Duke’s Daughter Bab 87

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Pertanyaan Dida II

“Putri, apakah anda benar-benar siap mengambil tanggung jawab itu?” (Dida)

Dida membuang nada keragu-raguannya, dan manatapku dengan serius.

“Jika ini benar-benar berkembang menjadi perang, mengalahkan musuh tentu sangat diperlukan. Akan ada korban dari pihak kita juga. Dengan satu perintah yang anda buat, Putri, semua orang akan berada di bawah situasi tersebut.”

“…Dida.” (Ryle)

Ryle beringsut lebih dekat, dan memanggil nama Dida dengan nada memarahi.

“Putri, apakah anda mampu memberikan perintah yang akan menyebabkan kematian bagi musuh kita, bahkan dengan mengorbankan orang-orang kita sendiri?”

“Dida!!” (Ryle)

Ketika dia berhenti bicara, Ryle meneriakkan namanya lagi.

Suaranya memekakkan telinga, ruangan menjadi sunyi.

“Jika perang benar-benar menimpa kita, semua orang harus mengambil beban itu- beban dari kemungkinan kehilangan hidup kita, atau mengotori tangan kita dengan darah musuh. Jadi Nona tidak harus mengambil tanggung jawab itu sendirian.” (Ryle)

Suara Ryle bergema ke seluruh ruangan yang sunyi.

“Tentu saja, aku siap mengambil beban itu juga, tapi putri, apakah anda benar-benar siap mengambil tanggung jawab itu? Keputusan dari anda akan menentukan keseimbangan kemenangan dan kekalahan kita. Sekalipun anda tidak secara langsung memimpin pasukan, kehendak putri akan menjadi pedoman bagi kami. Punggung kami tidak hanya memikul kehidupan kami, tapi juga kehidupan masyarakat. Tapi, putri akan menanggung tanggung jawab orang-orang di medan perang, juga dampak setelah perang itu….Apakah itu benar?” (Doda)

Ryle tetap diam setelah pertanyaan Dida.

“Lebih jauh lagi, meskipun ini tidak secara langsung, menandatangani surat perintah masih dihitung menumpahkan darah musuh.”

Dida benar… Jantungku terasa ditusuk oleh kenyataan pahit itu.

Aku tidak boleh pura-pura bisu di saat aku tahu jawabannya.

… Sesuatu seperti keinginan rakyat.

Besar kecilnya tindakan yang kuambil akan berdampak langsung pada masyarakat banyak.

Bahkan masyarakat, yang tidak setuju dengan perang, akan terseret dalam badai.

… Ketika perang benar-benar pecah, apakah aku benar-benar mampu mengirim orang-orang kami ke medan perang?

“…Aku tidak meminta keputusan cepat seperti yang selalu anda buat. Tapi, karena putri sudah mempertimbangkan masa depan dan memulai persiapan, mungkin resolusi cepat itu adalah yang terbaik.”

Bahkan aku oun tidak mempunyai jawaban jika diberi pertanyaan seperti itu.

“Ya…ini seperti yang kamu katakan Dida.”

Nada bicaraku sungguh tidak berguna.

Tapi itu tidak bisa dicegah.

Karena aku, benar-benar tidak berguna.

Aku meminta Dida dan Ryle untuk membuat persiapan untuk masa depan, tapi aku bahkan tidak mempersiapkan diriku sendiri.

“Saat ini, untuk pertanyaanmu aku masih tidak memiliki jawabannya. Tolong beri aku waktu.”

“Dipahami. Kami akan pergi membuat persiapan sekarang.”

Dengan jawabanku yang ditunda, aku pikir dia tidak akan langsung mengambil tindakan. Aku terkejut karena Dida yang pertama menyatakan diri akan melaksanakan apa yang diperintahkan pada mereka.

“…Ya, aku mengandalkanmu.”

* * *

Table of Content
Advertise Now!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *