Duke’s Daughter Bab 82

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Permohonan Maaf Sei

Setelah Damme dibawa pergi, bagian dalam toko menjadi berisik.

“Saya minta maaf atas gangguannya, semuanya.” (Sei)

Sei berdiri di tengah toko dan secara terbuka membuat permintaan maaf pada pelanggan.

“Semua barang yang dipesan barusan akan digratiskan sebagai permintaan maaf pada pelanggan yang hadir. Kami juga akan menghadirkan diskon untuk masing-masing pelanggan untuk lebih menunjukan ketulusan kami.” (Sei)

Sei menyatakan reparasi dengan suara yang lebih besar daripada permintaan maafnya.

Aku khawatir bagaimana orang-orang akan bereaksi tentang hal ini…

Namun, kekhawatiranku sepertinya tidak perlu.

Secara mengejutkan, orang-orang menyambutnya dengan tepuk tangan meriah.

Sei juga merasa aneh saat melihat para tamu setelah pengumumannya itu. Bahkan, ada sedikit kerutan di antara kedua alisnya.

Saat aku menatap kembali ke para pelanggan, sekitar sepertiga dari mereka sangat senang karena barang yang barusan mereka pesan tiba-tiba digratiskan.

Mereka dengan senang hati memakan cokelat mereka setelah bertepuk tangan sambil menyesali karena tidak memesan lebih banyak sebelumnya.

Adapun 70% sisanya….

“Siapa nama mereka?” (Wanita 1)

“Orang yang barusan bicara adalah Tuan Sei, dan orang yang seperti Kesatria di sebelahnya adalah Tuan Dida.” (Wanita 2)

“Betapa gagahnya…” (Semua orang)

Tertegun oleh pesona Sei dan Dida, semua wanita yang hadir menorehkan gambaran Sei dan Dida di dalam hati mereka.

“Aku puas. Pria yang memandang rendah orang lain seperti itu memang harus dihukum.” (Tamu)

“Aku sangat setuju. Wanita harus mengabaikan apa yang dikatakannya. Yah, aku tidak yakin kejadian seperti ini akan terulang lagi.” (Tamu 2)

Penonton sisanya merasa puas setelah melihat seseorang memukul Damme karena ucapannya yang keterlaluan. Mereka bersimpati kepada pelayan itu setelah memahami keadaannya.

Setelah melihat reaksi para pelanggan, aku menghela nafas lega. Aku telah menahan nafasku selama ini; khawatir dengan reaksi para tamu.

Aku ingin tahu apakah ini baik-baik saja…

Pada saat itu, aku menyadari bahwa menekan emosiku telah melemahkan kekuatanku. Sampai-sampai aku ingin duduk di suatu tempat untuk istirahat.

“Nyonya Iris…!” (Tanya)

Tanya segera berlari ke sisiku saat dia menyadari aku merasa tidak enakan.

“Aku baik-baik saja, Tanya. Terima kasih” (Iris)

“Tolong jangan membuat saya terlalu khawatir…” (Tanya)

“Aku menepati janjiku dengan Ryle, kan?” (Iris)

Kataku dengan senyum masam. Namun ekspresi khawatir Tanya tetap tidak berubah.

“Saya cemas tentang tindakan yang akan anda ambil ketika Sei menghukum Damme. Nyonya muda, anda tidak baik sama sekali.” (Tanya)

“Begitukah?” (Iris)

“Ya. Biasanya anda tidak akan mengalami masalah jika di keramaian.” (Tanya)

“….Itu benar…” (Iris)

Bahkan aku pun sangat setuju dengan logika Tanya yang sempurna.

“Tentu, kemarahanku barusan tidak biasanya dan membuatku mudah lelah….” (Iris)

Dengan senyum getir, Tanya berkomentar, “Sepertinya Nyonya muda menyalahkan diri sendiri lagi atas kejadian ini.” (Tanya)

Kali ini, Tanya tidak memarahiku terlalu banyak, itu membuatku lega.

“…Nyonya Iris. Setelah Dida menangkap Damme kali ini, untuk sesaat saya berpikir…. tanggung jawab Nyonya muda dan kami sangatlah berbeda. Saya mulai berpikir terlepas dari tanggung jawab para karyawan Nyonya, kami juga mempunyai peran kami sendiri yang harus kami penuhi. Peran itu adalah untuk melindungi anda…. peran itu adalah kebanggaan kami. Kami berkewajiban menjaga dan melindungi anda ketika anda membutuhkannya, jadi cobalah meminimalisir situasi dimana anda menempatian diri anda sendiri dalam bahaya. Tolong ingatlah ini baik-baik.” ( Tanya)

“Aku tidak bisa menjanjikan itu.” (Iris)

“Nyonya muda….” (Tanya)

“Meskipun aku sangat paham dengan kekhawatiran mu, aku pasti akan mengulangi kesalahan yang sama lagi dan lagi. Oleh sebab itu, aku tidak bisa berjanji.” (Iris)

Aku tahu bahwa suatu hari, aku akan mengalami situasi yang sama dengan ini. Situasi dimana aku ingin menahan diriku sebisa mungkin namun tidak bisa karena pernyataan orang lain yang keterlaluan. Tapi…

“Namun, bukan berarti aku sepenuhnya akan mengabaikan saranmu. Semua orang tentunya akan melindungi ku. Ini tak terbantahkan. Aku bertindak gegabah karena aku mempercayai kalian lebih dari siapapun. Itulah sebabnya aku bertindak gegabah kali ini, karena aku percaya kalian akan melakukan pekerjaan kalian.” (Iris)

Alasan kenapa aku berani bertindak sembrono karena aku mempercayai mereka. Akibatnya, dalam keadaan darurat, aku mungkin akan mengambil tindakan gegabah dan membuat cemas semua orang.

….Kali ini tidak masalah karena hasilnya memuaskan.

“Ayo, kita kembali ke ruang pegawai lagi biar tidak menghlangi keramaian toko. (Iris)

“Baik.” (Tanya)

“Sepertinya sudah banyak orang berbaris di depan Sei untuk menerima kupon mereka. Tentunya ini masih lama hingga antrian ini habis, bukan?” (Iris)

“Ya, sepertinya begitu.” (Tanya)

Aku kembali ke area pegawai bersama Ryle dan Tanya.

Table of Content
Advertise Now!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *