Duke’s Daughter Bab 70

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Di Balik Panggung Dari Sudut Pandang Lain II

“Sepertinya kau menyukai sepupuku, ya?” (Rudy)

Sambil tertawa dan memberiku seringai lebar, dia bertanya….kau pikir ini lucu bukan, Rudy?

“Telingamu ternyata cukup lebar juga ya.” (Alfred)

“Apa? Kami kerabat. Aku tidak perlu menyelidiki apapun tentangnya. Aku cukup mengiriminya surat, tidak sepertimu. Meski kau hanya menginginkan kontak jangka pendek, kau mengunjunginya berulang kali dan sangat akrab dengannya, hahaha.” (Rudy)

Dia terus tertawa selagi memberiku seringai itu. Yup, dia menikmati ini.

“Aku benar-benar terkejut. Kudengar kau mengunjungi panti asuhan bersamanya berulang kali dan bermain dengan anak-anak disana. Sulit dipercaya, aku tidak pernah melihatmu bermain dengan anak-anak lain kecuali Leticia. Kau juga menghabiskan banyak waktu dengannya di kantornya dan bahkan keluar bersamanya mengunjungi kota sambil menyamar. Saat aku mendengarnya dari orang-orang disana, kupikir ‘apakah dia benar-benar orang yang kukenal?'” (Rudy)

Aku coba menendang kakinya selagi kami berjalan dan melihatnya tersandung membuatku tersenyum. Aku paham apa yang kulakukan ini kekanak-kanakan.

“…..Aku setuju denganmu. Aku hanya berniat bertemu dengannya sekali.” (Alfred)

Awalnya, ini bermula karena ketertarikanku pada perkembangan Wilayah Armelia yang pesat. Aku sangat khawatir jika putri itu akan mengambil tanggung jawab atas wilayah tersebut. Aku pernah melihatnya di akademi sekali, namun kesanku saat itu sangat mengerikan. Dia terang-terangan membully putri Baron, Yuri Noire. Meskipun aku paham alasan dia melakukan itu, masih ada cara lain untuk menangani masalah tersebut. Oleh sebab itu, meskipun adik laki-lakiku agak bodoh, aku bisa mengerti keputusannya membatalkan pertunangannya. Saat aku mendengar bahwa dia yang mengambil alih kekuasaan wilayah paling penting di kerajaan, aku sedikit khawatir. Dan yang lebih penting, apa yang dipikirkan ayahnya?

Meskipun aku menerima laporan bahwa wilayah itu meningkat pesat, aku berpikir itu karena seseorang yang pintar yang mengambil tanggung jawab dan bukannnya dia. Jadi, aku menyusup ke kediamannya untuk menarik orang itu agar berada di pihakku….Yang mengejutkan bahwa orang itu memang dirinya.

Aku sangat terkejut waktu itu, mulutku menganga lebar, aku merasa rahangku hampir terkilir.

“Terus terang ini menggelikan. Aku tidak pernah merasakan beban apapun saat mencapai sesuatu yang orang lain anggap luar biasa. Aku juga tidak pernah terkesan dengan apapun. Tapi …saat aku bersamanya, aku tidak pernah merasa bosan. Ide-idenya adalah sesuatu yang tidak pernah terpikirkan olehku. Usulan-usulan yang dia buat menghancurkan pandanganku….Tiap kali aku bersamanya, dia selalu membawa penemuan baru. Hari-hari aku bersamanya adalah hari dimana aku tidak pernah merasa lelah dan bosan.” (Alfred)

Saat aku mulai memperhatikannya, aku merasa ingin memanjakannya. Meskipun kupikir kelemahan bukanlah sesuatu yang harusnya diperlihatkan pada orang lain…dia percaya bahwa memiliki kelemahan itu sendiri salah. Dia menjadi menderita karena ini, dan memikirkan betapa menderitanya dia membuat hatiku sakit dan semakin ingin menolongnya. Sifatnya itulah yang membuatnya terlihat cantik di mataku.

“Orang-orang, barang, dan politik…… Semuanya adalah pekerjaan yang kumiliki diatas meja. Bagiku itu hanya sekumpulan angka, tak kurang dan tak lebih. Sumber daya manusia hanyalah pion diatas papan. Kau hanya perlu memikirkan bagaimana menggunakannya dengan terampil. Namun, setelah mengunjungi wilayah itu… penilaianku mulai berubah. (Alfred)

“….Ya, aku juga berpikir kau menjadi lebih lembut dibandingkan sebelumnya.” (Rudy)

“….Jadi kau juga berpikir begitu. (Alfred)

“…. Itu juga sebabnya aku khawatir.” (Rudy)

Suaranya tiba-tiba berubah dan ekspresi wajahnya juga sangat serius.

“Aku percaya fakta bahwa kau menjadi lebih lembut merupakan hal baik untukmu. Tapi aku juga percaya jika kau semakin melunak, kau akan kehilangan pandangan atas rencanamu…aku hanya khawatir kau mungkin menyesali keputusan yang kau ambil di masa depan.” (Rudy)

“….Apa yang kau katakan saat ini dengan yang sebelumnya sangat kontradiktif. Aku tidak percaya kau mengatakan itu setelah barusan berterima kasih karena telah menolong sepupumu Iris, Rudius Jib Anderson.” (Alfred)

“Itu hal yang sama sekali berbeda. Aku juga percaya orang sekaliber dirinya tidak akan hancur karena sesuatu seperti ini. Aku hanya memberimu peringatan sebagai ajudanmu, Alfred Dean Tasmeria.” (Rudy)

* * *

Table of Content
Advertise Now!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *