Duke’s Daughter Bab 71

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Di balik Panggung dari Sudut pandang lain III

“Aku paham.” (Dean)

Aku menghargainya, apa yang dikatakannya memang benar.

“Tidak perlu cemas. Segala sesuatu yang terjadi mulai sekarang akan berjalan sesuai rencanaku. Aku telah memutuskannya semenjak Raja dan Nona Ellia mulai menjauhi kami: aku tidak akan pernah menjadi seperti ayahku.” (Dean)

“Aku agak lega mendengarnya.” (Rudy)

Rudy menghela napas ringan.

“Lagipula, kau tidak punya alasan untuk khawatir. Keputusanku semakin kuat semenjak aku bertemu dengannya.” (Dean)

“Kenapa?” (Rudy)

“Seorang Raja yang tidak kompeten hanya akan membuat rakyatnya mati. Karena ayahku telah dibutakan akan cintanya pada ibuku, dia tidak bisa menyelamatkannya dari rencana jahat dan menjadi cangkang kosong ketika kehilangannya. Aku hanya merasa kasihan pada ayahku.” (Dean)

Orang itu jadi tidak bisa bergerak maupun berpikir. Dia kehilangan semua alasan untuk hidup ketika ibuku meninggal, memungkinkan Nyonya Ellia dan keluarganya dari Maruqis Maeria untuk perlahan mengendalikan kerajaan.

Apa yang lebih bodoh adalah dia menikahi wanita yang telah membunuh istrinya, Nyonya Ellia. Dia mengabaikan kejahatannya dan membiarkan dia menghasutnya. Pada akhirnya, orang itu mengusirku dan Letisha dari istana. Baginya, aku dan adikku hanyalah anak-anak yang tinggal di istana, sama sekali tidak berhubungan dengannya.

Jika nenekku tidak mengambil kami, mungkin Nyonya Ellia telah membunuh kami berdua.

“Yang kulihat adalah sosoknya yang kuat membawa beban dunia di kedua pundaknya namun terus tumbuh telah menginspirasiku. Orang yang sedang sakit itu pada akhirnya akan melepaskan tahtanya. Saat itulah aku akan memanfaatkannya untuk menghilangkan semua parasit yang tinggal di kerajaan ini.” (Dean)

Aku akan mengirim mereka ke neraka bersama-sama. Sejak saat itu, aku tidak lagi merasakan hubungan kekeluragaan dengannya. Bagiku, adik kecilku, Leti, adalah keluargaku, itulah kenapa aku sama sekali tidak merasakan kecemasan pada ayahku, Raja.

Oh … begitu .. aku paham kenapa Rudy membahas ini .. Tentang aku menjadi lebih lunak … Aku akhirnya sadar selama percakapan kami bahwa aku … adalah orang yang dingin sebelumnya.

Aku tidak pernah merasa senang maupun tertarik pada apapun. Tidak peduli berapa banyak orang yang mati di Kerajaan ini karena perang maupun kelaparan, mereka hanyalah angka bagiku. Aku selalu berpikir seperti itu. Orang-orang yang aku pedulikan hanyalah Leti, Rudy, dan nenek. Aku bisa mengerti kenapa dia berkomentar kalau aku semakin lembut.

Ditambah, aku juga sadar bagaimana pentingnya dia(Iris) bagiku.

Aku mulai tertawa.

“Aku tidak akan menjadi seperti ayahku. Keputusanku tidak akan goyah, karena orang yang aku sayangi adalah orang yang tidak akan pernah menjadi milikku.” (Dean)

“Jika Yang Mulia menginginkan, Keluarga Armelia dengan senang hati akan mengatur pernikahannya. Saya kira bibi saya akan mendukung ini. Di samping itu, dia harus menyerahkan posisinya sebagai penguasa pada adiknya.” (Rudy)

Itu seperti yang Rudy katakan. Pewaris keluarga Armelia adalah Berne, yang berarti juga akan mewarisi gelar penguasa itu … Namun aku bisa membayangkan bagaimana tanggapannya.

“Kenapa memangnya?” (Alfred)

Dia tidak akan peduli, karena dia juga memliliki Azuta Conglomerate dan telah mandiri dalam beberapa aspek demokrasi dalam pemerintahan wilayahnya. Sebagai hasilnya, siapapun yang akan mengambil alih tidak akan malasalah baginya. Dia mungkin akan menemukan sesuatu yang baru untuk bekerja keras.

“Aku memang mencintainya, tapi dia adalah seseorang yang harusnya bebas membentangkan sayapnya ke seluruh dunia. Aku tidak yakin sebuah kurungan seperti istana akan cocok dengannya.” (Dean)

Dia adalah orang yang aku sayangi. Membayangkan ia berdiri tegak, bekerja keras, mengatasi semua rintangan di jalannya … Matanya memancar dengan jernih layaknya langit tak berawan. Istana kerajaan, dengan semua peraturan yang menjemukan, akan membuatnya kehilangan sesuatu yang membuatnya spesial.

“Aku akan meminta maaf pada nenek, aku tidak punya niat membawanya ke istana.” (Dean)

” …Begitu ….” (Rudy)

* * *

Table of Content
Advertise Now!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *