Duke’s Daughter Bab 88

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Badai Pemikiran

Setelah Dida dan Ryle pergi, aku kembali ke tugas harianku; akan tetapi, kepalaku masih diisi dengan percakapan barusan.

“….Ah.”

Aku salah mengeja pada dokumen yang sedang kutulis.

Kata-kata tanpa arti melayang di dalam kepalaku–kata “kebingungan” benar-benar menggambarkan keadaanku saat ini.

Aku meletakkan penaku, dan membentangkan tubuhku. Dari kepala sampai ujung kaki, tubuhku membuat suara “kreak, kreak”, suara yang sepantasnya tidak cocok untuk seorang gadis muda.

Kata-kata di dalam otakku semuanya berasal dari pembicaraan itu.

….Semenjak menjadi Perwakilan Penguasa Feodal, sudah tak terhitung jumlahnya aku menemui beberapa masalah tidak memiliki solusi yang bisa diterima.

Namun tak pernah terpikirkan aku akan menemui rintangan ini lagi.

Terlebih, masalah ini bersumber dari “hanya jika”….. Melupakan sesuatu yang mungkin terjadi tidaklah sulit.

Aku hanya harus berbohong pada diri sendiri, mengatakan bahwa keputusan itu bisa menunggu sampai peristiwa itu benar-benar terjadi.

Tapi, jika aku melakukan itu… Dida tidak akan menerimanya. Dan kebohongan akan segera terungkap ketika waktunya tiba.

Ketika hari itu datang…aku takut jika aku bahkan tidak bisa menetapkan pemikiranku sendiri. Aku sudah bisa membayangkan kekalutan itu, situasi dimana aku tidak bisa berbuat apapun.

Cukup banyak waktu, termasuk sekarang, takdir orang-orang…berada di tanganku.

Orang-orang mati karena pemimpin mereka yang lemah.

…Namun kali ini, kepelikan situasi berada pada level yang berbeda.

Aku harus mengambil tanggung jawab, tanggung jawab untuk nasib orang-orang.

Aku akan bertanggung jawab untuk kehidupan manusia, tak pernah kualami pada tingkatan seperti ini.

….Lupakan tentang “kehidupan sebelumnya”, bahkan “aku” yang sekarang tak pernah mengambil tanggung jawab seperti itu.

Reinkarnasi ke dunia dimana tidak seorang pun tersakiti akan menjadi yang terbaik.

Selanjutnya, tidak peduli siapa itu, semua orang akan menerima kebaikan dan kemurahan hati.

Tidak seorang pun akan merasakan sakit, seperti yang selalu diceritakan dalam dongeng. Kegelapan akan memudar layaknya asap.

Tidak, jika ini masih sebuah game…Iris kemungkinan akan mengalami kemalangan sebagai antagonis. Oleh sebab itu, dunia dimana semua orang diperlakukan dengan kasih sayang tidaklah ada.

Tidak peduli bagaimana kau melihatnya, dunia ini nyata.

Jika tidak, aku tidak akan bisa melihat orang-orang sejelas ini sampai ke hati mereka.

Semua jenis pemikiran dan idelisme berputar layaknya badai. Kaum bangsawan mencuri hak orang-orang dan kekuatan mereka dengan wajah yang jelek dan gelap.

Dongeng anak-anak tentunya tidak akan menyebutkan kesenjangan antara si kaya dan si miskin.

Masing-masing pemikiran itu membuatku semakin terpuruk.

Semua pemikiran itu adalah alasan kenapa aku begitu tertekan.

…Aku harus meminta Tanya membawakan sesuatu untuk diminum, aku tidak bisa bekerja jika seperti ini terus.

Aku harus berhenti memikirkan itu, dan memanggil namanya…

“…. Ah, kya~….”

Tumpukan dokumen akhirnya jatuh. Kertas yang tak terhitung jumlahnya melayang di udara.

Oh, tidak.

Arsip yang dengan sulitnya kususun rapi sekarang berantakan. Aku memikirkan betapa lama dan sulitnya merapikannya lagi, aku sudah tidak tahan lagi.

“…. Tanya.”

“Ya, saya di sini.”

“Aku minta maaf, aku akan ke ruang tamu sebentar. Sampaikan pesan pada yang lain, dan tolong siapkan teh. Dan juga, maukah kamu merapikan kembali arsip-arsip itu untukku?”

“Ya, saya mengerti.”

Aku melemparkan semua pekerjaanku ke samping, dan kemudian mengambil istirahat.

* * *

Table of Content
Advertise Now!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *