Bab 6 – Cleria (bagian I)

Font Size :
Table of Content

Sudut Pandang Cleria

Aku berhasil mendapatkan kembali kesadaranku. Namun aku sama sekali tidak ada petunjuk tentang situasiku saat ini. Sekarang sudah malam. Tapi sebelumnya, bukankah kami….

Aku tersentak bangun. Benar juga! Kami diserang oleh sekawanan Gray Hound! Semua orang dikalahkan satu persatu, dan hanya aku dan Kapten Antes yang tersisa.

Advertisements

Dan bahkan tangan kiri beserta kaki kananku… Aku mengangkat tangan kiriku dan mendapati semuanya di bawah siku menghilang. Aku lalu melihat kaki kananku… dan cukup yakin, bahwa semuanya di bawah tulang kering juga menghilang.

“Ah…”

Aku nyaris menangis, namun aku menahannya.

Apakah Kapten Antes yang merawatku? Aneh, aku tidak merasakan sakit samasekali.

Mungkin Fal berhasil bertahan hidup! Tapi aku ingat betul dia dibunuh oleh seekor Gray Hound sebelumnya.

Ketika aku melihat lingkungan sekitar, aku sekilas melihat sosok pria asing berjalan ke arahku.

………

Aku mendesah lega ketika melihat gadis itu siuman, tangisan keluar namun kemudian berhasil menekan hasratnya untuk panik. Sepertinya dia gadis yang cukup berkepala dingin. Aku perlahan mendekatinya.

“Hai. Selamat malam. Tidak ada yang sakit bukan?”

Aku memberinya salam dengan santai. Lagipula dia tidak akan paham apa yang kukatakan.

Poin pentingnya adalah mengajaknya bicara. Aku akan menyuruh nanom mengumpulkan dan menganalisis bahasa lokal sesegera mungkin.

……

Aku tidak paham kalimat yang dikatakan pria ini.

Penampilannya juga cukup aneh. Seluruh pakaiannya berwarna hitam legam dan beberapa bagian nampak halus. Saat aku melihat lebih dekat, kuperhatikan bahwa pakaian luarnya tidak memisahkan antara bagian atas dan bawah.

Bagaimana caranya dia mengenakan ini? Apakah langsung dijaitkan selagai dia mamakaikannya? Dan beberapa bagian anehnya memantulkan cahaya dari api unggun.

Apakah dia musisi jalanan? Tidak, kelihatannya bukan. Penampilannya cukup muda. Sekitar 20 tahun mungkin.

“Siapa kau? Apa yang barusan kau katakan?”

……

“Jadi tidak ada yang sakit. Syukurlah.”

“Malam ini tentunya menjadi tragedi yang memilukan. Namun jangan sampai membuatmu patah arang. Dalam kehidupan selalu ada sisi baik dan buruk. Dan hal-hal baik akan menyertaimu setelah kau melewati semua ini.”

Aku memberinya nasihat soal kehidupan.

……

Kupikir awalnya aku salah dengar, namun sepertinya pria ini benar-benar berbicara dengan bahasa yang sama sekali berbeda.

Tapi apa maksudnya ini? Setahuku, tidak ada satupun negara tetangga yang tidak kenal bahasa yang kugunakan.

Apakah dia berasal dari negara yang benar-benar asing bagi kami?

“Apa kau yang merawatku, tuan? Tapi mana yang lain?”

…..

“Oh yeah, kau pasti lapar? Aku punya makanan dan minuman disini.”

Aku mengambil botol air mineral dan beberapa ransum dari ranselku dan menyerahkan padanya.

….

Sudah kuduga. Pria ini tidak memahami bahasa yang kugunakan juga.

Dia memberiku barang yang mirip botol kaca transparan dan sebuah kotak berwarna silver

Aku belum pernah melihat kaca sejernih ini sebelumnya. Sejujurnya aku merasa haus, tapi sekarang bukan saatnya untuk memuaskan dahagaku.

“Dimana yang lain?”

Sekali lagi aku melihat sekitar, disana aku mendapatu sosok-sosok rombonganku nampak tidur dari sisi lain ruang terbuka ini.

“Aaah!”

Jadi semua orang benar-benar sudah….

–Lihat mereka…. aku ingin melihat mereka!

…..

Cleria berusaha merangkak menuju kawan-kawannya yang gugur. Namun anehnya sosok pria di depannya ini membuat isyarat seolah menyuruhnya berhenti.

…..

Oh. Sudah kuduga ini akan terjadi.

Aku langsung mengehentikan dia. Jika tindakannya ini malah akan membuat lukanya kembali terbuka, kerja kerasku sebelumnya akan sia-sia.

Baiklah. Mari kita coba dengan bahasa isyarat.

…..

Pria itu mulai bertingkah aneh.

Perlahan dia merentangkan kedua tangannya, duduk, berjalan tiga langkah ke arah kawan-kawanku, berhenti kemudian memalingkan kepalanya ke arahku.

Selagi aku masih kebingungan, dia kembali ke posisi sebelumnya dan mengulangi tindakan aneh itu. Tidak tetap tidak bicara selagi melakukan itu semua.

Apakah dia coba memberitahuku bahwa dia akan menolongku membawaku ke mereka? Aku benci disentuh oleh pria tidak dikenal, tapi aku benar-benar tidak punya pilihan.

Aku mengangguk setuju.

….

Bagus! Pesanku tersampaikan. Ternyata memang tidak ada yang mustahil selama kau mencoba.

Namun ini membuatku terasa habis memainkan permainan pantomim, dan aku melakukannya sambil terus diam tanpa suara. Tidak ada aturan aku dilarang berbicara sih. Jadi aku agak malu.

…..

Pria itu mendekatiku dan mengangkatku. Ini pertama kalinya bagiku sangat dekat dengan seorang pria yang bukan bagian dari keluargaku.

Kami mulai berjalan ke arah kawan-kawanku. Oh, semuanya….

Mereka semua memiliki keadaan tenggorokan tenggorokan yang terkoyak parah. Sama seperti yang kulihat saat penyergapan itu. Dan bahkan Kapten Antea juga….

Semua orang berbaring di tanah dengan lengan yang disilangkan di dada. Sepertinya pria ini memperlakukan mereka dengan bentuk penghormatan. Dia membantuku mendekati mereka.

Liner, Jimon, Arro, Antero, Miese, Mirka, Orvo, Fal and Kapten Antes.

Mereka semua sudah melayaniku semenjak aku masih kecil. Fal bahkan adalah teman masa kecilku. Tangisanku akhirnya tak terbendung lagi. Aku menangis selama lima menit setidaknya. Pria itu kemudian membawaku kembali ke tempat dimana sebuah selimut digelar dan membaringkanku.

….

Fu~u. Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus diperbuat saat melihat gadis itu mulai menangis. Kurasa dia benar-benar terkejut melihat kematian teman-temannya. Yeah, aku tahu betul perasaan itu.

Tapi yah, aku harus kembali bekerja menguburkan mereka. Kurasa aku akan menjelaskan ini juga padanya.

…..

Pria itu mengambil sekop dan mulai memberikan isyarat lagi. Dia menirukan menggunakan sekop untuk menggali tanah lalu menguburnya. Dia benar-benar tidak bicara kali ini juga.

Aku langsung memahaminya. Dia tentunya bermaksud memberikan pemakaman yang layak pada mereka. Aku mengangguk setuju. Pria itu mulai langsung bekerja.

“Tolong tunggu sebentar, pak. Sangat disayangkan aku tidak bisa membantu, namun kuharap aku bisa memberikan mereka perpisahan jika memungkinkan.”

Pria itu mengangkat alisnya, seolah berkata jangan mengganggunya ketika bekerja.

“Sudah kubilang, aku ingin mengucapkan salam perpisahan pada mereka.”

Pria itu mengacungkan jarinya ke arahku, seolah mengatakan ini giliranku memberikan isyarat tubuh. Jadi begitu, jadi kami tidak akan bisa mengerti satu sama lain kecuali dengan gerakan itu. Ini sedikit merepotkan.

Pria itu membuat ekspresi seolah menyiratkan kalau dia paham dan mengangguk padaku. Pesanku tersampaikan. Dia sepertinya pria yang cukup cerdas.

Pria itu mengangkatku lagi dan berjalan ke arah kawan-kawanku. Dia menatap padaku, tampak penasaran tentang apa yang coba kulakukan. Aku juga menatap balik ke arahnya, penasaran apakah dia akan mengizinkanku memberikan salam perpisahan. Kami menghabiskan beberapa waktu dalam keheningan.

Pada akhirnya dia membawaku kembali ke tempat semula.

Ini buruk! Pria ini sama sekali tidak memahami maksudku.

Yah, kalau dipikir lagi, mengharapkan dia mengerti hanya dengan isyarat sederhana mungkin terlalu berlebihan. Aku berpikir sejenak dan menunjuk ke arah sekop yang diletakkan di pinggir. Kemudian aku memberi isyarat lagi. Dia mengambil sekop itu.

Aku terus memberi isyarat pada pria itu lagi dan lagi menirukan gerakan menggali dengan sekop.

Cukup sulit melakukannya dengan hanya satu tangan. Pria itu mulai menggali lagi sambil kebingungan.

Setelah itu, aku menunjuk diriku dan melebarkan mataku menggunakan jari-jariku. Bagaimana hasilnya? Pria itu mengangkat alis dan memberikan isyarat persetujuan dengan membuat lingkaran dengan jari-jarinya. Sepertinya aku behasil kali ini.

Setelah berpikir sejenak, pria itu mulai mengumpulkan kotak kayu yang sebelumnya dimuat di atap kereta dan membawanya ke dekat titik pekuburan. Dia menumpuk satu demi satu dan kemudian membiarkanku duduk di atasnya.

Setelah sekitar sejam, sebuah lubang yang cukup dalam muat untuk semua orang akhirnya selesai.

Pria itu kemungkinan besar sudah menggali dari tiga jam yang lalu. Aku benar-benar bersyukur atas ini. Dia kemudian dengan hati-hati menurunkan semua orang ke dalam.

Pria itu sejenak tampak teringat sesuatu lalu mengambilnya. Apa yang dia bawa adalah bagian tubuhku yang putus. Sepatu bootnya sudah dilepas. Rasanya agak rumit melihat organ tubuhku sendiri yang terpisah seperti ini.

Pria itu memberi isyarat apakah dia boleh memasukannya ke pekuburan juga. Aku mengangguk. Semua orang mungkin akan lebih bisa tenang di alam sana jika bagian-bagian diriku juga menemani mereka.

Pria itu memberi isyarat apakah boleh dia mulai mengisi lubang itu dengan tanah. Aku memberi isyarat yang menyiratkan bahwa aku ingin menyaksikan saat dia melakukan itu. Aku tidak bisa dengan jelas melihat mereka dari posisiku saat ini. Pria itu langsung paham.

Dia mengangkatku lagi dan membawaku ke tempat dimana aku bisa melihat dalam pekuburan itu dengan jelas

“Semuanya sudah melayaniku dengan baik selama ini. Loyalitas kalian yang tak tergoyahkan adalah kebanggaan bagi Cleria seumur hidup. Beristirahatlah dengan tenang. Selamat tinggal.”

Setelahnya aku memanggil pria itu, dan dia mengangguk kembali. Membutuhkan waktu sejam baginya untuk mengisi kembali pekuburan itu dengan tanah.

Sehabis itu, pria itu membawaku kembali ke atas selimut. Aku benar-benar harus memberikan rasa terimakasihku atas apa yang di lakukan. Aku duduk dan menghadap secara langsung ke arahnya.

“Aku tidak bisa menemukan kata yang cocok untuk mengungkapkan rasa terimakasihku yang begitu dalam atas jasamu dalam kesempatan ini. Kau menyelamatkan hidupku dan mengizinkan teman-temanku berpulang dengan kebanggaan. Tentunya itu layak mendapatkan imbalan. Terimakasih. Kebaikan ini, akan kupastikan membalasnya dengan layak. Aku bersumpah atas nama Dewi Ruminas.”

Aku mengeluarkan energi sihirku dan bersumpah atas nama Dewi Ruminas. Tubuhku bercahaya menandakan persetujuan dari sang Dewi.

Ya, aku tidak boleh membiarkan diriku terpuruk.

Table of Content