Bleach: We Do Knot Always Love You (chapter 2 part 4)

Font Size :
Table of Content

Rokubantai—Ruang Fukutaichou.

Setelah menyerahkan semua berkas di Bagian Administrasi Pangkat Tinggi, ternyata mereka bisa menyelesaikan urusannya lebih cepat dari yang mereka kira. Sembari menunggu Majelis Bangsawan buka, Renji di temani Rukia memilih untuk mengemas barang-barang pribadi miliknya.

“Kau bahkan belum beres-beres sama sekali?!” Begitu menggeser fusuma ruangan Renji, Rukia langsung kesal melihat apa yang ada di depannya. Futon milik Renji masih tergeletak di tengah-tengah ruangan. Pakaian, buku, bola sepak, bahkan barbel—semua barang milik Renji berserakan seperti sampah memenuhi ruangan.

“Aku terlalu sibuk untuk membereskan semuanya. Yaudah, di sana ada kotak, masukkan saja semuanya ke sana—”

“Mana bisa begitu, pertama-tama kita perlu memilahnya dulu.”

“Ah—tak usah, kita pilah nanti saja di rumah baru kita. Yang penting sekarang cepat beres.”

Mengikuti ucapan Renji, Rukia memulai memasukkan barang-barang Renji ke dalam kotak.

Setiap Shinigami yang menjabat kursi Sembilan ke atas akan mendapatkan kamar pribadi di markas divisi mereka. Namun bagi yang ingin tinggal di luar markas, mereka akan mendapatkan jatah kost satu kamar di area perumahan. Namun, untuk fukutaichou dan taichou akan mendapatkan jatah kontrakan satu rumah.

Hingga saat ini, Renji memilih untuk tinggal di markas divisi enam, Rukia tinggal di kediaman Kuchiki. Setelah pernikahan, mereka memilih untuk mengontrak sebuah rumah—memanfaatkan jabatan mereka—dia area divisi satu.

“Sudah cukup segini saja, Rukia. Sisanya biar aku saja yang lanjutkan nanti—”

“Yakin segini aja— okelah.”

Sebenarnya ruangan itu masih sangat berantakan, terlalu jauh dengan kata bersih dan rapi. Tapi karena orangnya sudah bilang bagus, Rukia tak mau memaksa.

“Masih ada sedikit waktu. Ayo minum teh atau—”

“—Renji-san!!” Sebuah teriakan menghentikan teriakan Renji. Yuki Richiki—Rokubantai Dairokuseki berlari menyusuri lorong sambil melambaikan tangannya. “Syukurlah—masih tepat waktu.”

“Kenapa Richiki? Ada perlu apa?”

“Sebenarnya untuk kalian berdua alih-laih Renji-san, ini adikku—”

“Aku juga?”

“Adik?”

“Adikku—bentar aku panggil dulu.” Renji dan Rukia hanya saling menoleh saat Richiki tiba-tiba pergi meninggalkan mereka. Belum selang semenit dia kembali Bersama seseorang, Yuki Ryuunosuke—shinigami Juusanbantai.

“Yuki Ryuunosuke? Bukannya kau sedang dalam tugas?!” Tanya Rukia.

“Eh! Saya minta maaf, Shino-san juga masih ada di sana untuk jaga-jaga.” Ryuunosuko langsung duduk berlutut di depan mereka berdua. “Urahara-san juga berpesan pada fukutaichou untuk tidak khawatir karena Tsukabishi Tessai-san akan membantu Shino-san.”

Madarame Shino adalah rekan Ryuunosuke. Mereka berdua ditugaskan untuk memantau Kota Karakura.

“Jadi—tak ada yang perlu dikhawatirkan kalau begitu.”

“Kalian bedua saling kenal?” tanya Renji.

“Saya dari Juusanbantai, sedang ditempat tugaskan di Kota Karakura.”

“Dia adikku. Sepertinya dia sedang membawakan sesuatu buat kalian dari Urahara Kisuke-san.”

Diminta oleh Richiki, Ryuunosuke mengeluarkan sesuatu dari furoshiki di punggungnya. Dua mengulurkan sebuah kotak pada Renji dan Rukia.

“Sebenarnya aku agak takut menerimanya—”

“—apalagi dari orang itu.”

Ucap Rukia yang mengintip dari balik tubuh Renji. Matanya seksama memperhatikan tangan Renji yang perlahan membuka kotak kecil itu.

Tepat sebelum kotak itu terbuka sepenuhnya, kepulan asap putih keluar dari dalam, diikuti oleh suara Urahara.

“Haaaaai~ Sudah lama sekali sejak terakhir aku menghubungi kalian~”

“Whaaaa!”

“Haaaaaah?!”

Terlepas dari kenyataan Renji menjatuhkan kotak itu karena kaget, suara Urahara masih terus keluar dari dalamnya. Ryuunosuke berjongkok menutup kepala dengan kedua lengannya. Richiki terhentak hingga terjatuh karena kaget.

“Kuchiki-san, Abarai-san, selamat atas pernikahan kalian~” Suara gemerincing bergema di samping Urahara.

“Kau yang mengabarinya?” tanya Renji. Rukia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya merasa ngeri.

