Bleach: We Do Knot Always Love You (chapter 2 part 6)

Font Size :
Table of Content

Ichibantai, Ruang Rapat Taichou.

Setelah melaporkan perkembangan situasi Soul Society, Ise Nanao membungkuk sebelum beranjak dari tempatnya berdiri. Kyoraku berjalan menggantikan posisi Nanao sebelumnya.

“Baiklah—” Ucapnya sambil mendekap kedua tangannya di depan dada, matanya mengamati para taichou yang datang. “—ada kabar baik lainnya hari ini.”

“Sudah waktunya, ya?” Gumam Rukia dalam hati, tubuhnya sedikit gemetar karena gugup, sesekali dia mengepal jemarinya sembari menarik nafas dalam-dalam.

“Kalian bisa maju sekarang—”

Diminta oleh Kyoraku, kedua pasangan itu berjalan melewati barisan para taichou, mereka berdiri di dengan pintu masuk, berhadapan dengan Kyoraku. Tatapan semua orang tertuju pada mereka, membuat tenggorokan kedua pasangan ini begitu kering.

“Ah—gue*—”

Sebelum Renji melanjutkan bicaranya, Rukia menyikutnya.

“Oh, iya—” Gumam Renji pelan sambil berdeham.

“Baiklah, Saya Abarai Renji dan Kuchiki Rukia, telah menyelesaikan Nyuseki kami hari ini.”

“Kami berdua akan melanjutkan tugas kami sebagai tentara Gotei 13 sebagai pasangan suami istri, kami mohon dukungan dan bimbingannya, semua.”

Keduanya membungkuk bersamaan. Kyoraku mengeluarkan konfetti—party popper—dari balik lengan bajunya, menarik senarnya dan bunyi ‘cettak’ terdengar bersamaan dengan kertar-kertas konfetti berhamburan.

“Wow selamat~ eh, kenapa kalian terlihat tidak terkejut?”

Kyoraku melihat sekeliling dari balik kertas konfetti yang berhamburan di mana-mana.

“Ah benarkah? Semuanya tidak terkejut?!”

“Sepertinya semuanya sudah tahu, Abarai dan Kuchiki juga tidak berniat untuk menyembunyikan hal ini, aku juga tahu beritanya dari Hinamori-san.”

“Hah? Jadi semuanya sudah tahu?”

“Aku tak begitu tertarik dengan masalah ini, tapi wajar saja kalau saya bisa mendengar informasi seperti ini.” Ucap Suifeng.

“Aku juga sudah dengar dari Izuru. Selamat kalian berdua~ kalau butuh music saat resepsi nanti, kalian bisa minta pendapatku, ‘kok.”

Roujuurou Outoribashu—yang juga dikenal dengan Rose—memberi isarat seakan sedang bermain biola.

“Aku dengar dari mereka berdua langsung.” Ucap Isane.

“Aku dengar dari Momo. Selamat buat kalian. Ini pertama kalinya dia semangat sekali untuk membeli Kimono baru untuk resepsi kalian, loh.” Ucap Shinji sambil menunjuk Hinamori—yang berdiri di belakangnya— dengan jempolnya.

“Anda tak perlu memberitahu hal itu, taichou—” Ucap Hinamori yang pipinya sudah memerah.

“Mereka berdua juga datang ke tempatku, kemaren.” Lanjut Iba melewati giliran Byakuya—yang memang terdiam.

“Aku juga sudah tahu. Oh iya, Rangiku memintaku untuk membelikan aksesoris rambut dari Mutiara di Dunia Manusia, kali aja ada yang sekalian mau nitip sesuatu.”

“Jangan jualan di rapat taichou, Lisa! Shuuhei ingin sekali membuat Seireitei Communication Edisi Spesial pernikahan kalian. Kalau kalian tak begitu suka, kalian boleh menolaknya.”

Di belakang Kensei, Hisagi mengangkan kedua tangannya sambil bergumam pelan. “Tolong ijinkan~ kumohon~”

“Aku juga sudah mendengar sejak awal dari mereka berdua. Syukurlah kalian bisa menyelesaikan nyuseki dengan cepat.”

Hitsugaya dengar dari Rangiku kalau proses administrasi itu begitu merepotkan dan lama.

“Karena Ikkaku dan Yumichika selalu ribut masalah ini, tak mungkin aku tak tahu.” Kenpachi mengorek-ngorek telinga dengan Kelingkingnya. DI belakangnya, Ikkaku mengatupkan bibirnya rapat-rapat seakan mengatakan kalau dia tidak banyak ribut.

“Tentu saja aku juga tahu, apalagi alat yang mereka dapat dari Urahara—”

Saat Mayuri memelototi mereka, pasangan itu langsung keringat dingin dan cepat-cepat mengalihkan pandangan mereka.

“Ya ampun~” Ucap Kyoraku sambil mengangkat bahu. “Kalau semuanya sudah tahu selanjutkan kita akan membahas resepsi pernihakannya.”

“Resepsi?!” Bersamaan, keduanya memiringkan kepala mereka.

“Bahkan kami belum mengaturnya.”

“Rencananya baru akan kami bicarakan setelah pertemuan ini dan mengumumkannya lagi nanti—”

Mendengar mereka, kali ini Kyoraku yang memiringkan kepalanya.

“Eh?! Tapi aku baru dapat kabar kalau resepsi kalian akan diadakan dua minggu lagi.”

“Heeeh?! Kata siapa?!”

Menjawab pertanyaan Renji, Kyoraku menoleh ke arah Byakuya.

“—Kuchiki taichou.”

Ekspresi Byakuya masih tidak berubah, terdiam matanya menunduk.

“Jadi aku juga sudah memberikan hak cuti kalian selama tiga hari untuk persiapan kalian.”

“Hyuuu~ Nanao-chan emang keren~”

“Tu—tunggu—tunggu sebentar. Aku perlu memahami semuanya dulu~” Rukai menggenggam dadanya, dia mencoba menenangkan dirinya.

“Taichou, kenapa anda belum membicarakan hal ini pada kami?” Tanya Renji.

Beberapa orang yang hadir saat itu juga tahu tentang betapa kakunya Byakuya. “Sepertinya dia mulai lagi~”

“Hah—tunggu, maksudnya ini kalian juga belum tahu masalah ini? Bahkan kalian yang akan menjadi pengantin nanti?”

Keduanya mengangguk mendengar pertanyaan Kyoraku.

“Kuchiki taichou… seharusnya anda memberitahu mereka dulu. Kalau mereka tak tahu ya sama saja tak ada gunanya.”

Menanggapi kritikan dari Kyoraku, Byakuya mulai bicara.

“Aku tahu dari pengalamanku sendiri, pernikahan Empat Bangsawan Agung itu begitu rumit prosedurnya—”

Byakuya butuh waktu dua bulan untuk menyelesaikan nyuseki dengan mendiang istrinya saat itu.

“—lagipula, aku tak yakin kalian akan bisa mengatur resepsi dengan tepat.”

Melihat kedua pasangan yang kebingunan untuk merespon, kyoraku tertawa.

“Nah, maksudnya sampau nyuseki selesai, serahkan saja persiapan resepsi kalian ini pada kakakmu, begitu kan?”

“Yaelah, si Pembuat masalah~”

Byakuya langsung melotot pada Shinji.

“Ih—serem~” Gumamnya sambil mengangkat bahu.

“Nii-sama… terima kasih banyak… untuk semuanya.”

Setelah Rukia mengatakan itu, pasangan itu membungkuk rendah, Byakuya menarik nafas kecil.

“Soutaichou… silakan lanjutkan.” Ucapanya mendesak Kyoraku.

“Aku sudah membahas masalah ini dengan Kuchiki taichou beberapa waktu lalu. Jarang ada pernihakan sesama fukutaichou, jadi untuk hari resepsi, jam pulang kerja kita akan dimajukan dua jam. Kurasa juga banyak anggota kita yang ingin hadir ke acara itu.”

“Hah? Anda sampai melakukan hal ini untuk kami?!” Renji berseru kaget.

“Yuhuu~ pulang cepat~” Rangiku berteriak di belakang Histugaya.

“—Matsumoto!!” Ditegur Hitsugaya, rangaku meminta maaf pelan.

“Nah, meskipun maju dua jam, masih terlalu sore untuk acara resepsi. Tapi pernikahan malam hari juga tidak kalah bagus~” Ucap Kyoraku.

Rukia membungkuk.

“Benar, cukup menenangkan— Kalau urusan di sini sudah selesai, aku akan kembali!”

Memisahkan diri dari barisan, Mayuri menuju pintu, Rukia dan renji buru-buru membukakan pintu untuknya.

“—Karena Loli-mu, Hachigou-chan sedang menunggu~”

Mendengar godaan Hirako, Mayuri menghentikan langkahnya.

“Oo-oh—sepertinya kau tidak sayang nyawamu!”

Saat menoleh dari balik bahunya, mata emas Mayuri seakan diredupkan dengan hawa membunuh. Renji yang berdiri di sampingnya sampai menggidik takut.

“Sudah—sudah—tak usah bertengkar~” Ucap Kyoraku sambil bertepuk tangan. “Walau kita akan menyudahi pertemuan ini, Kurotsuchi Taichou tak akan membunuh Hirako Taichou, kan?”

Kensei agak tercengang sambil bergumam. “Peringatan macam apa itu…?”

Mayuri mengendus hmmmp dan pergi. Akon mengikutinya.

“Kalau begitu, saya akhiri pertemuan taichou kali ini. Terima kasih sudah datang~”

Nanao langsung menutup rapat kali itu. Suaranya begitu keras hingga seluruh orang yang ada di sana memperhatikannya. Bagi Rukia dan Renji, ini adalah rapat taichou yang tak akan pernah bisa mereka lupakan.

*) Di sini Renji tidak sengaja bicara kurang halus, jadi kami Bahasa indonesiakan dengan Bahasa gahoel xD

Table of Content

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *