Bleach: We Do Knot Always Love You (chapter 2 part 2)

Font Size :
Table of Content

Iba mengajak keduanya ke divisi 7, mereka diminta untuk mandi dulu. Sementara itu, Iba menyiapkan nasi dan sup. Selesai mandi, keduanya mengenakan baju baru yang disiapkan Iba dan duduk di depan hibachi—alat pemanas tradisional—dan makan cemilan. Komamura awalnya tidak mau diajak ikut, tapi dia dipaksa oleh Urui dan Souma, sekarang dia duduk di sudut ruangan.

“Jadi, bagaimana kalian bisa sampai ke sini?!” Iba bertanya sambil mengenggak sake.

“Kami sembunyi di gerobak paman.”

“Souma, Tetsu-san gak akan ngerti kalau kau langsung bilang gitu. Tetsu-san, tidak apa-apa kami cerita? Agak panjang ceritanya—”

Sambil memandang, Iba mengangguk. Urui meletakkan mangkuk supnya dan mulai bicara.

“Karena Klan Werewolf selalu tinggal di dalam gua, kami hamper tak tahu apa-apa tentang dunia luar. Bahkan kalau kami nanya ke orang dewasa mereka juga bilang tidak tahu. Jadi kami ingin melihat sendiri, kami menyelinap keluar dari gua saat tengah malam.”

“Kami ke kota sebelah! Bintang-bintangnya bagus sekali—”

“Klan Werewolf hidup dari berjualan permata dan hasil tambang. Kami tahu sebulan sekali orang dewasa akan keluar gua untuk menjual hasil tambang atau menukar dengan pakaian dan lainnya. Kami mengikutinya. Karena maal itu gak ada orang, kami pergi melihat-lihat sekitar.”

“Lalu kami ketemu paman.”

“Orang itu yang selalu mengangkut hasil tambang kami.”

“Buku ini—dia yang memberikannya.” Souma menyisihkan makanannya dan mengangkat serta memeluk Seicom miliknya.

“Karena kami tahu paman selalu ada di sana saat orang dewasa sedang barter dan menjual hasil tambang. Kami sering bertemu dengan paman. Kami mendengar banyak cerita tentang dunia luar dari paman… tentang Gotei 13, ada Ryoka yang menyusup, pertempuran untuk melindungi dunia manusia dan berang besar yang menggugurkan banyak Shinigami.”

“Ternyata banyak Shinigami divisi 7 yang meninggal. Sajin-sama juga dikabarkan gugur. Kami tak percaya. Orang besar, kuat dan keren seperti Sajin-sama tidak akan mati!”

“Jadi kami memutuskan untuk pergi dan membuktikannya, jika Sajin-sama benar-benar meninggal, kami akan menjadi Shinigami menggantikannya.”

Hembusan bara hibachi bersinar di kedua mata mereka. Warna orange bercampur merah tampak seolah-olah mata mereka terbakar.

“Jadi kami menceritakannya pada ibu kami, tapi kami dimarahi dan dilarang melakukan hal ceroboh seperti itu. Ibu mengunci kami di kamar hingga kami tak bisa keluar lagi. Siang harinya orang dewasa juga mengawasi kami. Tapi, ayah tiba-tiba mengajak kami saat ingin menjual hasil tambang ke kota.”

Ibu mereka awalnya tak mengijinkannya, tapi sang ayah berkata. “Mereka mungkin ingin jadi Shinigami karena tak kuat berada di sini terus, biarkan mereka melihat dunia luar sebentar untuk menenangkan mereka.”

“Ayah kami melakukan transaksi dengan paman, kemudian ayah bilang “Anda mau mengantar anak-anak ini ke Seireitei?”.”

“Waktu itu ayah menyerahkan permata merah dibungkus kain, aku melihatnya.”

“Kupikir itu rubi, untuk biaya kami. Ayah sempat berkata ‘ikutilah jalan Sajin-sama yang sudah terbuka’ sambil tersenyum.”

Melihat sosok ayahnya yang melambaikan tangan dengan bangga, tiba-tiba Urui berpikir kalau ayahnya dulu ingin menjadi Shinigami dan menyerahkan mimpinya pada mereka berdua. Teringat ayahnya, mereka Nampak kesepian. Ruangan menjadi tenang, hanya suara arang yang berderak.

“Paman memberikan kami kain untuk menutup wajah kami. Jadi kami memakainya dan berjalan melewati rokungai selama beberapa hari. Lalu kami dia sembunyika di kotak kayu saat melewati gerbang besar.”

“Untung kami tidak ketahuan. Tapi kami tak boleh turun di sembarang tempat, jadi kami dibawa ke pabrik yang disebut Omaeda Jewels.”

“Perusahaan Oomaeda membeli bahan perhiasan dari klan kami.”

Omaeda Jewels adalah salah satu pabrik perhiasan di Soul Society milik keluarga Oomaeda. Niibantai Fukutaichou, Oomaeda MArechiyo punya pabrik sendiri Oomaeda Gem-Precious Metals Factory dimana seluruh produknya adalah hasil karya Marechiyo sendiri. Iba justru baru tahu kalau mereka memasok bahan perhiasan dari Klan Werewolf.

“Jadi pertama kami harus bertemu dengan Tetsu-san. Kami menanyakan letak Divisi 7 pada paman. Kami berjalan di malam hari agar tidak ketahuan oleh manusia, kami melewati pegunungan dan hutan. Lalu malam ketiga kami mencium bau serigala—”

“Kami kira Sajin-sama masih hidup. Kami mengikuti aromanya hingga sampai di gua dan ternyata memang Sajin-sama!!”

Pada saat itu kegembiraan mereka kembali. Souma berdiri dan melompat-lompat.

“Kami menceritakan semuanya pada Sajin-sama dan Sajin-sama bilang ‘Tetsuzaemin pasti akan membantu kalian’ pada kami.”

“Bentar! Kalian bisa mengerti ucapan Taichou?!”

“Eh?! Memangnya Tetsu-san gak ngerti?!”

“Souma, orang lain tidak bisa mengerti Bahasa serigala, itu wajar saja…” ucap Urui.

Souma dengan sedih menurunkan ekornya dan berjalan ke Komamura, duduk di sampingnya.

“Sajin-sama, apa ada yang ingin anda katakana pada Tetsu-san? Aku bisa menyampaikannya—” Souma mendekatkan telinganya ke Komamura. Komamura menggonggong pelan. Menangkap kata-katanya, Souma kembali ke depat hibachi sambil tersenyum.

“Apa yang taichou katakana?!”

“Pertama-tama Sajin-sama ingin Tetsu-san berhenti memanggil Taichou karena Tetsu-san yang taichou sekarang. Sajin-sama tidak nyaman dipanggil begitu—”

“Aku—mengerti—maaf ta—eh, Sajin-dono.” Menghadap ke komamura, Iba menundukkan kepalanya.

“Dan satu lagi. ‘Tetsuzaemon sangat cocok untuk mengasuh anak-anak’!”

“Huuuuuh?!”

“Hahahahaha… kukira juga begitu, Sajin-sama!”

“Iya sama—aku juga kira begitu!”

Melihat kedua anak kecil yang tertawa itu, Iba sedikit malu dan menenggak sakenya.

“Apa yang sedang anda lakukan, Iba Taichou?!”

Iemura Yasochika Fukutaichou datang memperingati Iba. Namun kata-katanya hilang ketika melihat apa yang ada di sana.

“Siapa anak serigala ini?” Gumam Iemura dalam hati. “Jangan-jangan serigala besar dipojokan itu Komamura Sajin-sama yang dulu. Jadi mereka berdua satu klan dengan Sajin-sama?!”

“Ah, aku tahu orang itu!” Teriak Souma. “Dia itu Daisanseki Yonbantai.”

“Kalau aku gak salah, Dia adalah Iemura-san. Tetsu-san, kenapa ada anggota Yonbantai di sini?!”

“Mungkin kalian baca di majalah itu dia masih di Yonbantai, tapi sekarang dia adalah fukutaichou-ku.”

Mendengar hal itum Urui dan Souma bertukar pandang. “Fukutaichou?” bergegas mereka mendekati Iemura.

“Senang bertemu dengan anda. Saya Urui dari klan werewolf.”

“Saya Souma.”

Bersama-sama mereka berkata, “Senang bertemu denga nada, Iemura Fukutaichou.” Dan mereka membungkuk.

“Kalian sopan sekali— Aku Iemura Yasochika, Shicibantai Fukutaichou.“

“Anak-anak ini, aku akan mengurus mereka bedua!”

“Tetsu-san, anda menerima kami?”

“Horeeeee!”

Keduanya melompat melewati hibachi dan memeluk Iba. Dari bali kacamata hitamnya, iba menatap mereka dengan penuh kasih saying, dan mengelus-elus kepala mereka.

“Apa yang kau bisikkan Iemura?”

“Tidak?! Hanya saja taichou akhirnya bisa tersenyum juga—”

Ini pertama kalinua dalam setengah tahun melihat Iba dengan wajah tersenyum. Tentu saja dia memang orang yang tidak banyak senyum, setelah perang besar terjadi dan sejak pelantikan taichou, wajahnya selalu tegang dan keras.

“Hah? Pikirkan dulu kalau bicara—”

Iba mencoba melempar cangkir ke Iemura karena malu, tapi tiba-tiba Komamura menggonggong kecil menghentikan Iba. Tak lama kemudian Urui menerjemahkannya.

“Kau terlalu lelah karena banyak kerja. Cobalah sekali kali santai untuk meringankan bebanmu,”

Iba menjatuhkan tangannya dan meminta maaf ke Iemura.

“Tak perlu minta maaf—lagipula ini juga mendadak begitu, saya mengerti kalau sampai ditegur begitu. Kalau berkenan saya juga ingin bicara—”

Iemura mendekar ke hibachi, dia duduk di depan Iba.

“Iba taichou, saya yakin anda memang sedikit keras kepala. Anda berlatih hingga larut malam, terlepas saya terlambat menyembuhkan anda, sepertinya saya duduk di fukutaichou karena saya dari Yonbantai. Bahkan saat saya meminta anda untuk istirahat sebentar anda pasti tidak mendengarkannya, bahkan anda menghabiskan hari libur anda untuk berlatih dan berlatih. Melihat taichou seperti itu para anggota juga ikut berlatih sepanjang waktu, mereka masuk ruanganku dalam keadaan patah tulang atau sekadar tulang retak. Semua orang bilang ingin menjadi sekuat taichou, aku ingin bisa membantu taichou suatu hari nanti. Anda memang seorang taichou yang luar biasa. Kecuali hanya satu, anda seperti tidak menghargai fukutaichou anda—”

Iemura bicara seakan tanpa bernafas, dengan takut dia mengangkat wajahnya. Iba mengulurkan secangkir sake padanya.

“—terima kasih banyak.”

Iemura menerimanya dan tetap dia saat sake dituangkan.

Para serigala yang kelelahan tertidur di lutut Iba. Masih dengan hangatnya hibachi, keduanya—Iba dan Iemura—melanjutkan minum dan mulai bicara satu sama lain.

“Sudah— Gimana, cocok tidak?”

Setelah selesai membuatkan lubang di bagian ekor seragam mereka, Iba mengembalikannya pada keduanya.

“Makasih Tetsu-san! Coba sekarang aja ya—” Ucap Souma tergesa-gesa asambil mencoba untuk memakai seragamnya.

“Tunggu… tunggu…” Iba menhentikannya. “Buat besok saja, aku juga harus kembali kerja.”

“Owh—baiklah.” Souma dengan kecewa menyimpan kembali seragamnya.

“Souma, ayo kita balik—” Urui mengajak pulang.

Sembari melambai pada Iba keduanya berlari ke arah gang tempat mereka datang tadi.

Rukia dan Renji yang dapat nomor antrian cukup besar dari Biro Administrasi memutuskan untuk mengunjungi Divisi 7 yang cukup dekat. Di gang samping asrama anggota divisi 7.

“Tunggu—mereka anak-anak yang cukup popular itu, kan?” Gumam Rukia.

Si Adik, Souma memang cukup popular dikalangan para murid. Dia terkenal begitu lucu diantara para murid perempuan.

“Sangar—ada dua fukutaichou!” Mata Souma berkilau melihat Renji dan Rukia yang berjalan mendekat.

“Tetsu-san! Ada Abarai Fukutaichou dama Kuchiki Fukuitachou nih!” Urui kembali ke belakang untuk memanggil Iba.

“Yo, Serigala muda—siapa namamu?!” Renji memmbungkuk, tatapannya sejajar dengan mata Souma.

“Aku Souma. Mulai besok, aku adalah Shinigami Shicibantai!” Ucap Souma semangat”—Eh, kereeeen! Aku pengen punya rambut warna seperti itu!”

“Hehehe—iya gitu? Rambut merah begini?!”

Souma mengibas-ngibaskan ekornya. “—Iya.”

Rukia mendekat seakan tetarik oleh ekor Souma yang bergoyang-goyang. Tiba-tiba telinga Souma bergerak-gerak dan mulai mengendus. Mengikuti aroma yang dia cium, hidungnya semakin mendekat ke tubuh Rukia.

“hei—hei—” Renji memegang bagian kerah bajunya dan mengangkat Souma kecil.

“Tidak boleh mengendus perempuan seperti itu, tidak baik!”

“Jangan seperti itu—tidak baik.”

“Ma—maaf! Tapi aku mencium aroma manis—”

Mendengar kata manis Rukia mengeluarkan sesuatu dari lengan bajunya.

“Ah, ini?!” Rukia mengeluarkan kentong kecil, membukanya dan menunjukkan pada Souma.

“—Permeeeeen!” Teriak Souma.

Melihat permen berwarna-warni itu tanpa sadar dia menjilat ujung hidung sendiri. Rukia menutup kantong itu dan menyerahkan pada Souma.

“Buatmu, jangan lupa bagi sama kakakmu—”

“Yaaaaay—”

Souma mengangkat bungkusan yang diberikan oleh Rukia kegirangan. Dari belakang, Urui kembali setelah memanggil Iba.

“Terima kasih banyak Kuchiki Fukutaichou.” Ucapnya sopan. “Souma, ayo kita pergi—kita harus melihat-lihat wilayah dekat sini.”

“Ah iya! Tetsu-san, terima banyak buat lubang ekornya—”

“Tetsu-san, sampai jumpa besok! Permisi Abarai Fukutaichou, Kuchiki Fukutaichou.”

Mereka lalu pergi sambil berlomba lari.

“Mereka bersemangat sekali—”

“Kudengar mereka juga cukup popular di akademi—” Ucap Rukia. “Ekor mereka lucu sekali.”

“Ngomong-ngomong, ada perlu apa kalian kemari? Sepertinya kalian juga tidak dalam bertugas.”

Renji mengenakan seragam Shinigami biasa tampa badge fukutaichou di lengannya, sedangkan Rukia memakai Kimono biru kehijauan. Iba memegang dagunya sambil melihat kedua pasangan itu.

“Kami akan menikah—”

“Walau begitu, kami akan tetap menjadi Fukutaichou. Jadi kami mohon dukungan dan doanya.”

“Ah begitu! Sesama fukutaichou menikah, ini kabar bagus!” Iba bertepuk tangan sebentar. Lalu dia teringat sesuatu. “Jadi—sekarang kalian dengan menunggu antrian di Biro Administrasi?”

“Ya begitulah—”

“Sekalian saja kali berkunjung ke Iba Taichou, maaf sudah mengganggu.”

“Tidak apa-apa, lagipula semua orang pasti juga sibuk di saat-saat seperti ini. Terima kasih sudah berkunjung.” Iba menepuk bahu Rukia pelan, dan menepuk pundak renji dengan tinjunya.

“Aduh!”

“Kerja bagus, Abarai!”

Iba menyeringai. Renji mengiyakannya sambil membungkuk.

“Aku harus kembali kerja. Banyak dokumen yang belum aku periksa. Semoga kalian bahagia.” Iba melirik dokumen yang terselib dibawah lengannya. Lalu dia berjalan kembali setelah Renji dan Rukia juga kembali ke Biro Administrasi.

“Renji… apa Iba Taichou memang seperti itu dari dulu?”

“Aku juga tak terlalu begitu mengenalnya—”

“Hmmm begitu?” Rukia Nampak sedang memikirkan sesuatu.

“Memangnya ada apa?!”

“Aku juga tak terlalu mengenal iba Taichou, tapi aku terkejut saat melihat dia bisa langsung akrab bicara begitu. Awalnya kukira akan susah buatku bicara dengannya—”

“Yah—Iba taichou memang bukan tipe yang suka bicara.” Ucap Renji.

“Tapi apa ya—seperti hmmm— Iba Taichou terlihat lebih lembut dan penyayang.”

“Mungkin ada hubungannya dengan serigala muda tadi.”

“Yah—mungkin Iba taichou berubah karena menjadi orang tua mereka.”

Rukia tersenyum sambil meratapi masa lalunya, bagaimana kalau dia dulu tidak dimasukkan dan bertemu dengan orang-orang divisi tiga belas.

Table of Content

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *