Bleach: We Do Knot Always Love You (chapter 2 part 1)

Font Size :
Table of Content

Kediaman Keluarga Kuchiki.

Seminggu telah berlalu sejak Rukia mengundang teman-temannya untuk mengumumkan pernikahannya dengan Renji.

“Nii-sama!”

Pagi-pagi Rukia menghampiri Byakuya. Selesai menyiapkan segalanya Kuchiki Byakuya keluar dari kamarnya karena panggilan Rukia. Rukia sudah duduk dengan kaki terlipat.

“Hari ini saya akan pergi untuk Nyuseki.”

Nyuseki adalah proses mendaftarkan pernikahan di Biro Administrasi. Setelah membungkuk dan mengangkat wajahnya, Byakuya menatap Rukia dengan mata lembut.

“Begitu… apa kau sudah mendaftar di Kininkai?”

Rukia memiringkan kepalnya saat mendengar kata Kininkai, dia tak mengerti.

“Kininkai? Bu—bukannya saya hanya perlu ke Biro Administrasi?”

“—Chiyo.”

“Ya, saya di sini, Byakuya-sama.”

Segera menjawab panggilan dari belakang Rukia. Chiyo ternyata sudah berada di sana sembari membungkuk.

“Tolong jelaskan pada Rukia.”

Tanpa berkata apa-apa lagi, Byakuya memberikan perintah dengan singkat.

“Baik, Byakuya-sama.”

“Aku permisi dulu—”

“Hati-hati, Byakuya-sama.”

“Hati-hati, Nii-sama.”

Chiyo berkata masih dalam keadaan duduk dan membungkuk. Rukai berdiri dan memandang punggung Byakuya hingga tak terlihat lagi.

“Jadi… Chiyo, apa itu Kininkai yang dimaksud Nii-sama tadi?”

Rukia kembali ke kamarnya bersama dengan Chiyo, Renji juga baru datang dan ikut bergabung dengan mereka.

“Kininkai itu Pertemuan Bangsawan. Dalam pernikahan anggota empat bangsawan agung diwajibkan menyerahkan dokumen ke Pertemuan Agung ini, dan akan dipresentasikan oleh kepala keluarganya sendiri.”

“Aku mengerti sekarang—”

“Dimana Pertemuan Agung itu?”

Saat Renji bertanya, Chiyo tertawa kecil. “Sabar dulu, Renji-sama.” Lalu dia membentangkan selembar kertas yang dia libat dan dia simpan disela punggung.

“Biarkan Chiyo ini yang menjelaskan proses Nyuseki ini dengan lengkap—”

Di atas kertas yang diberi judul ‘Proses Nyuseki Rukia-sama dan Renji-sama’ itu terdapat banyak detail tulisan kecil rapi. Chiyo menjelaskannya satu persatu tentang proses pendaftaran pernikahan yang ada di Soul Society.

“Ribet sekali—”

“Ya ampun—ini bahkan bisa mematahkan semangat seseorang untuk menikah!”

Mendengar penjelasan Chiyo, kedua pasangan itu menghela nafas, memegang kepalanya dengan kedua tangannya. Namun mereka masih bisa menangkap apa yang dijelaskan oleh Chiyo.

Untuk pernikahan warga dalam Seireite, mereka diwajibkan mendaftar di Biro Administrasi Bagian Pencatatan Personalia (Sektor 7). Untuk pernikahan tantara Gotei 13, mereka diwajibkan mendaftar di Biro Administrasi Bagian Pencatatan Resimen (Sektor 4). Untuk Pernikahan Buntaichou diwajibkan mendaftar di Bagian Administrasi Pangkat Tinggi (Sektor 6). Untuk pernikahan bangsawan diwajibkan mendaftar di Majelis Bangsawan (Sektor Pusat). Untuk pernikahan Empat Bangsawan Agung diwajibkan mendaftar di Kininkai, calon suami dan istri ikut datang bersama dengan kepala keluarga. Terakhir melaporkanke Taichou/Fukutaichou di seluruh Divisi Gotei 13.

“Oh iya, Kininrai buka dari jam 09.00 sampai jam 11.00. Jadi mohon sesuaikan jadwal dengan Byakuya-sama juga.”

“Hmm—begitu—”

Chiyo mengangguk dan melihat jam tangannya.

“Jika anda pergi sekarang—dan sudah terbiasa dengan shunpo, saya kira bisa selesai sampai Bagian Pencatatan Resimen.”

“Tak bisa semuanya? Bahkan dengan bershunpo sekalipun? Sekarang masih—”

“Sudah jam tujuh lewat Sembilan menit.”

“Sekarang?! Aku mengerti Kininkai itu wajib. Semoga saja terkejar sampai bagian Majelis Bangsawan.”

“Renji-sama, Biro Administrasi itu sangat ramai. Tak mungkin berkas anda langsung ditangani saat itu juga—”

Biro Administrasi bagian Pencatatan Personalia terkenal dengan antriannya, apalagi disaat-saat seperti sekarang. Mereka juga mencatat orang-orang yang keluar masuk Seireite setiap saat, bahkan bisa antri sepanjang hari bila sedang sibuk.

“Renji, ayo cepat, Chiyo tak mungkin hanya menakut-nakuti kita. Chiyo, apa kau keberatan kalau aku pinjam catatanmu?”

“Tentu saja tidak.”

Chiyo dengan senang hati melipat kertas itu dan mengulurkannya ke Rukia.Rukia menyimpannya di sakunya dan menepuk bahu Renji.

“Ayo cepat!”

Marriage Registration 2

Shicibantai—Markas Divisi 7

Sambil ditemani Goro, anjing peliharaan Shicibantai, Kapten Divisi 7, Iba Tetsuzaemon, berkeliling untuk mengumpulkan laporan kemaren.

Biasanya, masing-masing anggota menyerahkan laporan hasil kerjanya bila sudah selesai hari itu juga. Namun Komamura punya metode lain, “Morning Collection Walk”, dimana dia mengumpulkan laporan anggotanya yang sudah dikumpulkan di depan kantor mereka keesokan harinya. Kebiasaan ini Iba lanjutkan hingga sekarang.

Setelah terkumpul semuanya, Iba mengembalikan Goro ke kandangnya, dia duduk di bangku samping kendang Goro, tepat dibawah pohon Yamamomo. Angin sepoi menambah kenyamanan di sana. Iba mengeluarkan laporan, memindahkan kacamata hitam ke keningnya dan membacanya dengan seksama. Sekali-kali dia menandai laporan itu dengan tinta merah.

Ketika setengah laporan sudah di abaca, Goro tiba-tiba mengelus-eluskan punggungnya ke kaki iba. Lalu melompat-lompat kecil.

“Kenapa Goro?!”

Goro menggonggong sekali, dia melihat ke arah gang di samping gedung dan mengibas-ngibaskan ekornya penuh semangat. Tak lama kemudia dari gang itu datang dua serigala muda yang mengenakan hakama murid, menunjukka mereka adalah murid Akademi Shinigami. Mereka mulai berlari.

“Urui! Souma?!”

“Tetsu-saaaaaaaaaan!!”

Sang kakak, Urui, berbulu abu-abu melompat ke kaki kanan Iba ketika dia berdiri.

“Tetsu-san, Tetsu-san!”

Sang aidk bernama Souma dengan bulu putting gading juga melompat ke kaki kiri Tetsu. Goro ikut senang sambil melompat-lompat mengelilingi mereka.

“Ada apa ini kok pagi-pagi sudah di sini?!”

Setelah mengelus-elus kepala mereka, Iba menganggakatnya dan menurunkan kembali ke tanah.

“Karena kami akan magang mulai besok, hari ini kami diperbolehkan untuk melihat-lihat divisi tempat kami ditempatkan sementara.” Ucap Souma.

“Ini libur terakhir sebelum kami sibuk lagi.” Tambah Urui. “Jadi Tetsu-san, kami—”

Sambil menarik lengan Urui, Souma menghentikan kalimat kakaknya.

“Kakak tak adil, aku juga ingin mengatakannya!”

“Yaudah kita katakana barengan!”

“—kami ditugaskan di Shicibantai!”

Anak-anak serigala—seperti Komamura—yang tingginya hanya sepinggang Iba itu menatap dengan mata bundarnya.

“Kalian berdua?! Luar biasa!”

“Benar! Hebatkan?! Kemungkinannya 1 banding 13 dan 1 banding 13”

“1 banding 169!”

“Nah itu, Kakak kok cepet sekali ngitungnya.”

“Iya dong!” Urui berkacak pinggang sambil membusungkan dadanya, ekornya bergoyang goyang ke kanan dan ke kiri.

Biasanya, peserta magang ditempatkan secara acak untuk divisinya. Mungkin karena mereka seperti Komamura, dan mempertimbangkan Iba, urui dan Souma diletakkan di tempat Iba memimpin, pikir Iba.

“Ah iya, Tetsu-san! Kami mau Tetsu-san membuatkan lubang di seragam kami yang baru, seperti waktu itu. Kami sudah dapat Shihakushou kami dari sensei hari ini.” Urui membuka tasnya dan menyerahkan shihakushou beserta kotak kecil berisi peralatan jahit.

“Aku juga—aku juga—” Souma juga mengeluarkan seragam Shinigami miliknya.

“Tentu saja—meski aku bukan ibu kalian—”

Meski begitu, Iba membuka kota jahit dan mulai bekerja. Bertolak belakang dengan penampilannya, Iba sangat mahir dalam urusan rumah tangga dan menjahit sekalipun, dia bisa melakukan apapun. Tangan iba mulau melubangi bagian belakang seram Urui dan menjahitnya.

Kedua serigala bersaudara itu duduk di samping Iba, mengawasi Iba, terpikat dengan keahlian Iba.

“Oh iya tetsu-san, kami menemui Sajin-sama kemaren malam. Kami memberitahunya kalau kami akan magang besok.” Ucap Urui sambil melihat ujung jarung yang gesit melepati kain hitamnya.

“Kalian kabur dari asrama lagi?!”

“Gak kok, kami pergi saat pelajaran berburu ayam pegar besar—” Souma membentangkan kedua tangannya dengan senyuman lebar.

“Hmmm—begitu—”

“Ayamnya enak banget—” Souma menjilat-jilat bibirnya.

“Gak boleh gitu—jorok—” Ucap Urui. “Oh iya, Sajin-sama ingin bilang ke Tetsu-san kalau sebagai seorang pemimpin harus lebih menjaga diri sendiri sebelum menjaga orang lain.”

Mendengar kata Urui, Iba berhenti bergerak.

“Sajin-sama tahu saat Tetsu-san berada di lapangan latihan hingga larut malam.” Souma terkikik.

“—dia bisa melihat semuanya—aku memang belum ada apa-apanya disbanding Sajin-dono.” Iba menghela nafas lalu tertawa kecil.

Komamura Sajin menggunakan teknik rahasia Jinka no Jutsu—Humanification saat mengalahkan musuh Genryusai, pada akhirnya dia harus membayar harga mahal, Komamura berubah menjadi binatang sepenuhnya—serigala— setelah itu. Saat dalam bentuk serigala, Komamura bertahan hingga perang itu selesai, dia tinggal di bukit di belakang lapangan latihan Divisi 7. Iba melaporkan kalau Taichounya gugur dalam perang.

Para taichou dan fukutaichou masih bisa merasakan reiatsu milik Komamura—walaupun jauh lebih tipis jika dibandingkan dengan sebelumnya. Namun, untuk menghormati keputusan Iba dan Komamura mereka menganggap Komamura gugur dalam perang.

Sempat beredar kabar hangat kalau ada serigala besar yang tinggal di bukit belakang divisi 7, semua orang mengira itu ada Komamura Sajin. Namun, kabar itu perlahan menghilang seberjalannya waktu.

Suatu malam, setengah tahun berlalu sejak Komamura tinggal di lereng bukit. Iba merasakan seakan Komamura memanggilnya. Dia melompat dari kasur, mengambil haori dan bergegas keluar.

“Ya ampun—dinginnya—”

Iba berjalan di lapangan latihan, Komamura duduk di kaki bukit tertutup rumput. Ketika melihat Iba, Komamura bangkit dan melolong kecil. Lalu dia menuntun Iba ke atas bukit. Iba dipandu hingga ke depan sebuah lubang, berdiameter kira-kira satu meter.

“Ada apa di dalam sana?!” Iba membungkuk dan memusatkan pandangannya ke dalam lubang yang gelap gulita.

“Siapa?! Sajin-sama?!”

Iba kira itu hanya pikirannya saja yang mendengar suara kecil. Komamura lalu melolong ke arah lubang. Kemudian dua bocah werewolf merayap keluar. Mereka memakai baju using, bulu mereka begitu kotor, hanya mata orange mereka yang begitu terang.

“Ini—anak-anak werewolf?!”

Melihat iba yang terkejut, kedua anak serigala itu bilang “Wooow” dengan suara keras.

“Dia—Iba Tetsuzaemon-san!”

“Keren… kereeeen… Ini Tetsuzaemon-san yang asli!”

Kedua bocah itu bergembira berputar mengitari Iba.

“Sajin-sama memanggilnya ke sini! Terima kasih banyak.” Si bulu abu-abu memeluk leher Komamura, Komamura mengendus-endusnya sebagai balasan.

“Tetsu-san, kami ke sini karena ingin jadi Shinigami!” Si anak putih gading melompat sambil memeluk pakaian Iba. Dan tiba-tiba teriak sendiri. “Oh iya—saat bertemu dengan orang, harus memperkenalkan diri dulu.”

Keduanya langsung duduk depan Iba.

“Senang bertemu dengan anda! Aku Urui dari Klan Werewolf! Aku kakaknya—”

“Aku biasa dipanggil Souma! Aku adiknya—”

“—senang bertemu dengan anda.” Serentak mereka berkata dan membungkuk.

“Aku Tetsuzaemon Iba, Shicibantai Taichou.” Iba juga membungkuk.

“Kami dah tahu—” Souma tertawa. “Kami membaca ini dan ingin menjadi Shinigami.”

Urui mengeluarkan sebuah majalah using dari sakunya, dia menunjukkan ke Iba. Itu ada Seireitei Communication Edisi Spesial Divisi 7 yang sudah terbit beberapa tahun lalu.

Table of Content

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *