga akhirnya dia memutuskan untuk menyesuaikan lagi dengan Rukia.

“Aku tidak memberikan ini padamu hingga hari ini, karena aku menunggu hatimu tumbuh.”

“Hatiku?!”

Kyoraku mengangguk.

“Kamu kuat. Jika melihat kemampuanmu, pada tingkatanmu itu sudah cukup untuk menjadi seorang taichou… tapi tidak dengan hatimu. Untuk memikul semua tanggung jawab dan memimping sebuah divisi, perlu hati yang kuat.”

“Aku mengerti—”

“Tapi—” Kyoraku berdiri, dengan tersenyum dia menatap Rukia. “Saat melihat anggota Juusanbantai yang hadir saat acara tadi. Dalam diri mereka, mereka sudah merasakan perasaanmu dan menganggap dirimua sebagai taichou. Hatimu sudah cukup kuat untuk memimpin mereka.”

“Semua orang berpikir aku begitu?!”

“Aku juga berpikir karen Ukitake yang selama ini memimpin mereka. Mereka selalu mendukung siapapun yang menjadi pemimpin mereka.”

“Ya—memang benar… mereka selalu membantu…”

Karena Rukia telah menjabat sebagai Taichou pengganti, pekerjaannya semakin menumpuk, terlepas juga dari Kiyone yang pindah ke Yonbantai. Tapi Kotsubaki telah memberitahunya jauh-jauh hari kalau di Juusanbantai punya cara tersendiri untuk mengurangi beban seorang taichou, seperti yang dilakukan pada jaman Ukitake.

“Semua orang bisa memberikan dukunga… dan kelihatannya mereka memang ini mendukungmu menjadi taichou—”

Rukia menatap Haori itu dengan tajam.

“Mendukung dan didukung—apa aku bisa menjadi taichou seperti itu?” Gumam Rukia dalam hati.

“Tidak apa-apa, kau tak perlu melakukannya sekarang. Aku akan menunggu keputusanmu. Tapi biar aku kasih tahu, kau sudah mampu untuk menjadi taichou. Ingat itu baik-baik—”

Rukia berdiri sambil mencengkram erat haori, dia membungkuk pada Kyoraku.

“Ups—aku hampir lupa… ini, selamat atas pernikahanmu—”

Kyoraku mengeluarkan amplop dari lengan bajunya dan menyerahkannya pada Rukia. Amplop itu cukup tebal, berisi uang kertas yang cukup tebal.

“Aku—aku tidak bisa menerima ini—”

“Ayolah—jangan begitu, ini dariku dan Ukitake!”

Mendengar ucapan Kyoraku, tangan Rukia sedikit gemetar.

“Ah—Soutaichou—”

Rukia mengelurkan tangannya untuk mengembalikan amplopnya, tapi begitu dia melakukannya Kyoraku telah menghilang dengan bershunpo. Dengan tergesa-gesa dia menyelipkan haori itu kembali ke bungkusnya.

“Ukitake Taichou… tolong beri aku sedikit waktu… aku tak akan mengecewakanmu… Suatu saat nanti, aku pasti akan siap!”

Rukia bersumpah atas haori yang dia genggam, kemudia dia kembali ke restoran dengan setengah berlari.

Empat jam telah berlalu sejak acara makan-makan dimulai, ketika semua orang mulai mabuk dan satu persatu pulang. Uryuu berdiri dan berkata, “Kami juga harus pulang… Abarai-kun, Kuchiki-dan, terima kasih atas hari ini. Semoga kalian bahagia selamanya,”

Dia mendekati pasnagan itu dan membungkuk.

“Ini—aku juga bingung mau memberinya kapan karena resepsinya ternyata di sini. Tapi… rasanya gak masalah walau sekarang—”

Uryuu bicara dengan merendahkan suaranya, dia mengulurkan amplop yang berisi uang pada renji. Sado yang melihat juga mengeluarkan miliknya, diikuti Ichigo dan Orihime.

“Semuanya membawa sesuatu? Kami tidak perlu hal begini, kalian datang ke sini sudah lebih cukup buat kami.”

“Terima saja, kalian sudah menjamu kami seperti ini… ini adalah uang Dunia Manusia, saat kalian mendapatkan tugas di Dunia Manusia kalian bisa memakainya untuk membeli pakaian atau sesuatu dengan ini.”

Uryuu dengan paksa mendorong hadiahnya ke tangan renji.

“Benar—aku juga pikir begitu. Ini!”

Meniru Uryuu, Orihime juga mendorong hadianya ke tangan Rukia.

“Lagipula tidak baik kalau aku sampai membawa balik pulang ini…. Terima saja diam-diam.”

“Ini dariku, dan yang ini dari Ayah.”

Milik Sado, Ichigo dan Isshin diberikan pada Renji.

“Bahkan Isshin-dono?!”

Rukia terkejut.

“Orang itu… saat Kaien meninggal, dia benar-benar ingin menghiburmu. Dia begitu menyesalinya waktu itu. Dia bilang semoga dirimu menjadi orang yang paling bahagia.”

Isshin adalah paman Kaien.

Isshin menjabat sebagai Juubantai Taichou saat Kaien meninggal mendengar keponakan yang dia banggakan meninggal, dia terkejut tentu saja. Dia mendengar dari Ukitake apa yang terjadi pada kematian kaien. Isshin pikir Rukia yang paling memerlukan pertolongan waktu itu. Dia pergi mengunjungi Juusanbantai beberapa kali, tapi saat melihat Rukia sangat murung dari kejauhan, dia mengurungkan niatnya.

“—aku mengerti—”

Rukia mengingat dirinya di masa itu, sejak dia membunuh Kaien dengan tangannya sendiri, dia menutup hatinya dengan yang lain, dia terjatuh dalam kegelapan.

“Tidak baik jika kalian membuka senkaimon berulang kali untuk kami. Jadi kami akan pulang bersama~” Atas saran ichigo, Sado mengangguk.

“Eh~~ Sudah mau pulang~~ Tidak apa apa kalau kau ingin ingin tinggal sebentar lagi~ Orihime?” Tanya Rangiku sambil mabuk, di sampinya Hisagi dan Kira sudah tepar.

“Terima kasih Rangiku-san, Tapi aku harus perja besok pagi~”

“Yaaah~ Bagaimana denganmu Ichigo?~” Rangiku menyipitkan matanya dan tersenyum licik/

“Ti—dak!”

“Hah?! Menyedihkan!”

Rangiku terkikih sambil melambaikan tangannya. “Kalau begitu, sampai ketemu lagi~”

“Aku baru saja menghubungi sesorang dan meminta mereka untuk membuka Senkaimon di Rokubantai.” Kata Renji sebelum mengembalikan denreishikinya ke saku.

“Rukia, tunggu sebentar, biar aku yang mengantar mereka. Kau harus di sini menemani yang lain…”

“Baiklah—semuanya, terima kasih untuk hari ini. Aku juga mendapatkan veil dari kalian, tapi kalian masih memberiku hadiah lagi… terima kasih.” Rukia membungkuk. “Sampai ketemu lagi di Dunia Manusia!”

Rukia tersenyum, kemudian dia kembali ke dalam Restoran.

Table of Content

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *