Bleach: We Do Knot Always Love You (chapter 3 part 3)

Font Size :
Table of Content

Soul Society | Kuil Keluarga Kuchiki.

Banyak Shinigami yang sudah berkumpul, berhamburan antara gerbang kuil dan kuil itu sendiri. Beberapa orang menggunakan shihakushou dengan hiasan rambut, dan beberapa lainnya mengenakan kimono.

Karena tidak ada Tuhan di Soul Society, tempat suci atau kuil keagamaan tidak ada dalam Seireitei. Banyak orang yang mempercayai Soul King sebagai Tuhan. Namun, Soul King hanyalah Raja, bukan Tuhan. Di Rukongai, beberapa kuil dibangun oleh penduduk untuk menyembah para dewa dan budha yang mereka sempah saat mereka hidup di Dunia Manusia. Keluarga Kuchiki membangun kuil di depan mausoleum demi menghormati leluhur mereka. Tempat ini juga digunakan untuk upacara. Dari pertemuan keluarga hingga perayaan pernikahan dan pemakaman, semuanya dilakukan di tempat sakral ini.

“Uuu… aku gugup sekali…!”

Orihime berbisik pada Ichigo—mengenakan setelan serba hitam—yang berdiri di sampingnya. Orihime mengenakan gaun berwarna merah jambu terang yang terbuah dari bahan sifon. Kemewahan dan baju ala baratnya membuat sebagian besar orang menatap ke arah dirinya.

“Gugup kenapa?!”

“Aku sama sekali tak tahu adat dunia ini… aku takut bagaimana kalau aku melakukan sesuatu yang gak sopan…” Orihime menunduk tidak enak.

“Kata Hisagi-san, hanya dari kalangan keluarga terhormat saja yang melakukan upacara maupun resepsi di Seireite. Biasanya mereka hanya mengundang keluarga dan teman dekat mereka untuk jamuan kecil setelah nyuseki… jadi hal semacam ini dan adat tiap keluarga berbeda. Tak ada aturan baku di dalamnya.” Ucap Uryuu.

“Ishida… informasi semacam itu tidak menyelesaikan apa-apa…”

Sambil tersenyum masam, Uryuu kemudian menjawab Sado kembali.

“Mungkin begiti, tapi yang kumaksud kalau kebanyakan orang yang datang di sini juga tidak tahu apa-apa tentang resepsi, jadi Inoue-san juga tak perlu khawatir.”

“Heh, kenapa kau tak bisa begitu dari awal?”

Saat uryuu membuka mulut untuk membantah apa yang diproteskan Ichigo, suara lonceng menggema ke penjuru kuil, datang dari arah pintu gerbang. Dalam sekejap kerumuman itu terdiam. Berdiri di sisi gerbang, bel berwarna perak di angkat. Sang biarawati mulai bicara.

“Mempelai pria, silakan!”

Pintu gerbang perlahan terbuka.

Semua orang menatap pria yang keluar. Abarai renji mengenakan Kuromontsuki—Haorihakama. Pada saat bersamaan dengan renji melangkah melewati gerbang. Gagaku mulai dimainkan.

Biarawati tua membimbing Renji menyusuri jalan setapak. Selangkah demi selanngkah, renji berhenti di depan tangga menuju kuil. Diminta oleh sang pendeta, dia berbalik menghadap gerbang. Lonceng kembali berbunyi.

“Kepala Keluarga, mempelai wanita, silakan.”

Kuchiki Byakuya muncul di depan gerbang yang terbuka, mengenakan Montsuki—Haorihakama biru keabuan. Byakuya mengangkat payung merah di depan tandu yang berhenti di luar gerbang. Tirai bamboo diangkat, Rukia nampak menunduk di dalam. Melihat penampilan Rukia, para tamu berbisik bagai angin ribut.

Tubuh mungil Rukia dibalut dengan Shiromuku yang terbuat dari kain putih murni—yang Nampak memancarkan cahaya. Kepalanya mengenakan veil—kerudung pernikahan. Veil itu berayun lembut, seirama dengan gerakan Rukia. Setiap kali bergerak, jahitan emas di veilnya berkilau memantulkan cahaya matahari.

Rukia berdiri di bawah payung merah yang dipegang oleh Byakuya. Keduanya mulai berjalan berdampingan mendekati tempat suci.

“—dia memakainya…”

Saat Ichigo berbisik. Orihime mulai menangis terharu.

“Di—dia memakainya… meskipun… aku bilang tidak apa-apa kalau… dia tak perlu… memakainya! Ak—aku—senang! Kurosaki-kun… tolong…”

Orihime menyerahkan kamera yang dipegangnya ke Ichigo. Orihime memang membelinya untuk hari ini, dia berulang kali mengambil foto di rumahnya untuk memastikan bisa digunakan dengan baik di acara hari ini. Namun dia tidak menyangka dia akan menangis sebelum bisa menggunakannya.

“Akan kuambilkan untukmu, setidaknya tenangkan dirimu~”

Ichigo melihat dari layer kamera untuk membidik momen sakral itu.

“Te—terima kasih!” Ucap Orihime sambil menyapu sapu tangan ke matanya.

Ichigo berulang kali mengambil gambar dengan kameranya, dengan fitur zoom, dia bisa melihat dengan jelas senyum Rukia dari balik veilnya, dan Byakuya, yang datar seperti biasanya.

“Seenggaknya dia sedikit tersenyum di saat seperti ini.” Gumam Ichigo dalam hati.

Keduanya lewat di depan Ichigo dan yang lainnya—yang memang berdiri di tengah-tengah jalan. Rukia menatap orihime yang terisak dan tersenyum padanya, kemudian dia melihat ke atah Ichigo yang sedang memotret dirinya. Byakuya menembakkan pandangan ke Ichigo seakan mengatakan seharusnya kau tak perlu membawa barang gak guna seperti itu.

Keduanya dengan tenang berjalan menyusuri jalan setapak seirama dengan music. Akhirnya mereka sampai di tempat Renji—di depan Kuil. Renji membungkuk dan Byakuya menutup payung sebelum menyerahkannya pada Renji.

“Aku ingin kau bahagia—” Gumam Renji yang hanya di dengar oleh Rukia.

Rukia menatap Byakuya, matanya menyempit berkaca-kaca. “Nii-sama…!!”

Mata Rukia penuh dengan air mata. Byakuya menarik nafas.

“—jangan menangis.”

Byakuya meletakkan tangannya di bahu rukia dan dengan lembut menuntun ke arah Renji. Renji mengangkat payung merahnya dan menyambut Rukia di bawahnya. Di bawah naungan payung merah, Rukia membungkuk rendah pada Byakuya.

Di tuntun oleh pendeta, pasangan itu menaikin tangga selangkah demi selangkah. Byakuya menatap punggung mereka penuh haru.

Sang pendeta membacakan Norito-soujou setelah pasangan itu saling bertukar sake selama san-san kudo. Semua acara pernihakan itu selesai tanpa hambatan.

Table of Content

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *