Duke’s Daughter Bab 80

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Keyakinan Sei III

Saat Sei keluar dari ruangan, aku berdiri dan mengejarnya.

“Nyonya muda?” (Tanya, Ryle)

Menanggapi usahaku untuk pergi, Ryle dan Tanya memanggilku dengan cemas berbarengan.

“J-jangan khawatir…aku hanya akan mengamati dari kejauhan.” (Iris)

“Anda tidak boleh. Itu berbahaya.” (Ryle)

Ryle menegur tindakanku. Sebagai pengawalku, wajar saja jika dia melihat bahwa tindakanku sudah gegabah.

Aku memberinya tatapan serius, tapi ekspresi wajahnya mencerminkan wajahku sendiri. Sepertinya kami menemui kebuntuan.

“….Ada para pegawai yang bersamaku, termasuk Sei dan Dida juga di tempat itu.” (Iris)

Aku mengalihkan pandangan dari Ryle sambil memberikan alasanku.

“Perusahaan ini adalah tanggung jawabku. Orang yang bertanggung jawab harusnya menjadi orang yang mengahadapi masalahnya juga…Dan kebetulan orang itu adalah aku, aku mempunyai tanggung jawab untuk menjamin keamanan para pegawai sehingga mereka dapat melakukan tugasnya dengan aman dan nyaman. Tolong, Ryle, jangan menghentikanku dalam menjalani peran ini.” (Iris)

“Tapi, Nyonya muda.” (Ryle)

“Selain itu, haruskah kau “menjagaku” dengan menghalangi aku dari tugas-tugasku…? Ryle… keyakinan ku dalam mengejar masalah ini lahir dari kepercayaan ku padamu.” (Iris)

“Tapi…., baiklah, saya akan menghormati keputusan anda. Cobalah untuk tidak mengekspos keberadaan anda disana dari pihak lain.” (Ryle)

Dengan sebuah anggukan, aku meninggalkan ruangan, dengan Ryle di belakangku yang dengan enggan menyetujui keputusanku.

Aku bergegas menuju suara teriakan yang datang dari depan toko.

“…. Lama tak jumpa, Tuan Damme.” (Sei)

Suara Sei melonjak di tengah-tengah kerumunan.

Pandanganku memindai keseluruhan toko sampai akhirnya melihat Sei dan Dida.

Seorang pria tengah ditahan, direbut kebebasannya oleh Dida.

“Atas permintaan mu, aku sekarang menunjukan diri….Jadi bisakah sekarang kau jelaskan kenapa seorang ‘Mantan Pegawai’ sepertimu membuat kekacauan seperti ini?” (Sei)

Setelah suara Sei menyapu seluruh ruangan, semuanya menjadi sunyi senyap; keributan yang sebelumnya seolah menjadi ilusi yang tersebar.

Sekalipun isi dari kata-katanya tidak dengan gamblang mengungkap maksud, sebuah ancaman tidak diragukan lagi tersirat darinya.

Sei yang marah adalah pengalaman menakutkan bagi siapapun yang melihatnya.

“….”

Pria itu jelas sedang ditekan oleh Sei. Melihat reaksinya, Sei dengan sengaja menghela nafas.

“Masih tidak mau buka mulut, ya… aku, sebagai supervisor, mempunyai tanggung jawab mengawasi tempat ini sehingga pelanggan bisa melihat-lihat barang dagangan kami dengan leluasa. Jika ini keadaan normal, kami tentunya sudah menyerahkanmu ke pihak berwajib dan dan masalah ini sudah selesai sekarang. Tapi….karena sekarang aku cukup baik hati memberimu kesempatan bicara….akan lebih baik jika kau tidak menyia-nyiakannya.” (Sei)

“…A-aku tidak salah disini!!! (Damme)

“Masih mencoba membela diri, huh…?” (Sei)

Sei menghela nafas berat untuk kesekian kalinya. Yah, membuat keributan dan mengklaim bahwa dia tidak salah itu sedikit…

“Aku tidak membela diri! Ini bukan kesalahanku! Aku sudah bekerja di tempat ini semenjak lama. Aku sudah memberikan semua yang kumiliki. Tapi, saat aku mencoba mengajukan permohonan bekerja kembali, aku dengan mudahnya disingkirkan….” (Damme)

“….Jika aku tidak salah ingat, bukankah kau salah satu yang keluar setelah diiming-imingi perusahaan lain? Jika memang begitu, kenapa kau tidak bekerja dengan hasil yang sama disana saja?” (Sei)

Sekarang aku benar-benar yakin dengan alasan Sei. Pada dasarnya, orang ini… Damme bukan? Dia adalah salah satu yang membelot ke perusahaan di bawah kendali Pangeran Edward.

“K-kenapa-….Y-yah… karena aku mulai paham bahwa aku bisa memaksimalkan kemampuanku lebih baik di perusahaan ini. Itulah kenapa aku mengajukan permohonan bekerja kembali….Tapi aku disingkirkan dengan mudahnya seperti ini.” (Damme)

“Aku paham, jadi kau meminta agar kami menerima mu kembali….Kau, orang yang dengan senang hati bergabung ke perusahaan lain setelah diiming-imingi, lalu seenaknya mengajukan permohonan bekerja kembali, benar begitu…?” (Sei)

“T-tapi…bukankah wajar jika kau menerima orang-orang sekaliber diriku dengan senang hati? Aku pernah bertugas memasak di toko ini! Jika kau memperkerjakanku lagi, kau akan menerima hasilnya langsung!” (Damme)

“Harus kuakui kau memiliki kinerja yang baik saat masih bekerja di perusahaan kami…” (Sei)

“Kalau begitu….” (Damme)

“Tapi kalau boleh jujur, kami sudah mempunyai banyak pegawai yang kemampuannya setara dengan dirimu,” kata Sei padanya dengan sinis.

“Tentunya, kau boleh saja memiliki kemampuan itu semenjak awal…Tapi sekarang, mereka yang bahkan tidak memiliki keterampilan awal bekerja keras untuk mendapatkannya, dan tidak akan lama lagi, akan melampaui orang-orang seperti kalian yang terjebak dalam kesombongan… Apa kau benar-benar mengira aku tidak melihat etika dalam pekerjaan seseorang? Tentu, skill itu penting, tapi itu bukan yang utama. Katakanlah ada seseorang yang kemampuannya setara dengan dirimu; diantara kalian berdua, salah satunya cenderung membelot bila menghadapi keadaan krisis, dan yang satunya adalah seorang pekerja keras yang tetap setia dalam menghadapi krisis itu…Aku tidak perlu bilang yang mana yang akan kupilih kan?” (Sei)

Sei menusuk pria itu dengan tatapannya. Orang itu, pria yang disebut Damme, tidak bisa melakukan apapun kecuali gemetar ketakutan sebagai tanggapannya.

…. Sungguh, kemampuan Sei memang sesuatu.

Table of Content
Advertise Now!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *