Duke’s Daughter Bab 79

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Keyakinan Sei II

Toko begitu ramai dengan antrian yang memanjang sampai keluar pintu dan menjalar hingga ke kerumunan orang-orang.

Meskipun aku sudah menerima laporannya, melihatnya sendiri merupakan pengalaman yang sama sekali berbeda. Toko yang kebanjiran penjualan, stok yang menurun cepat, jumlah pesanan peralatan yang tajam, dan berbagai catatan toko lainnya. Namun, saat aku melihatnya sendiri dengan kedua mataku….aku, sekali lagi, dibuat terkesan.

“… Kupikir toko menjadi lebih sibuk dari terakhir kali aku melihatnya….” (Mimosa)

Mimosa menatapku saat mengungkapkan pendapatnya.

“Sepertinya begitu… namun tingkat aktivitas seperti ini sudah ideal, kurasa.” (Iris)

Toko begitu sesak sehingga hampir tidak ada ruang kosong sejauh mata memandang….

Bahkan antrian untuk layanan kasir sangat panjang.

Bagi seorang pemilik bisnis manapun, pemandangan seperti ini cukup membuat mereka menari gembira.

Kami masuk dari bagian belakang toko melalui pintu masuk pegawai, yang mengarah langsung ke interior toko.

“Ah, Nyonya Iris, Tuan Sei, selamat datang.” (Manager)

Manager melihat kami dan segera datang untuk membungkuk.

“Tolong angkat kepalamu. Kami disini hanya untuk mengantarkan sesuatu.” (Ryle)

Ryle tersenyum masam saat ia menyerahkan sebuah kotak pada menager.

“….Sebuah kiriman?” (Manager)

Manager sepertinya tidak percaya dan menggumamkan kalimat itu lagi.

Dia cukup terang-terangan ingin mengetahui maksud di balik semua ini, namun ia tidak menekan lebih jauh. Manager mungkin tidak ingin terlihat tidak sopan.

Menanggapi ini, aku juga tersenyum masam.

“Iya. Bisnis melaju pesat akhir-akhir ini, dan kupikir para karyawan sangat lelah setelah seharian bekerja keras; oleh sebab itu, aku membawakan jus untuk dinikmati semua orang. (Iris)

“Oh, terima kasih banyak.” (Manager)

Manager menerima kotak itu dari Ryle.

“Apakah jus-nya sudah cukup untuk semua orang, atau kurang?” (Iris)

“Tidak, ini cukup Nyonya. Keadaan sekarang sudah cukup tenang jika dibandingkan minggu sebelumnya, jadi…..” (Manager)

Tiba-tiba, tepat ketika kata-kata itu meninggal bibirnya.

Brukkkkk!!!! Terdengar suara benturan keras yang diikuti teriakan.

Tanpa ragu, Ryle dan Dida bergegas melindungiku dengan tubuh mereka.

Tubuhku terjebak diantara dinding Ryle dan Dida.

Manager segera pergi ke depan toko.

“Dida,” aku memanggilnya. “Kami baik-baik saja jadi pergilah ikuti manager dan lihat situasinya.” (Iris)

“Putri, tugas kami adalah untuk menjamin keselamatan anda, anda tahu?” (Dida)

Katanya dengan nada serius.

“Tapi kau perlu memastikan bahayanya kan?” (Iris)

Dida menghela napas. Aku tidak yakin apakah karena dia mengalah pada saranku, atau apalah dia benar-benar setuju bahwa memeriksa situasi terlebih dahulu adalah suatu keharusan.

“…..Argh….Aku mengerti. Ryke, kuserahkan Putri padamu.” (Dida)

“Tentu saja.” (Ryle)

Dan kemudian Dida berlari ke depan toko juga.

Yang selanjutnya bergerak adalah Ryle. Dia sudah memiliki pemahaman struktur gedung dari pelatihan yang tak terhitung jumlahnya di masa lalu.

“Lewat sini.” (Ryle)

Dia membimbing kaki ke kantor, yang berfungsi ganda sebagai penerima tamu.

Ada banyak meja yang disusun sebagai ruang kerja. Dan satu yang di ujung ruangan adalah meja penerima dengan kursi-kursi yang berjejer, dipisahkan dengan bilik pemisah.

Aku duduk di salah satu kursi itu.

Pada waktu itu, seorang pria yang sepertinya seorang pegawai mengetuk pintu dan masuk ke dalam.

“….P…. permisi.” (Pegawai)

Sei, yang namanya dipanggil, bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arahnya.

“Iya. Apa kau perlu sesuatu?” (Sei)

“Tuan Dida telah menangkap pelaku keributan dan meminta saya menyampaikan bahwa beliau ingin segera bertemu Tuan Sei.” (Pegawai)

Ha~~ Aku membuang nafas lega setelah mendengar kata-katanya. Kalau Dida, dia pastinya tidak akan mengalami kesulitan dalam menahan pelakunya.

…… Meski begitu, untuk alasan apa Dida memanggil Sei?

“Aku?…Apa kau yakin dia memintaku datang?” (Sei)

Sei bertanya balik meminta konfirmasi. Sepertinya dia memiliki pertanyaan yang sama denganku.

“Y,ya…Tuan Dida bilang kita harus membicarakan masalah ini di toko daripada dibalik pintu yang tertutup; pelakunya terus berteriak ‘Bawa kemari bos tempat ini!’ (Pegawai)

“Aku paham, kalau begitu kita pergi.” (Sei)

Table of Content
Advertise Now!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *