Bleach: We Do Knot Always Love You (chapter 3 part 1)

Font Size :
Table of Content

Dunia Manusia | Kota Karakura – Taman Sukabarabashi

close

Taman kota yang dibangun di atas bukit dan menghadap rek kereta api ini adalah tempat favorit Inoue Orihime. Walaupun hanya taman kecil dengan belasan pohon dan beberapa tempat duduk, setiap tempat duduk itu diletakkan menghadap pemandangan indah. Diantara tempat duduk yang berjejer di sana, Orihime sangat menyukai bangku yang menghadap rel kereta api, dia suka melihat kereta api dan kota dari atas sana.

Kuchiki Rukia dan Abarai Renji saat ini sedang duduk berdampingan di bangku itu. Waktu menunjukkan pukul 10 malam dan pemandangan malam Kota Karakura membentang di bawah mereka, setiap kali ada kereta lewat, kedua mata pasangan itu pasti akan mengikutnya.

Advertisements

“Kuchiki-saaaan!”

Orihime berlari menaiki tangga bukit sambil melambaikan tangannya. Ketika pasangan itu berdiri dan membalas lambaian tangan Orihime, gadis berambut panjang itu sedikit heran.

“Hah? Kau disini juga, Abarai-kun?”

“Yoo! Kau kelihatan baik-baik saja, Inoue~”

“Ya, begitulah!” Jawab Orihime sambil menaiki beberapa tangga terakhir. “Fuuu~ sampai juga akhirnya.” Ucapnya sambil mengambil nafas.

“Aku minta maaf telah mengganggu waktumu malam ini~” Gumam Rukia.

Mereka duduk di bangku yang sama dengan Rukia berada di tengah mereka.

“Tidak masalah kok, tak perlu khawatir, lagipula aku senang sekali kalian bisa datang menemuiku.”

“Bagaimana dengan kotonya? Masih ramai seperti biasanya?”

“Ya begitulah, hamper tiap hari selalu sibuk.”

Orihime saat ini bekerja sebagai pegawai di toko roti dan kue ABCookies. Setelah kakaknya, Inoue Sora, meninggal, dia mendapatkan bantuan dari keluarga jauhnya. Tapi keluarganya hanya membantu hingga dia lulus SMA, sejak musim panas tiga tahun yang lalu, Orihime sudah mencari kerja. Selama waktu itu, Orihime bekerja sebagai pegawai paruh waktu, manajer toko yang mengetahui keadaan Orihime akhirnya mengangkat Orihime sebagai pegawai tetap di sana.

“Rangiku-san dan Suifeng-san juga sering datang ke sana.”

“Suifeng Taichou?! Kalau Matsumoto Fukutaichou aku bisa mengerti.”

“Yoruichi-san pasti yang memintanya untuk membelikan sesuatu, ‘kan?” Tebak Renji.

“Ah, kalau itu bisa kumengerti—”

“Jadi, ada apa ini? Sampai-sampai Kuchiki-san harus Bersama dengan Abarai-kun.”

Orihime mengamati pasangan itu, entah kenapa dia merasa udara yang diantara pasangan itu semakin serius, orihime berdiri.

“Ooohhh!” Katanya dengan suara nyaring. “Tu—tunggu, jangan-jangan!! Jangan-jangan kalian—ka—kalian berdua—”

Dengan mata terbelalak, Orihime menatap mereka berdua dengan heran, pipi Orihime langsung berwarna merah.

“Su—sudah berkencan?!”

Orihime langsung terdiam.

“Pffft! Hahaha! Kencan?! Bukan-bukan— bukan seperti itu—”

Orihime menatap kosong pada Renji yang tertawa terbahak-bahak, Rukia kemudian berbicara.

“Inoue, aku dan Renji… hari ini, kami sudah menyelesaikan Nyuseki kami!”

“EH…. Eeeeeeeeh!? Nyuseki?! It—itu artinya… kalian sudah resmi menikah, kan?!”

Rukia mengangguk, “betul”.

Orihime menghela nafas dalam, dia mulai terisak sambil tersenyum.

“Inoue?!”

“Haaa… uuuu… maaf! Ini kejutan yang luar biasa! Aku sampai terbawa perasaan—” Orihime berdiri, isak tangisnya tak terbendung.

Sambil berdiri, Rukia memeluk bahu Orihime dan membawanya duduk kembali.

“Se—selamat Kuchiki-san…”

Orihime masih terengah-engah dengan isak tangisnya saat Rukia mengusap punggungnya.

“Bodoh—apa yang kau tertawakan?!” Ucap Rukia sambil mengangkat alisnya, memperhatikan Renji yang masih tertawa menyeringai.

“Ini bagus juga kalau dipikir-pikir—ini baru pertama kali aku melihatmu peduli sampai begitunya pada orang lain.”

“Haaa—aku baik-baik saja—terima kasih, Kuchiki-san! Aku sunggu ikut senang dengan ini, selamat kalian berdua!”

Orihime tersenyum tipis.

“—terima kasih, Orihime.”

Rukia menyeka air matanya yang tak sengaja menetes dengan jari tangannya.

Setelah mendengar dan tertawa tentang cerita bagaimana menyusahkannya Nyuseki mereka berdua, Orihime dengan santai bertanya pada Rukia.

“Kalian sudah memberitahu masalah ini pada Kurosaki-kun, ‘kan?”

“Belum. Rencananya kami akan memberitahu Ichigo setelah ini—tapi sepertinya sekarang sudah terlalu malam.”

“Mungkin dia masih belum tidur.” Ucap Renji menimpal.

“Tidak apa-apa aku yang diberitahu pertama kali masalah ini?”

Merasa malu dan gelisah, Rukia yang sempat ragu beberapa saat akhirnya menjawab Orihime.

“I—itu karena, Inoue adalah—pacar* terbaikku… jadi seudah seharusnya aku mengabarimu dulu—”

“Lihat tuh, wajahmu lebih merah dari pada saat aku melamarmu” Celetuk Renji.

“Mutup mulutmu!!”

Melihat telinga Rukia yang merah sampai telinganya, Orihime tertawa hingga meneteskan air matanya lagi.

“Terima kasih, Kuchiki-san! Aku sangat menyayangimu—”

Setelah pasangan itu pulang, Orihime juga berbegas kembali ke rumahnya.

“Akuu pulang.” Sapanya pada foto kakaknya.

Orihime mengambil ponselnya dan menekan nama Dokugamine Riruka.

“Halo?!”

Setelah deringan keempat, suara kasar Riruka terdengar.

“Maaf menghubungimu malam-malam, ini aku, Orihime.”

“Waktu di tokomu minggu lalu, bukannya sudah kubilang?! Aku sudah bilang kalau sekarang aku sibuk dengan peluncuran merek baru! Kau tidak dengar kalau aku ngomong, ya?!”

Riruka saat ini bekerja sebagai designer perusahaan pakaian milik Yukio Hans Vorarlbena. Jackie Tristan juga bekerja padanya, namun dia selalu pergi ke penjuru dunia untuk membicarakan masalah kerja sama perusahaan dengan negara-negara lain. Karena itulah dia hamper tak pernah terlihat.

“Te—tentu saja aku dengar! Tapi ini sedikit darurat—”

“Darurat?! Kalau begitu, cepat katakana!”

“I—iya terima kasih! Riruka-chan…”

Walau kesal karena Orihime tidak bicara dengan tergesa-gesa, Riruka masih mendengarkan Orihime menceritakan tentang Rukia yang akan menikah, dan kenyataan kalau resepsinya akan diadakan dua minggu lagi, waktu yang begitu cepat.

“—jadi aku ingin memberinya sesuatu, hadiah, tapi bagusnya apa ya? Inginnya buatan tangan… yang bisa dipakai waktu resepsi, sepertinya itu pilihan yang bagus…”

“Harus sesuatu yang bisa dibuat oleh pemula—”

Suara ketukan jemari terdengar dari balik telepon Orihime.

“Bagaimana kalau buket, atau Ring Pillow—eh tapi dunia sana punya standart tradisional bergaya Ucapara Shinto, kan?”

“Benar!” Jawab orihime. “Eh, kalau begitu, Kuchiki-san memakai Shiromuku?! Hah, ide bagus!”

“—Jangan mempermalukan dirimu!” Bantah Riruka. “Apalagi Gadis Rukia itu dari kalangan bangsawan. Semuanya pasti sudah dipersiapkan, kalau amatiran sepertimu membuat barang seperti aksesoris pakaian tradisional, jauh banget kalau dibandingkan!”

“Ohh!” Teriak Orihime cukup kencang.

Menanggapi teriakan Orihime, Riruka kembali mengeluh dengan suara yang lebih tinggi.

“DIAM!! Jangan seenaknya teriak dengan suara keras seperti itu!!”

“Maaf—maaf—Bagaimana kalau gaun? Gaun pengantin?”

“Heh? Jelas tidak mungkin amatiran sepertimu bisa membuat gaun dalam dua minggu.”

“Tapi, akan kukerjakan sebaik mungkin…!”

“TI—DAK MUNG—KIN!!!”

“Tapi aku ingin lihat Kuchiki-san dengan gaya barat juga—” Orihime bergumam dengan kecewa,

“—hmmm… bagaimana kalau Veil—Kerudung penutup kepala?” Suara ketukan keyboard terdengar dari balik telepon Orihime. “Kulihat saat ini sudah banyak orang yang suka menggabungkan tata rambut gaya barat dengan Shiromuku.”

Orihime membayangkan Rukia.

Sebuah Wataboshi kecil pasti cocok dengan wajah kecil Rukia. Namun, kelihatannya orang-orang akan sangat menyukai melihat wajah cantic Rukia bila penutupnya dibuat transparan bukan wataboshi yang menutup sebagian besar kepala dan wajah Rukia.

“Sepertinya itu ide yang bagus…”

“Kalau memang mau veil, kau cuma perlu menggunting kain tile, bahkan orang idiotpun bisa. Lalu, bagaimana dengan bordiran pinggirannya? Kalau kau mau menjahitnya, walaupun jelek, asal dari kejauhan tidak akan kelihatan sih.”

“Ya, aku akan membordirnya.”

“Aku akan menulis tutorial dan mengirimkan bahan-bahannya besok pagi. Alamatmu belum berubah, kan?”

“Eeeeh?! Tidak usah, terima kasih banyak atas bantuannya. Aku sudah sangat bersyukur bisa mendapatkan saran darimu, biar aku cari sen—”

“—Hah? Kau sudah menggangguku saat sibuk dan sekarang menahanku?!”

Riruka memegang teleponnya dengan satu tangan, tangan satunya sibuk mencari referensi veil, satu persatu dia menandai yang dirasa cocok. “hmm, ini juga akan berguna…”

“Terima kasih Riruka-chan, tapi tidak apa-apa kok…”

“Diam! Kalau kubilang diam ya diam! Aku hampir selesai! Aku sudah menghilang dua kali dengan maksud agar tidak berurusan denganmu lagi! Tapi sejak kita ketemu lagi tiga tahun yang lalu, kau selalu cari alasan untuk menghubungi seperti memberitahu adanya jenis donat baru atau apapun itu! Apa kau mengerti, Orihimeeeeee?!”

“Ya maaf… Tapi Riruka-chan selalu datang untuk membeli…”

“Aku cuma kebetulan lewat depan toko itu dan kebetulan ada yang enak. Kau kerja di sana atau tidak mana aku peduli!!”

“Maafkan aku~”

Telepon dengan Riruka pasti selalu berakhir dengan ceramah seperti itu. Walau begitu, Orihime sangat lebih menyukai Riruka yang selalu marah-marah seperti itu. Mendengar Riruka yang meledak-ledak, Riruka terasa hangat dan tidak terlihat seperti orang yang kesepian.

Keesokan harinya, sebuah paket datang dari Riruka, berisi bahan-bahan lengkap dengan tutorial membuatnya, dan…

[Aku bicara agak kasar kemarin —maaf]

Tertulis di secarik catatan.

Bersambung—

Note :
*) Maksud Rukia adalah sahabat terbaiknya, tapi Rukia menggunakan kata yang lebih dari seorang sahabat.

Table of Content