“Ini hari kedua kalian mengurus berkas kalian ya? Harusnya kalian sudah dari Bagian Administrasi Pangkat Tinggi. Takut antri panjang seperti di Bagian Personalia kalian pergi pagi-pagi sekali tapi ternyata selesai lebih cepat dari perkiraan kalian. Jadi kalian pergi ke Rokubantai untuk beres-beres kamar Abarai-san. Karena Abarai-san sangat mengenal Yuki Richiki-san, jadi kuminta adik Richiki-san, Ryuunosuke-san untuk ke sana~”

“Ya ampun~ si dukun ini!” Teriak Renji berkeringat. Urahara tak merespon tentu saja, itu hanyalah sebuah rekaman.

“Hmmm—karena aku ada hutang budi pada kalian berdua, aku sudah menyiapkan hadiah special dari toko Urahara.” Seketika asap putih itu lenyap dan kotak itu terbuka. “—Tenikui Warp Assistor!”

Dari dalam kotak itu muncul pasak merak dan pasak biru, masing-masing warna ada delapan buah. Pasak-pasak itu tak terlalu besar—hanya seukuran telapak tangan, dibawahnya ada piring perak dengan ukiran Tenikui Warp Assistor.

“Pasak-pasak itu dibuat dengan menggunakan teknologi Tenkai Kecchu, dengan ini kalian bisa mentransfer barang langsung antara dua titik antara empat pasak yang sama. itu aku kirim dua set untuk kalian. Kalian kan mau pindah ke rumah baru, jadi kalian bisa langsung mengirim barang dari tempat kalian ke rumah baru kalian dalam sekejap dengan itu.”

Tenkai Kecchu adalah teknologi ciptaan Urahara untuk mentransfer sesuatu. Seperti saat yang dilakukan Urahara memindahkan Kota Karakura ke Soul Society saat melawan Aizen dulu—saat itu Urahara menggunakan empat pilar besar sebagai pondasinya.

“Teleportasi!? Gila! Enak sekali ini—”

“Memang enak, tapi—” Gumam Rukia sedikit ragu.

“Sebenarnya aku sudah membuat seperti ini saat aku menjabat taichou dulu, tapi Soutaichou justru memarahiku, takut musuh menggunakan alat ini untuk menyusup dan menyerang kita. Karena itu, gunakan diam-diam, ya—”

“Tuh kan, kita tak usah menggunakan hal ginian.” Ucap Rukia.

“Gak kapa-apa. Kita diam-diam saja menggunakannya.”

“Kita tak boleh menggunakan barang yang dilarang oleh Genryuusai-dono.”

“kebetulan, Kurotsuchi-san juga sedang menggunakan alat seperti ini dan sudah memangnya diseantero Seireite~” Celetuk Urahara.

“Noh kan!” Ucap Renji senang.

“Apa maksudmu Noh kan?! Kurotsuchi Taichou memang bebas menggunakan alat yang dikembangkannya. Dia memang punya Litbang!”

“Ehem!” Urahara berdehem. “Sedikit mengingatkanku saat Anggota Shinigami Perempuan juga menggunakan alat seperti ini—yang dipasang Nemu-san untuk pergi ke markas mereka.”

“Hah?!” Renji sedikit kaget.

“Tapi—”

“Dan juga, Oomaeda-san juga membayar mahal Kurotsuchi-san untuk membuat alat seperti ini agar dia bisa dengan cepat pergi dari rumah ke markas divisinya.” Imbuh Urahara.

“Baiklah kita akan gunakan alat ini. Toh sudah banyak juga yang pakai.” Gumam Rukia. Renji tersenyum penuh kemenangan.

“Kukira Kuchiki-san juga sudah setuju, penjelasan alatnya saya sudahi kalau begitu~”

Rukia sedikit kesal karena semua pikirannya seakan terbaca dengan sempurna oleh urahara.

“Kalau begitu, Kuchiki-san, Abarai-san, semoga kalian bahagia… silakan hubungi aku bila ada yang perlu ditanyakan nanti. Aku siap memberikan saran dan petunjuk sebaik mungkin.”

“Harusnya kita tak perlu takut mendapatkan saran dari mantan pendiri Litbang ini.” Gumam Renji.

“Harusnya sih.”

Berapa kali orang itu membantu mereka? Tak peduli seterpuruk apapun situasinya, dia selalu punya jalan keluar untuk mengatasinya. Jantung Rukia berdegup penuh syukur.

“Selanjutnya perlu diketahui, rekaman suara ini tidak akan berhenti otomatis, selama kotak ini terbuka makan rekaman ini akan berulang lagi—Haaaai, sudah lam—”

Rukia dengan cepat menutupnya. Renji kemudian mengikatnya agar tidak terbuka lagi.

“Aku baru tahu kalau Urahara-san orangnya seperti itu.” Gumam Richiki menyesal.

Bagi Shinigami yang belum bertemu dengan Urahara, mereka hanya tahu prestasi gemilang Urahara melalui Seireitei Communication. Ada yang menganggapnya sebagai Pahlawan, seperti halnya Richiki.

“Sebenarnya aku juga mengaguminya—hingga aku bertemu dengannya—” Ucap Ryuunosuke kecewa seakan sudah tak mengaguminya lagi.

Ryuunosuke menghela nafas. Sudah Rukia duga kalau pekerjaan Ryuunosuke selalu dijahili oleh lelucon Urahara di sana.

“Yah—kalau Urahara-san sampai gak dihormati oleh Ryuunosuke bukannya itu hal bagus? Dia pasti senang hidup di Dunia Manusia sana. Bukannya begitu?” Ucap Renji sambil tertawa.

“Benar sekali—” balar Rukia lembut sembari mengangguk.

Table of Content

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *