Chapter 1 : Knight yang Tidak Naik Kelas

Posted by admin release on May 9th, 2020

Melihat kedua orang itu pergi, Huntis bergumam. Dengan enggan ia merapikan tempat tidurnya. Kemudian dia mencuci muka dan menyisir rambutnya, mengenakan seragam, dan menyantap roti yang dia beli sebelumnya kemudian meminum susu.


Melakukan semua hal itu hanya memakan waktu lima menit baginya. Huntis kemudian melihat tangan kanannya.

“……”

Saat ia menatap bagian bawah telapak tangannya, sebuah pola berwarna merah mulai muncul, itu terlihat seperti api––

Namun dalam hati ini adalah kesalahan baginya, pola merah di telapak tangannya berubah menjadi kabut dan menghilang.

“Aku tidak bisa melakukannya.”

Huntis meratap dan berbisik dengan dingin.

Kemudian dia mengambil pedang yang bersandar ke dinding, dan meninggalkan ruangan.

Heraldic Art adalah mantra yang digunakan untuk memanggil elemental yang membentuk dunia ini ––”Elemental Spirit”.

Api, air, angin, batu, matahari, kristElisasi dari matahari dan es.

Desain dari simbol Heraldic bisa memiliki beragam pola –– Itulah kenapa “Perapalan” sangat bergantung pada teknik yang digunakan.

Sebagai contoh, dengan meminjam kekuatan spirit [Salamander], Mantra Api bisa digunakan untuk menghangatkan atau memasak. Jika kekuatannya berlandaskan pada cahaya, itu bisa digunakan sebagai penerang malam. Jika kekuatannya berdasarkan pada besi atau batu, itu bisa digunakan sebagai konstruksi bangunan.

Dan jika kekuatannya berlandaskan pada kehidupan, itu bisa digunakan untuk mengobati luka dan menyembuhkan penyakit.

Selain itu, Heraldic Art juga digunakan dalam militer.

Itulah kenapa, Heraldic Knights dibentuk untuk melindungi kedamaian dan pemerintahan Holy Karurona Empire.

Perapalan Mantra tingkat awal tidak sulit untuk dipelajari. Namun semakin tinggi tingkat mantranya, semakin rumit juga proses pengeksekusiannya. Oleh sebab itu, seorang Knight reguler harus mempelajari Peralapalan Mantra selama dua tahun masa pelatihannya. Untuk tujuan ityu Academi Knight of Materia dibentuk.

“Ah….”

Meninggalkan ruangan, dengan ekspresi bosan, dia kemudian menuju Academy.

Chirculus, tempat dimana Academi Knight of Materia terletak, adalah kota ke-tiga terbesar di kekaisaran. Kampus ini mencakup tiga dari tujuh area keseluruhan dan memiliki area yang luas.

Tentu saja, karena areanya yang luas, orang sering disalahpahami sebagai kediaman para bangsawan karena terdapat banyak bangunan mewah dan taman.

Terlepas dari identitas dan status sosial, siapapun bisa menjadi Herakdic Knight.

Namun, “Knight” adalah gelar yang hanya disematkan pada bangsawan yang memperoleh prestasi militer. Akibatnya, sebagian besar kadet adalah bangsawan. Oleh sebab itu Academy ini penuh dengan anak-anak bangsawan dari penjuru kekaisaran, dan kampus ini sengaja didesain dengan lingkungan yang cocok bagi mereka.

“A-senpai harusnya lebih tepat waktu…”

Maron mengikuti Huntis, yang sudah menunggunya di luar asrama.

Setelah itu mereka sampai di tempat tujuan.

Setelah memasuki basement bangunan, landscape-nya menjadi berbeda, dan meskipun ini agak monoton. Banyak siswa berkumpul disini.

Para siswa di akademi diwajibkan membentuk “unit” yang terdiri dari lima sama enam orang. Dalam latihan tempur atau operasi lainnya, mereka akan bergerak secara bersama-sama dalam tim tersebut. Setelah menyelesaikan misi perburuan monster mereka, masing-masing akan mendapatkan poin secara personal.

Pelatihan tempur hari ini dijadwalkan melibatkan unit ke-26 sampai ke-30 dengan pembatasan lima anggota tim tiap unit.

“Oh, Maron-chan! Selamat pagi~~!”

Seorang gadis dengan ceria melambaikan tangannya.

Perawakannya langsing, warna kulitnya agak kecoklatan, matanya berbinar seperti anak kecil, dan kau bisa melihat taring yang mencuat dari bibirnya. Berbanding dengan sikap Maron yang pemalu, gadis ini memberikan kesan ceria. Karena rambut panjangnya yang diikat ke belakang, itu berkibar seperti ekor ketika berlari.

Nama gadis itu adalah Mina Miklan.

Dia termasuk unit ke-29 bersama dengan Huntis dan Maron.

Maron mendesah “Ah!” ketika Mina tiba-tiba memeluknya dari belakang, memainkan bukit kembarnya tanpa peringatan.

“Nyahaha! Bagian ini bikin iri saja.”

Mina dengan sengaja memainkan bukit kembarnya, meremasnya dari atas ke bawah, kiri ke kanan….

“B-berhenti!”

Meskipun Maron sampai mengeluarkan air mata saat berusaha lolos dari keisengan Mina, dia tidak membiarkannya pergi.

“Nyahahaa ~ Baik, baik ~~ Owaa!”

Gadis lain dari belakang memukul pipi Mina dan mendorongnya ke samping.

“Apa kau baik-baik saja, Maron?”

Dia dengan segera mendekati Maron, gadis muda berambut perak sebahu yang cerah seperti cermin. Dia memiliki fitur wajah cantik dengan mata hijau zamrud, dia seperti boneka.

“Ohh… S-selamat pagi, Shisu-can. Aku baik-baik saja….”

Dengan lemah Maron menjawab.

“Apa kau benar baik-baik saja? Payudaramu, apa payudaramu baik-baik saja?”

“A-aku baik-baik saja…. Tapi….. Tolong jangan menyentuhnya.”

“Aku tidak akan tahu apakah benar baik-baik saja jika tidak menyentuhnya.”

Tidak diketahui kenapa ia bersikeras menyentuh payudara Maron. Gadis itu adalah Shinsurine Shirubelsto. Dia juga anggota dari unit ke-29.

Tiba-tiba pipinya dipukul, Mina mengeluh.

“Uuuu~~~~ Itu sakit, Shisu-chan, jika wajahku sampai rusak, aku tidak akan bisa menikah.”

“Aku tidak mengizinkannya. Aku tidak akan memaafkan siapapun yang menyentuh payudara Maron.”

“Bukankah kau juga menyentuh payudaranya sekarang?”

“Tidak masalah, karena payudara Maron adalah milikku!”

Mina cemberut setelah mendengar itu. Bagaimanapun juga, Shinsui mengatakan sesuatu yang tidak konsisten.

“Eh ~ Kenapa aku tidak boleh menyentuh payudara Maron-chan?”

“Seperti yang kubilang. Payudara Maron hanya milikku.”

“Kau harus membaginya!”

“H-hentikan kalian berdua!”

Melihat kedua temannya bertengkar, Maron melerai dengan suara hampir menangis. Tidak, dia sebenarnya menangis.

“Huh~~?”

Tiba-tiba, pandangan Mina tertuju pada Huntis.

“Hun-chan! Sungguh kejutan, ternyata kau masih hidup!”

Mina dengan semangat mulai melompat-lompat sambil tersenyum.

Selanjutnya, gadis berambut perak Shisurine memberinya tatapan jijik.

“Jadi kau masih hidup…. sepertinya Maron gagal.*

“Sungguh sapaan yang ramah, jadi kau yang mengajarinya trik air semacam itu?”

Huntis membentak, Shinsurine dengan wajah datar pura-pura tidak bersalah.

“Apa yang kau bicarakan? Aku tidak paham, jangan membuat wajah menakutkan seperti itu.”

“Apa kau mengejekku?”

“Hah? Apa kau tuli? Jika kau merasa tidak enak badan, aku sarankan kau pergi ke dokter.”

“Tidak butuh.”

“Begitu. Kalau begitu aku antar kau ke tukang gali kubur saja.”

“Jangan perlakukan aku seperti mayat.”

“Mumpung ada kesempatan, izinkan aku untuk jujur ––”

Tidak peduli seberapa keras celaan yang Huntis lontarkan, Shinsurine selalu bisa membalasnya dengan santai.

“Sejujurnya, anak laki-laki di Academi ini sangat menyebalkan, terutama kau yang terburuk, kau selalu tidur dan tidak punya motivasi, kau hanya sampah. Jika kau terus seperti ini, kau tidak akan pernah menjadi Knight, akan lebih baik jika kau mati saja.”

Katanya dengan enteng.

“Jika kau tidak berubah, aku tidak akan memaafkanmu…. Demi Maron dan diriku…”

Dia sejenak berhenti.

“Tidakkah kau paham? Demi Maron dan aku…” Setelah sekilas memandang, wajahnya berubah merah. Tapi kemudian dia menggelengkan kepalanya dan wajahnya kembali ke ekspresi dingin yang biasa.

“Tidak, ini rahasia diantara kami berdua. Kau tidak boleh tahu.”

“B-begitu ya…..”

Huntis punya firasat jika dia bertanya lebih jauh, sesuatu yang buruk akan terjadi.

“Stop stop! Kenapa kau meninggalkanku sendirian? Mengobrol dengan gadis-gadis!”

Tiba-tiba seseorang meyela, seorang pemuda berperawakan ramping dengan rambut potongan militer dan wajah berbentuk oval.

Dia juga anggota dari unit ke-29.

“… Siapa dia?”

“Ah?! Aku Dank! .. Dank Defrik!”

Merasa tidak dianggap, Dank menyebutkan namanya keras-keras.

“Oh, aku ingat. Maaf, aku hampir lupa. Kau sangat cerewet sih.”

“Karena aku cerewet, kau sampai lupa namaku! Orang normal sebaliknya. Aku pernah mengalami ini saat bertemu kembali dengan gadis yang kusukai sewaktu kecil: ‘Ah~~ Dank, Aku ingat kau, dulu kau sangat cerewet.’ Aku tidak sedih ketika dibilang seperti itu, sungguh! Tapi dia nampak berubah. Berbeda dengan dulu, dulu dia sangat manis, seperti malaikat. Arghh!! Waktu benar-benar kejam… Tunggu, kenapa aku sampai mengatakan hal ini padamu!”

“…Hey, kau yang bilang sendiri!”

Orang ini sangat cerewet.

“Berisik! Tidak bisakah kau sopan sedikit pada senior yang satu tahun lebih tua darimu? Kau mungkin tinggal kelas selama satu tahun, tapi aku dua tahun!”

Melihat Dank, yang dengan bangga membeberkan masa lalunya, Huntis memberinya wajah simpati.

“Ternyata begitu, karena stress yang kau alami, pantas saja kau menjadi botak. Aku turut prihatin…”

“Aku tidak botak! Ini potongan pendek ala militer. Dan gadis-gadis pasti akan mengagumiku. Jangan remehkan aku!”

“Potongan rambut ala militer… oh, jadi begitu.”

Memang, jika dilihat dari dekat dia tidak sepenuhnya botak. Bagian atas rambutnya mencuat seperti duri.

“Tapi sayang sekali, aku tidak tertarik dipuji oleh laki-laki. Tapi jika itu Paretto-onee-san, aku akan senang hati dipuji olehnya! Tidak, lebih tepat mengatakan kalau aku ingin menjilatnya!”

Di belakang Dank auara membunuh yang kuat bisa terasa.

“Jadi begitu… Kau ingin menjilatku. Jika kau mau, jilatlah. Tapi pertama kau harus menjilat tinjuku dulu!”

“Poof..”

Instruktur Paretto memukul Dank tepat di muka.

“Tidak diizinkan memanggilku nee-san, panggil aku instruktur!”

Dia menatap Dank yang terkapar di tanah dengan dingin, dan kemudian memberikan pengumuman kepada semua siswa yang hadir.


Catatan:

1. Menjilat dalam bahasa Jepang

舐める (Nameru) = Menjilat, merasakan, mencicipi.

Ane pakai “mengagumi dan memuji” sebagai sinonim “menjilat.” Karena lebih pas. Ini adalah permainan kata-kata.