Bleach: We Do Knot Always Love You (chapter 2 part 5)

Font Size :
Table of Content

Kediaman Keluarga Kuchiki.Pagi hari sebelum Rukia dan Renji mengurus Kininkai, Renji mampir ke kediaman Kuchiki. Dia melewati gerbang utama kediaman bangsawan itu dengan begitu gugup. Saat dia berjalan lebih jauh melewati jalan batu yang sudah disapu bersih, seorang lelaki tua dengan rambut putih mengenakan kacamata bulat menghampirinya. Dia adalah Seike Nobutsune, pelayan pribadi Byakuya.“Abarai-sama, kami sudah menunggu anda—” lelaki tua itu membungkuk sembari membukanan genkan untuk Renji. “Silakan masuk.”“Aku tunggu di luar saja.”“Byakuya-sama meminta anda untuk sarapan dengan beliau.”“D—de—dengan taichou?”Renji semakin gugup, berjalan agak canggung dia mengikuti Seike dari belakang.Tiga piring sudah di siapkan di ruang saji, Renji, Byakuya dan Rukia menggerakkan sumpit mereka dalam diam. Mangkuk-mangkuk kecil yang berisi ikan dan nasi putih berjajar rapi di meja. Renji seakan tak tahan hingga akhirnya bertanya.“Apa memang sesepi ini?”Dia merasa canggung karena hanya dirinya yang bersuara saat makan, dua lainnya hampir tak menimbulkan suara.“Kami biasanya makan terpisah, Nii-sama makan di sini dan aku makan di kamarku. Karena Juusanbantai agak jauh dari rumah aku harus sarapan lebih awal agar tak terlambat.”Saat Rukia meletakkan sumpitnya, pelayan yang berdiri di sudut ruangan segera mengambil mangkuk Rukia dan menggantinya dengan Mizugashi yang di taburi teh.“—terima kasih.” Gumam Rukia.“Kau bisa tinggal di ruang Fukutaichou, kan? Lebih hemat waktu kalau kau tidur di sana. Taichou juga kadang tidur di ruang Taichou kan kalau sedang lembur?”“—aku tak pernah menginap.”“Eee—begitu— maaf.”“Le—zatnya…”“Hah.. apa-apaan kau ini?”Renji perpaling pada Rukia yang masih menggumamkan sesuatu.“Makanan di rumah ini lezat-lezat kok. Wajar saja kalau ingin makan tiap hari.”Mendenger ucapan Rukia, Seike dan Chiyo sedikit menyimpulkan senyum di bibirnya. Para pelayan yang lain juga seperti mereka berdua.“—itu sedikit rakus.”“Diam—”“Tapi memang enak sih, tak heran kalau kau memilih tinggal di sini.”Setelah menghabiskan empat mangkuk nasi, Renji meletakkan sumpitnya, menepuk kedua tangannya bersyukur atas apa yang sudah dia makan. Melihat Rukia yang masih makan buah pir, Byakuya berdeham kecil.“Tidak apa-apa kalau kau ingin kembali ke sini untuk makan apapun—”“Hebat. Terima kasih banyak taichou.”“—aku bukan bicara denganmu.”“Ha—aku mengerti—” Ucap Renji kikuk sambil tertawa kecil.“Terima kasih banyak Nii-sama…” Ucap Rukia dengan mata yang keluar air mata bahagia.Melihat Byakuya yang menatap lembut dan tersenyum kecil, mulut Renji menganga lebar.“T—ta—tta—taichou— Taichou tersenyum!!??”“Apa maksudmu T—ta—tta— Nii-sama sekaliipun kadang tersenyum kok…”“Rukia.”Ucap Byakuya singkat. Rukia hanya bisa menahan lidahnya agar tak bergerak lagi.“Aku sudah menandatangani berkas-berkasnya, aku pergi sekarang—”Byakuya meninggalkan keduanya dalam ruangan tanpa suara, Seike mengikutinya dari belakang.“—Taichou… tadi dia malu-malu, kan?”Mendengar yang Renji tanyakan, Chiyo malah tertawa terbahak-bahak hingga di tegur oleh pelayan yang lebih senior darinya. Dia hanya terdiam namun bahunya terlihat gemetar menahan tawanya.“Kita juga harus pergi, Renji… Chiyo bantuin aku sini, jangan tertawa mulu—”“Okke—”Chiyo cepat-cepat mendekati Rukia yang sudah berdiri, membantu memperbaiki bagian kimono yang sedikit kusut.“Abarai-sama, sebelah sini.” Seorang pelayan tua yang berada di depan fusuma memanggil Renji.“Hah? Aku?” Renji melihat Rukia, tapi dia menunduk seperti tak tahu apa-apa.Saat Renji sudah berdiri di depan pintu geser itu, dua pelayan membukakan pintu untuknya. Tepat di tengah ruangan itu ada lemari pakaian yang cukup bagus. Terlihat setidaknya ada lima kuromontsuki dan haorihakama yang digantung.“Keren— Eh? Ini buatku?!”“Benar, Byakuya-sama meminta anda untuk memakai ini.”“Nii-sama!!” Gumam Renji.Selesai dengan Chiyo, Rukia berdiri di samping Renji.“Saat kita memberitahu Nii-sama keinginan kita untuk menikah, setelah kau pulang Nii-sama menanyakan apa kau punya pakaian resmi untuk dipakai saat resepsi nanti. Yah, kujawab mungkin kau belum punya—”“Yaampun, sampai segitunya, gak ada gitu prasangka baik kalau aku punya. Yaah, walau aku memang gak punya sih—”Rukia menatap Renji sambil mengatakan “—sudah kuduga.”Renji berpaling dan mendekati Kuromontsuki. “Lambang keluarga ini… bunga camelia, kan?”Terlihat jelas lambing yang tercetak di baju hitam itu adalah bunga camelia, seperti lambang bunga Rokubantai.“Kami diberitahu kalau Renji-sama tidak mempunyai lambang keluarga. Namun, kalau ini adalah bunga Divisi, kurasa masih pantas bagi Abarai-sama untuk dijadikan lambang keluarga.” Mengatakan hal itu, para pelayan membungkuk di depan Renji.“Bunga Camelia ini idenya Seika-sama, loh.” Tambah Chiyo.“Ah! Pak tua yang tadi itu?”“Byakuya-sama juga mengatakan kalau tidak masalah dengan ha itu.”“Itu pas sekali dengamu, Renji.” Ucap Rukia.“Ya—tapi semoga saja aku gak canggung pakai baju seperti ini.” Renji tertawa kecil.…Seireitei Sektor Pusat.Saat Rukia dan yang lainnya tiba di Kininkai dengan perlengkapan dokumen sebagai syarat-syaratnya, salah satu petugas yang sudah dihubungi sebelumnya menyambut mereka.“Kepala keluarga mohon lewat sini.” Pria itu membukakan pintu di belakangnya, Byakuya lanjut masuk ke dalam.“Anda berdua mohon tunggu di sini—”Rukia dan Renji menunggu di sofa hijau tua. Petugas itu kembali masuk ke dalam ruangan mengikuti Byakuya dan menuntup pintunya. Ruang tunggu itu begitu sepi, walaupun tidak begitu luas, Rukia pikir ruangan itu masih terlalu besar bila hanya untuk Empat Bangsawan Agung.“Bukannya berkas-berkas itu harus ditandatangani dulu?” Ucap Renji.Tak terbiasa dengan Montsuki, Renji Nampak tak begitu nyaman, sesekali dia bergerak-gerak.“Bukannya pagi tadi Nii-sama sudah menyelesaikannya? Makanya kita ke sini hanya tinggal menyerahkannya saja.”“Kalau hanya untuk menyerahkan dokumen, harusnya tak perlu sampai mas—”Memotong ucapan renji, tiba-tiba pintu tadi terbuka. Petugas yang sebelumnya keluar diikuti oleh Byakuya.“Taichou sudah selesai?”Renji melihat jam yang digantung di dinding. Belum sampai lima menit mereka duduk di sana.“Abarai Renji-sama, Abarai Rukia-sama.” Memandang Rukia, petugas itu tersenyum lembut. “—selamat atas pernikahan kalian.”Petugas itu memberikan lembaran kertas pada keduanya. Itu adalah sertifikat pernihakan mereka.“—Terima kasih banyak.”Tak melupakan apa yang sudah mereka lalukan sebelumnya, begitu banyak yang harus mereka kerjakan. Renji menerima lembaran itu, saat melihat tulisan Abarai Rukia tertulis di sana, dia bangun dari duduknya.“Akhirnya—kita sudah melakukannya, Rukia. Kita sudah resmi menikah!”Kaget dengan nama Abarai Rukia, pikiran Rukia kosong sebelum bahunya diguncang oleh Renji.“—Abarai Rukia-sama.”“Ye yaa—”Rukia mencoba untuk tetap mengendalikan agar tidak kehilangan ketenangannya yang baru saja kembali. Petugas itu mengambil secarik kertas berwarna kuning dan kembali bicara pada keduanya.“Jika anda ingin menggunakan nama keluarga Abarai di Gotei 13, silakan isi formulir ini lalu serahkan di Biro Administrasi, and—”“Tidak apa-apa, aku akan tetap menggunakan nama keluarga Kuchiki seperti ini.””Hah? Kau gak mau menggantinya?!”“Aku sungguh tak bisa—”Walaupun renji agak tidak puas dengan keputusan Rukia, Rukia memtuskan menolak daftar nama di Gotei 13 karena dia pikir akan sangat kebingungan kalau tiba-tiba dia dipanggil Abarai saat bertugas.Memberikan anggukan kecil pada petugas, Byakuya berjalan menuju luar, Renji dan Rukia mengikutinya.“Namaku sekarang Abarai.”Rukia masih agak kaget nama keluarganya baru saja berubah dalam hitungan menit. Saat dia berjalan, dia penasaran hari-harinya nanti dimana dia akan dipanggil dengan nama Abarai. Byakuya yang berjalan di depan mereka tiba-tiba menghentikan langkahnya.“—Kalian berdua sekarang sudah resmi menikah.” Ucap Byakuya tanpa menoleh ke belakang. ”—Renji!”“Ya!”Ekspresi wajah Renji menegang sambil menunggu ucapan Byakuya sebelumnya. Sedikit menurunkan kepalanya, Byakuya berkata.“—Tolong jalan Rukia!”Membungkuk dalam-dalam, renji menajawab dengan yakin. “—Tentu saja!”Rukia menahan air matanya dan menggigit bibirnya.“Taichou—a akan ku—kulakukan apapun u-un-untuk Rukia!”“Aku sudah buat jadwal agar kalian bisa mengumumkan pernihakan kalian di Rapat Taichou siang ini… jangan terlambat.” Ucap Byakuya dingin, menyela Renji yang hendak mengatakan sesuatu.“Eh? Sore ini?!””Haaa? Hari ini?”Keduanya seakan vertigo dadakan, keduanya sangat panik.“Ta—tapi—kam—kami ha—harus menyi—menyiapkan—di—diri—du—dulu.” Melupakan matanya yang berkaca-kaca, ketenangan Rukia buyar begitu saja.“A-apa—ini—ti—tidak terlalu mendadak?!” Ucap Renji mencoba tenang. “Kita tunggu saja dulu.”“Jadi kau menyia-nyiakan kesempatan yang kuberikan?!” ucap ByakuyaByakuya perlahan-lana memutar kepalanya, menatap keduanya dari balik bahunya.“—Kami akan melakukannya!”“Maaf—maaf kan kami!”Keduanya merasa seperti ditekan sesuatu.“Kalau begitu, cepatlah siap-siap!”Setelah tatap tajam terakhirnya, Byakuya pergi dengan shunpo.Untuk sesaat, keduanya merasa linglung bahkan untuk berdiri. Dengan sedikit agak kesal mereka kembali ke kediaman Kuchiki untuk berganti shihakushou mereka.…

Table of Content

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *