Bleach: We Do Knot Always Love You (chapter 1 part 7)

Font Size :
Table of Content

“—Kami akan menikah!”

Renji mengutarakannya, Renji dan Rukia membungkuk dalam-dalam.

Sesaat terdiam. Ketika keduanya mengangkat wajah mereka, Rangiku menyeringai dan bertepuk tangan.

“Selamat—”

“Hebat sekali, Abarai”

“Selamat— selamat—”

Ikkaku dan Yumichika juga bertepuk tangan. Satu persatu mengucapkan selamat dan bertepuk tangan.

“Errr… terima kasih banyak, kami senang sekali. Tapi… kenapa semuanya tidak terkejut?”

“Sebenarnya sih kami terkejut tapi—”

Rangiku menyeringai saat melihat Renji dan Rukia senang sekaligus kebingungan.

“Jadi, kalian sudah tahu?”

“Apa pengumuman penting. Kupikir kalau Rukia-chan gak ada di list penerima. Siapa yang gak mikir sebaliknya?”

Hinamori setuju dengan ucapan Yumichika. Dia tersenyum dan mengangguk.

“Karena hanya aku dan Yamada yang dikirimi pesan oleh Kuchiki. Kupikir pengumuman apa. Hingga sampai ke sini dan rupanya sudah ada di sini semua dengan tempat seperti ini.”

“Benar, melihat penampilan tempat seperti ini sudah bisa ditebak apa yang akan kalian umumkan.”

Kiyone dan Izuru setuju dengan semuanya.

“A—ku malah gak tahu apa-apa!”

Saat Hisagi bergumam, Rangiku langsung berkomentar kasar.

“Yaelah, si Bego gak berlengan!”

“Apa hubungannya dengan baju gak berlengan coba!”

Tepat diseberang Hisagi yang sedang panas, Kiyone mengguncang bahu Hanataro dan bertanya.

“Hei—kenapa Yamada?”

“Hah! Aku Cuma kagum sampai-sampai ingin pingsan!”

Hanataro yang matanya terbuka lebar akhirnya bisa sadar kembali.

“Kau gak apa-apa, Hanatarou?!”

Melihat wajah Rukia yang cemas, dia langsung menjawab “Ya” pada Rukia, Hanatarou membungkuk pada Rukia dan renji.

“Maaf—bahkan di saat seperti ini—”

Renji tidak mempermasalahkannya dan tersenyum padanya sebelum mengatakan “Tidak masalah.”

“Uhh—Selamat Rukia-san, Renji-san! Pernikahan kalian berdua… benar-benar… aku sungguh senang mendengarnya! Aku tak tahu tapi aku ingin sekali mengucapkan terima kasih pada kalian berdua.”

Hanataro mencoba untuk tersenyum dan merenungkan ucapannya.

“Terima kasih Hanatarou—”

“—Terima kasih”

Melihat pasangan yang tersenyum senang mengucapkan terima kasih, yang lain ikut tersenyum senang.

“Sekali lagi, selamat Kuchiki! Renji!”

Ucap Rangiku.

“Selamat menempuh hidup baru, semoga menjadi keluarga bahagia!”

Saat Kiyone bertepuk tangan, yang lain ikut bertepuk tangan. Rukia tersenyum malu-malu, Renji tersenyum lebar.

Jalan menuju kebangkitan masih sangat panjang, banyak tempat yang hancur nan runtuh yang tak terjamah. Namun, dua orang yang membangun hubungan baru ini akan menjadi harapan baru bagi semua orang.

Hitsugaya bergumam dalam batinnya

“Hei—Anda menyeringai tadi barusan?”

Rangiku tertawa kecil sambil menusuk-nusuk Hitsugaya dengan ujung jarinya. Hitsugaya hanya bilang “Tak ada!”

“—Pasti butuh kerja ekstra menyiapkan ini semua, Abarai!”

Hisagi berkata sambil memandang sekeliling rungan yang begitu luas.

“Bukan aku, Rukia yang mengurusnya—”

“Aku juga tidak terlalu ngerti masalah restoran, keluargaku yang mengurusnya.”

“Yaaah—maklumlah restoran kelas tinggi begini.”

Rangiku mengangkat bahu.

“Ini pertama kalinya aku masuk kawasan elit. Menyeramkan~”

Kiyone tertawa saat Rukia justru minta maaf padanya.

“Katanya sih ini bukan restoran mewah, katanya ini yang popular—” Ucap Rukia.

Chiyo, pelayan pribadi Rukia yang memilihkan tempat ini. Dia adalah pelayan termuda di Kuchiki dan sangat akrab dengan Rukia. Karena itu pula Rukia mempercayakan masalah restoran ini pada Chiyo.

“Akan kusiapkan restoran yang sempurna buat anda untuk pertemuan nanti!” Rukia teringat akan kepercayaan diri Chiyo waktu itu, wajahnya penuh senyum.

Tempat ini memang sangat cocok untuk sebuah pertemuan, terlepas dari kenyataan kalau tempat itu bukan hanya terkenal.

“Yah—terkenal di kalangan Empat Bangsawan kali—”

Ikkaku menebak, yang lain justru mengangguk setuju.

“Tapi kupikir kita cocokloh masuk ke sini. Lihat, ada satu taichou, delapan fukutaichou dan dua orang daisanseki—”

Ucap Rukia sambil mengabsen siapa saja yang datang.

“Yaelah~ bukan masalah status kali, tapi ini masalahnya uang—”

Jawab Rangiku sambil mendesah.

“Ya ampun! Tagihannya!” Renji memegang kepalanya. Dia baru sadar masalah tagihan restoran ini. Dari ujung ruangan, nakai yang berada di sana membuka pembatas pintunya.

“—Abarai-sama”

“Iya?!”

“Semuanya sudah dibayar—”

“Eh?! Siapa?!”

“itu—katanya dari teman—kami hanya menerima informasi begitu—”

Kuchiki Byakuya!

Mereka langsung bisa menebak siapa.

“—Maaf, justru merepotkan Nii-sama.” Gumam Rukia. Hitsugaya lalu berkata.

“Bukan masalah baginya—dia sebenarnya senang kalian akan menikah.”

Sambil mengangkat kepalanya, Rukia mengusap air matanya yang sudah memenuhi matanya.

“Kita harus berterima kasih padanya.”

Renji berbisik pada Rukia, yang dibalas dengan anggukan setuju.

“Karena Sang Kepala Keluarga yang sudah membayar, jangan ragu lagi untuk makan apapun!”

“Walaupun Renji yang bayar, siapa juga yang akan ragu!”

Teriak Ikkaku dan Yumichika.

“Trus apa yang kalian banggakan?!” Gumam Hitsugaya melihat tingkah Ikkaku dan Yumichika.

“—Hinamori?! Kau sedang mencari apa?!”

Rangiku berkomentar melihat Hinamori yang melihat-lihat sekitar. Nampak malu Hinamori menunjuk ke meja kecil di sisi ruangan. Ada ukiran bagus di sana.

“Awalnya, kupikir ukiran di sini bagus semua. Tapia pa tak berlebihan hanya untuk perayaan seperti ini?”

Dalam ruangan—tokonoma itu ada gulungan yang digantung bertuliskan kaligrafi, bunga plum putih yang terangkai indah di vas, bonsai kecil nan indah. Serta lukisan sakura di fusuma—pintu geser.

“Memang agak berlebihan, sih—”

Izuru menyetujuinya, entah kenapa.

“Apa ruangan ini memang seperti ini saat digunakan untuk perayaan?”

Sang nakai kembali membuka pintu geser, tersenyum dan menundukkan kepalanya seraya menjawab.

“Kami melakukan persis apa yang sudah diperintahkan oleh teman anda—”

Semuanya kaget mendengarnya.

“Bisa merubah interior segala? Tapi—bukannya kamu memesannya baru pagi ini, Kuchiki?”

Untuk pertanyaan Kiyone, Rukia hanya mengangguk dan berkata “Ya”.

“Semuanya dilaporkan ke Nii-sama hari ini—”

Mungkin sudah disampai oleh Chiyo sebelumnya, itu yang ada dipikiran Rukia. Berbeda dengan Rukia yang kebingungan, yang lain justru tersenyum ringan.

“Kuchiki taichou— Apa ini gak terlalu canggung untuk sebuah perayaan?”

Ikkaku berkomentar, diikuti Yumichika dan Rangiku.

“Terlalu berlebihan sih. Jadi agak sesak gini.”

“Kuchiki taichou benar-benar payah dalam hal ini.”

“Setidaknya ini tidak ada tandingannya dibandingkan dengan ‘Gambar Dingin’ Kuchiki taichou— Tapi, setidaknya ini menunjukkan semangatnya karena adik perempuannya akan menikah.”

Hisagi menegaskan.

“Hahahaha— Meskipun mungkin Kuchiki taichou akan marah mendengar itu, kupikir ini sangat mengharukan…”

“Benar—” Hanataro terkekeh, setuju dengan Hinamori.

“Kupikir Kuchiki taichou ingin melalukan sesuatu sebelum Kuchiki-san pergi meninggalkannya.”

Izuru melihat interior yang dipenuhi dengan makna keberuntungan, desain dari seorang yang pendiam, sungguh diluar dugaan kalau ini berasal dari Kuchiki Byakuya yang tidak terlalu banyak bicara.

“Ini adalah bukti restu dari kakakku, terimalah—”

Ucap Hitsugaya, Rukia tersenyum sambil mengatakan “Iya”.

Saat pasangan ini menyampaikan niat untuk menikah pada Byakuya, dia hanya mengatakan beberapa patah kata.

“Aku mengerti—baiklah”

Setelah mengetakan hal itu dia pergi meninggalkan keduanya dalam ruangan.

Keesokan harinya dan seterusnya, karena tak ada yang berubah darinya, bahkan seakan tak terjadi apa-apa membuat keduanya begitu khawatir.

Namun hari ini, mereka mengerti kalau Byakuya melebihi dari apa yang mereka harapkan, merestui pernikahan mereka sepenuhnya. Pasangan ini merasa sangat lega karenanya.

“Renji, suruh yang lain makan~”

“Ah iya! Mohon bantuannya—”

Mendengar permintaan Renji, sang Nakai membalikkan tubuh ke arah mereka semua.

“Jadi—bagaimana kalau minum dahulu?” Tanya sang Nakai sambil membungkuk dalam duduknya.

“Tak masalah dong kita pesan apa aja, kan Kuchiki Taichou yang udah bayar! Bawakan sake yang paling mahal di sini ya~”

Rangiku terlihat sangat ceria, Ikkaku juga menambahkan. “Sama botolnya sekalian.”

“Tak tahu malu emang— Tolong bawakan juga gelas untuk semua orang di sini.”

Celetuk Yumichika.

“Eh, Taichou mana butuh gelas untuk sake. Kalian gak dengar mitos kita akan berhenti tumbuh kalau minum sake. Iya kan, Taichou?!”

Melihat seringai matsumoto yang semakin lebar, dahi Hitsugaya mengkerut.

“Ini acara khusus, aku ikut minum—”

“Yakin? Taichou gak akan tumbuh lagi loh sampai kapanpun. Taichou gak akan pernah terlihat dewasa seperti ‘Daiguren Hyourinmaru Handsome Edition’ waktu itu.”

“Sudah cukup Matsumoto! Lagipula namanya bukan itu!”

Rangiku bicara tentang penampilan Bankai Hitsugaya yang dia tunjukkan saat perang melawan Sternritter. Saat bunga es milik Daiguren Hyourinmaru lenyap, Bankai Hitsugaya akan menunjukkan bentuk sejatinya, Hitsugaya akan tumbuh menjadi Pemuda untuk beberapa saat.

“Benar Rangiku-san. Tapi bukannya namanya ‘Daiguren Hyourinmari Version Twou—The Noble Son of The Ice’? ”

“Kukira ‘Dai—Daiguren Hyorinmaru’, aja…”

“Ayasegawa, Madarame! Kenapa malah menamai seenak jidat kalian?! Dan Hisagi, kau sedang nulis apaan?!”

“Heeee—bukannya kalau dimuat di majalah Seireite Communcation ini akan jadi terkenal?”

“Jangan, bodoh!”

Di dekat mereka, Hinamori cekikikan menahan tawa, kemudian beralih ke nakai dan mengatakan, “Sake untukku.”

“Taichou, biarkan aku berfoto sama Versi Tampan darimu dong~ Waktu itu aku gak bawa Denreishinki, lagian habis itu aku harus ke tempat medis~”

“Bodoh!”

“Ngomong-ngomong, Apa yang kau lakukan waktu Rangiku-san?!”

“Aku? Kata Taichou waktu itu Soul Palace runtuh dan aku diminta membantu yang lain. Aku menhancurkan reruntuhan dengan Haineko sampai puingnya aman saat jauh ke Soul Society. Yah, yang penting aku sudah melakukan yang terbaik~”

“Begitu— Aku malah kena serang pertama dan hamper mati sepanjang waktu. Aku tak ingat jelasnya pffft… menyedihkan.”

Gumam Hisagi sambil menulis sesuatu di bukunya.

Di sebelah Kiyone, Hanatarou berbisik pada nakai saat memesan the hijau.

“Sudah lama sekali ya kita seperti ini.”

Renji tertawa kecil, Rukia juga mengangguk setuju. “benar.”

Sebelum perang terjadi, sehari-hari para Shinigami biasanya menghabiskan waktu sepulang kerja untuk minum bersama, berbaur antara divisi. Sekarang tiap divisi disibukkan dengan perbaikan Soul Society, pun jika ada waktu untuk minum bersama, mereka hanya bisa berkumpul sesame divisi saja.

Keduanya bersyukur karena mereka semua bisa hadir dalam acara ini.

Satu jam dan tiga menit telah berlalu sejak mereka menyantap makanan. Semuanya sudah mabuk, Rangiku, Yumichika dan Kiyone yang masih terlihat gigih diantara mereka.

“Jadi kapan resepsinya?!”

Ikkaku bicara sembari mengenggak sake mahal bak air putih murahan.

“Sudah kami bicarakan masalah itu berdua, dan kami sepakat kalau kami tidak akan mengadakan resepsi, kami hanya mendaftarkan pernikahan kami saja ke balai nikah.”

“Karena keadaan masih seperti ini, kami hanya bisa merayakannya seperti ini saja—”

“—tidak boleh!”

Rangiku tiba-tiba membentak dan mememukul meja hingga terdengar baaam. Dengan mata yang melotot, dia menunjuk-nunjuk pasangan itu.

“Ka—kalian harus mengadakannya!”

Rukia kebingungan.

“Justru karena keadaan begini— aku bosan dengan laporan tiap hari. Rumah ini sudah selesai, ini sudah bisa dibuka lagi. Kalian tahu? Hah?! Ini berita bagus—tapi terserah kalian deh!” Ucap Rangiku masih mabuk. “Tapi—waktu ada pesan dari Renji, aku sudah bisa menebak kalau masalah pernikahan kalian. Aku sudah sangat senang—setelah semua ini bagaimana bisa kalian tak mau mengadakan resepsi? Aaah aku tak terima pokoknya.”

Setelah mengatakan hal itu Rangiku tersenyum lembut, bukan karena pengaruh mabuknya. Daerah sekitar matanya juga terlihat memerah. Hinamori justru menangis seakan alcohol sudah mengalirkan kelenjar air matanya.

“A—aku juga ingin kalian mengadakan pes—taaaaaaaaaaa!”

“Cup—cup—cup—ya ampun Abarai, Kuchi—ki! Hinamori sampai nangis seperti ini loh. Kalian harus tanggung jawab! Adakan resepsi!”

Kiyone menyalak sambil memeluk kepala Hinamori erat-erat.

“Aku juga sependapat! Lagipula, Renji… seandainya kalian tidak mengadakan resepsi, tapi Kuchiki Taichou sudah mengaturnya, gimana?”

Ikkaku kembali mengosongkan gelas sakenya dengan satu tegukan.

“Lagipula—Kuchiki Taochou sudah mengatur pertemuan ini sampai seperti ini loh. Pasti dia juga ingin mengadakan resepsi pernikahan kalian. Jangan sampai nanti dia tersinggung~”

Mengatakan itu, wajah Yumichika penuh dengan ekspresi percaya diri menatap Renji.

“Awal dari kebangkitan—Abara, Kuchiki, Resepsi Pernikahan Istimewa Dua Fukutaichou! 50 Halaman dan berisi penuh foto pernikahan kalian… tidak buruk, loh.”

“Bukan waktunya menghubungkan hal ini dengan pekerjaan, Hisagi-san.”

Izuru mencoba menegur Hisagi.

“Jarang sekali ada pernikahan antara dua Fukutaichou, tak ada salahnya buat resepsi semeriah mungkin.”

Hitsugaya berkata, dengan tenang, sembari memiringkan gelas sakenya.

“—teri-ma—kasih, terima kasih banyak. Sungguh kami terharus sekali—”

Rukia memegang lututnyanya erat-erat, dia menatap renji.

“Ayo kita adakan resepsi pernikahan kita, Renji! Biarkan mereka merayakannya sepuas hati mereka—”

Meskipun keputusan yang dibuat Rukia dari paksaan yang lain, mata Rukia berkilau karena bahagia. Renji memukul telapak tangannya dengan tinjunya, dan membalas dengan senyuman.

“Baiklah—apa boleh buat—ayo kita adakan!” Ucapnya sambil tersenyum. “Semuanya, kalian semua akan datang, kan?”

Semua orang tersenyum dan mengangguk.

“Kalau begitu, aku perlu penyiapkan kimono secepatnya~ aku akan reservasi dulu untuk pengukuran.”

Rangiku terlihat sangat semangat. Dia mengeluarkan denreishinki-nya dan menulis beberapa pesan pada took baju langganannya.

“Hei Matsumoto—bukannya kau bilang kau punya kimono baru beberapa hari yang lalu? Kau bahkan belum sempat memakai semua bajumu, bahkan kemaren sampai mengambil lemari di ruanganku!”

Hitsugaya tidak begitu tertarik dengan fashion, dia Cuma punya baju seadanya saja. Di kamarnya hanya ada dua lemari awalnya. Dan beberapa hari yang lalu satu lemari sudah diminta dan dipindah ke ruangan Matsumoto. Dia tak mempermasalahkannya karena memang tak begitu dia gunakan. Masalahnya sekarang di ruangan Matsumoto sudah ada dua puluh lemari. Minat Rangiku pada fashion dan pakaian memang sangat tinggi. Yah tak mengherankan sebenarnya bagi Hitsugaya.

“Aku juga ingin kimono baru—”

“Ah, Hinamori, bagaimana kalau kita buat bareng-bareng?”

“Eh, Apa tak apa-apa? Aku mau sih—”

Kiyone tiba tiba mengangkat tangannya dan berteriak. “Aku juga—aku juga ikut!”

“Matsumoto Fukutaichou, aku juga ingin ikut!” Gumam Rukia .

“Kuchiki tidak boleh! Kan sudah ada Kuchiki Taichou yang mengatur kimonomu. Dia akan membuatnya dengan kualitas paling bagus. Tenang saja~”

Ucap Rangiku, Rukia sedikit malu dan menangguk setuju.

“Eeeerrrr—aku sama sekali tak punya pengalaman masalah ini—kira-kira apa yang pantas dipakai para laki-laki?” Hanataro bernyata dengan takut-takut mengangkat tangannya.

“Pakai Shihakusshou aja, toh tak apa-apa ini kan juga seragam kita. Lagipula aku tak punya uang untuk beli baju.” Ucap Hisagi.

“—begitu ya…” Sambut Hanataro.

“Yaelah, Hisagi-san itu bukan tidak punya uang, dia Cuma pelit keluar uang. Coba pegi saja ke took kain dan beritahu mereka apa yang ingin kau buat dan uang yang kau punya. Mereka akan pasti membantumu memilihkan bahan. Cobalah sekali-kali ke sana—”

“te—terima kasih Kira Fukutaichou.”

Hanataro menundukkan kepala pada Izuru berulang-ulang sampai dia dihentikan oleh Izuru.

“Aku harus pakai baju ala barat nih! Oh iya, kalian juga akan mengundang Ichigo dan Orihime-chan juga kan?”

“Tentu saja aku akan bicara pada mereka.”

Renji menjawab Yumichika. Kemudia dia bertanya pada Rukia. “Tak apa-apa, kan?”

Rukia mengangguk antusias, “tentu saja—”

“—sepertinya semuanya akan tambah sibuk mulai sekarang!”

Ucap Rukia dengan wajah yang terpancar senang.

Table of Content

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *