Duke’s Daughter Bab 93

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Pintu Hati

“… Apa menurut anda dia akan berguna?”

Setelah pria itu pergi, Tanya bertanya.

“Siapa yang tahu? Jika aku bisa memanfaatkan dia dengan benar, aku akan mencapai tujuanku. Yang perlu kulakukan sekarang adalah memastikan bahwa negosiasi besok akan lancar.”

Aku tersenyum saat mengingatnya.

“..Dan lagi, seiring berjalannya waktu, bukankah dia juga akan tumbuh?”

“Apa yang membuat anda yakin?”

“Hanya intuisi.”

Mendengarkan jawabanku, wajah Tanya berubah masam.

Melihat reaksinya, aku tersenyum dan bicara.

“Dia terlihat sedikit tidak senang saat kita membicarakan adiknya bukan? Saat aku membahas topik itu hanya untuk candaan, jawabannya selalu mengejutkan. Ketika membicarakan tentang pembendaaraan nasional dan perputaran uang juga. Meskipun kau akan menemukan banyak orang yang memuji-muji Ed-sama dan Yuri-sama jika berjalan-jalan di sekitar kota. Menjadi hewan ternak, huh? Perumpamaan yang menarik.”

“Jadi begitu..”

“..Yah, dan yang lebih menarik lagi, aku suka sikapnya yang tidak mau menyerah dengan mudah.”

Ketika aku mengatakan itu dengan senyuman, Tanya terlihat kebingungan, seolah dia tidak mengerti apa yang kubicarakan.

“Aku yakin, kedepannya… dia akan membayar kebaikan yang kupaksakan padanya. Tapi cuma itu. Dia mungkin sudah membuat perbedaan yang jelas dengan bekerja untukku dan tidak mempercayaiku sama sekali.”

Itulah bisnis. Jika dia bisa bekerja dengan baik, maka itu saja sudah cukup.

“Dia selalu menaruh pikiran tentang kemungkinan dikhianati di kepalanya. Pada saat dia benar-benar dikhianati…. Tepatnya ketika dia dikhianati sebelumnya. Mungkin bagian itu dari dirinya yang mirip denganku.”

Meskipun mengatakan itu membuatku sedikit sedih.

Namun, itulah yang benar-benar kupikirkan.

Dia memiliki pintu yang sangat berat di hatinya. ‘Sejauh mana aku bisa membukanya? Sejauh mana mereka boleh melihat diriku yang sebenarnya?’ Dia mungkin selalu memikirkan hal-hal semacam itu.

Sama sepertiku.

Dan itulah sebabnya aku tidak merasakan sedikitpun rasa ketidaksenangan karena kekhawatiran tanpa dasarnya. Sebenarnya, aku bisa menerimanya sebagai sesuatu yang wajar.

Aku bahkan merasakan iba.

… Yah, jika dia bekerja untuk perusahaan mulai sekarang, aku akan senang jika dia belajar mengepresikan dirinya sedikit lagi tanpa kata-kata, meskipun… Itulah beberapa jauh dia bisa mengungkapkan perasaannya.

Tapi siapa yang tahu… mungkin karena dia mirip denganku jika dia mengungkapkan pemikirannya yang sebenarnya, maka aku merasa puas..

Bahkan Moneda yang berasal dari serikat dagang yang sama dengannya tidak akan melakukan hal seperti itu, dan aku bahkan tidak bisa menebak apa yang dipikirkan Sei jika boleh jujur.

Mendengar kata-kataku, pandangan mata Tanya sedikit turun, terlihat agak sedih.

Merasakan sedikit kecanggungan dalam situasi ini, aku berdiri dan menuju kantor.

Tanya mungkin menjadi tenang setelah melihatnya dan mengikutiku.

Sekembalinya ke ruang kerja, aku duduk.

“…Tanya, siapkan sesuatu yang hangat untuk kuminum.”

“Baik.”

Selagi Tanya membuat teh, aku menatap boada dokumen yang berceceran.

Aku harus bernegosiasi dengan kepala perusahaan itu besok jadi kukira aku akan menjauhkan diri dari bekerja untuk hari ini.

Tiba-tiba, tanganku berhenti membolak-balikan halaman.

Aku berhenti ketika melihat dokumen yang berjudul ‘Ketetapan Serikat Dagang’.

Sebuah perusahaan bisa membuka bisnis jika mereka didaftarkan pada serikat dagang dan serikat dagang menerimanya.

Selama sebuah perusahaan memiliki dokumen itu, maka mereka bisa melanjutkan usahanya.

Bahkan jika kepala perusahaan itu sudah meninggal, izin usaha itu akan diturunkan pada anak mereka sebagai pewaris.

Meski begitu, jika anak itu masih muda dan belum punya pengalaman kerja, seorang wali bisa melanjutkan bisnis sampai anak tersebut mampu mengambil alih.

Jika kasusnya demikian, wali tersebut mengelola perusahaan selagi membantu anak tersebut mendapatkan pengalaman lebih dan pada akhirnya mengambil alih… atau setidaknya itulah yang harusnya terjadi.

Tapi… jika kasusnya si anak tidak menyerahkan aplikasi pewarisan perusahaan ke serikat dagang, itu akan dianggap seolah tidak ada garis keturunan dan izin perusahaan secara otomatis akan diserahkan ke ‘wali’.

Dan satu-satunya kasus dimana orang lain bisa mendapatkan izin adalah ketika perwakilan perusahaan secara resmi menyerahkan formulir kosong atau ketika mereka tidak memiliki pewaris satu pun.

Sebaliknya, jika formulir itu tidak diserahkan dan jika tidak ada pewaris, jika kasusnya demikian, perusahaan itu akan tutup.

Ringkasnya, itulah yang dijelaskan dalam dokumen ini.

“Meski begitu, menilai bahwa izin usaha tidak diperbaharui selama lebih dari sepuluh tahun… Ini cukup mengesankan.”

Kataku pada diriku.

Bagaimanapun juga, merupakan sebuah kewajiban bagi izin usaha untuk diperbaharui setiap tahun di wilayah Duke Armelia.

Disana, terdapat berbagai pertanyaan ringan seperti siapa perwakilannya dan jika ada perubahan dalam produk yang mereka keluarkan dan sebagiannya.

Itu juga disertai dengan laporan pajak dan apabila pajak tidak dibayarkan dan pertanyaan-pertanyaan itu tidak dijawab, mereka tidak bisa memperbaharui izin usaha.

Selain itu, inspeksi dadakan juga dilakukan untuk memastikan apakah mereka benar-benar melakukan bisnis yang mereka katakan, atau apakah mereka melakukan sesuatu yang ilegays dan semacamnya.

Sangat kontras dengan milik kami, di ibu kota, izin usaha hanya diperbaharui ketika perwakilannya berubah.

Izin usaha yang tidak diperbaharui selama 10 sampai 20 tahun merupakan hal lumrah disana.

Yah, orang bisa beralasan bahwa itu tidak bisa dihindari karena terlalu banyak perusahaan di ibu kota.

“Permisi.”

Tanya berdiri di depanku, dengan pesanan minuman hangat.

“…Ah, itu mengingatkanku, Tanya. Kerjamu bagus kali ini. Terimakasih banyak.”

Aku teringat betapa mengesankannya kemampuan intelejen Tanya yang mampu mengumpulkan informasi hanya dalam 2 sampai 3 hari.

Sungguh, apa yang coba diincarnya…Ini adalah salah satu pertanyaan terbesar yang kumiliki.

“…Tidak, saya hanya melaksanakan kewajiban saya.”

Tanya menjawab biasa saja terhadap pujianku.

Akan tetapi, bibirnya terlihat agak naik ke atas.

“Kau sudah bekerja keras hingga kita bisa mencapai sejauh ini. Sekarang, giliranku untuk melakukan bagianku dengan baik besok.”

“Jika itu nyonya, saya yakin anda akan berhasil melakukannya tanpa kegagalan.”

“Fufufufu… terimakasih.”

* * *

Table of Content
Advertise Now!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *