Duke’s Daughter Bab 90

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Keputusan

Sesampainya di rumah, aku benar-benar hanya ingin tidur sampai pagi berikutnya, jadi aku mengerayap di bawah selimut ketika waktu tidurku tiba.

Namun pikiranku anehnya tetap terjaga, dan aku tidak merasa ngantuk atau lelah.

…Pikiranku berputar-putar mengingat percakapanku dengan ibu dan pemandang di menara itu.

“Untuk mencegah kesedihan dari tragedi yang lebih jauh, untuk mempertahankan pemandangan di depan kami.”

Wajah ibuku sangat cantik saat ia mengatakan itu.

Itu tidak benar-benar karena penampilannya, tapi lebih seperti…aku melihat kasih sayang ibu yang mencintai segala sesuatu yang berada di sekitarnya.

Sekarang aku melihat diriku lagi, bagiamana perasaanku terhadap emosi orang-orangku..? Saat aku memikirkan ini, tanpa sadar aku tertawa.

Apakah aku berbeda dengan ibuku?

Saat aku bertemu nona Mina dan anak-anak di panti asuhan…Atau, bahkan sebelum itu. Aku sudah menguatkan tekadku saat berjalan-jalan di sekitar kota.

Waktu itu, aku belum terlibat dengan politik, namun aku punya kekuatan. Kekuatan yang disebut “Wewenang sebagai Perwakilan Penguasa Feodal.”

Jalanku ke depannya, serta tanggung jawabku, sangat terhubung dengan kehidupan orang-orang.

Itu termasuk tumpukan dokumen yang berada di atas mejaku. Saat aku mengamati dengan teliti tiap-tiap berkas, aku selalu merasakan beban tekanan pada bahuku.

Semuanya untuk melindungi kehidupan orang-orang.

Bukankah aku sudah memutuskannya sejak lama?

Itu bisa karena… Setelah pengucilanku, keberanian itu akhirnya melemah.

Bukankah keberadaanku sangat berguna bagi pemerintahan wilayah ini? Jika itu benar adanya, maka semua yang kulakukan dan prosesnya harusnya membawa kemajuan bagi wilayah ini kan?

….Aku selalu berpikiran begitu dan tak pernah sekalipun meragukannya.

Karena aku sudah memutuskan semuanya, maka kehidupan orang-orang dan wilayah ini berada dalam tanggung jawabku.

Setelah semua yang terjadi di masa lalu, aku tidak bisa tetap mengatakan “Aku belum membuat keputusan.”

Aku melangkah ke depan untuk mewujudkan mimpiku sendiri.

Aku tidak akan kehilangan tujuanku. Jika aku kehilangan arah, maka orang-orang di belakangku akan jatuh juga.

Aku harus melakukan apa yang kubisa dengan sebaik mungkin.

Saat aku memikirkan semua ini, perasaanku karena rasa tidak senang dan khawatir mulai meleleh, dan pikiranku mulai stabil.

Dengan perasaan puas, aku menarik diriku menuju dunia mimpi.

Keesokan harinya, aku memanggil Ryle dan Dida.

“Ada perlu apa, Putri?”

“Mm, aku hanya ingin kalian berdua mendengar keputusanku.”

Setelah mendengar kata-kataku, Ryle melebarkan matanya terkejut. Dida mulai tersenyum senang.

“….Kemarin, Dida bertanya padaku apakah aku yakin dengan keputusanku.”

“Memang.”

“Meskipun aku goyah sesaat… Setelah memikirkannya, aku sadar tidak perlu menunggu hari esok untuk memberikan jawabannya.”

Rahang Dida jatuh menanggapi responku.

“Karena, aku sudah memutuskannya semenjak lama–aku ingin melindungi wilayah ini, dan melindungi penduduk ini di dalamnya.”

“…Untuk mencapainya, akankah anda melumuri tangan anda dengan darah?”

“Jawabanku adalah ‘ya’… Dan juga ‘tidak’.”

Ryle dan Dida memiringkan kepala mereka karena bingung.

“Bahuku sudah memikul beban hidup ribuan rakyat semenjak lama. Misiku adalah untuk melindungi wilayah ini… dan kehidupan-kehidupan di dalamnya. Jika tindakan kejam diperlukan demi tujuan itu, aku akan menyuruh tentara kita untuk melakukannya. Kemudian, aku akan mengambil semua tanggung jawab terkait.”

Dunia tanpa rasa sakit itu tidak ada.

Aku sangat memahaminya lebih dari apapun.

“Akan tetapi, untuk mencegah hal itu…..Aku akan bertahan sekeras yang kubisa, hingga saat-saat terakhir. Aku akan meraih segala peluang untuk mencegah hal-hal mengerikan itu terjadi. Dibanding dengan rasa tersiksa untuk memenangkan perang, mencari cara untuk mencegahnya jauh lebih baik. Ini adalah prioritas utamaku, dan aku akan mengikuti rencana ini.”

Apakah aku terlalu fokus pada metode sampai-sampai mengabaikan tujuanku?

Ini memang kesalahan yang kubuat.

Aku selalu berpikir–jika peperangan pecah, siapa yang akan memikul tanggungjawab? Apakah jabatan Duke yang akan mengurusi segalanya?

Itu bukanlah hasil yang harusnya terjadi. Karena masih ada banyak jalan untuk mencapai tujuan kita.

Menakar apa yang akan terjadi di masa depan, dan menggunakan kecerdasan. Penaku, pikiranku, dan kata-kataku akan menjadi senjataku.

Pasukan militer memanglah kartu truf-ku. Namun sebelum memainkan kartu itu, aku harus belajar menggunakan semua deck-ku dengan potensi penuh.

Ini adalah misiku yang sebenarnya.

“Namun…Jika tidak ada jalan lain…. Jika kekuatan adalah satu-satunya cara, maka aku akan menyerahkannya pada Dida, Ryle, kalian semua. Akulah satu-satunya orang yang bisa memikul tanggung jawab itu, dan aku akan melakukannya.”

Setelah aku selesai bicara, Dida mulai tertawa entah kenapa.

….Apakah aku mengatakan sesuatu yang lucu?

Tidak, semua yang kukatakan terdengar sangat serius

“Keputusan yang elegan…Tapi juga sangat naif.” (Dida)

“Dida…!” (Ryle)

Berdiri tepat di sebelahnya, Ryle menatapnya sangat marah.

“Tapi memang. Alasan kenapa kami melayani Putri justru karena anda orang yang seperti itu. Putri yang akan melindungi semua hal yang penting baginya.” (Dida)

….Kalau begitu, ini sebuah persetujuan?

“…Jangan bertele-tele.” (Ryle)

Kata Ryle tidak sabar.

“Putri, kami adalah pedang dan perisai. Kekhawatiranmu biar kami yang atasi. Kapanpun kau merasa jika kekuatan adalah satu-satunya jalan…Tolong andalkan kami. Kami akan melindungi dirimu dengan segenap kekuatan kami.” (Dida)

Dida berlutut dengan satu kaki.

Ryle juga mengikuti.

“Mm, terimakasih. Ryle, Dida.”

Aku tidak ingin kehilangan mereka juga…mereka adalah orang-orang yang ingin kulindungi.

Kalau begitu, aku akan bertarung, demi wilayahku.

* * *


Table of Content
Advertise Now!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *