Duke’s Daughter Bab 69

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Di Balik Panggung dari Sudut Pandang Lain

(Sudut Pandang Alfred)

Langkah kaki bergema di seluruh bangunan.

“Sungguh penjara yang megah.” (Rudy)

Rudy memberi komentar sarkastik dan tertawa.

“Yah, karena Paus yang dipenjara disini, tentu tidak akan sama dengan penjara warga biasa.” (Alfred)

“Yang Mulia… Cara berpikir seperti itu justru yang menciptakan situasi ini semenjak awal.” (Rudy)

Aku memberi isyarat pada para penjaga di pintu masuk agar membiarkanku lewat. Paus, dengan dalih berada di bawah tahanan rumah, tinggal di penjara khusus ini.

“Si-siapa-!!! Ah! K-kau…”

Wajah Paus terbelalak kaget saat ia melihatku. Sangat lucu sampai aku tidak bisa menahan sudut bibirku yang naik.

“Sudah lama, Paus Wilmotz Lutasha…Ah, aku lupa: harusnya mantan Paus Wilmotz Lutasha.” (Alfred)

Harus kuakui aku sedikit menyeringai saat aku mengatakannya. Akan tetapi, karena aku senang akhirnya bisa menyingkirkan salah satu parasit yang menggerogoti negri ini, itu harusnya bisa dimaafkan.

“….Kau–Kau adalah pangeran pertama, Alfred! Kenapa kau disini?!” (Paus)

“Kenapa, kau bilang? Aneh….aku pikir semua akal bulus dan permainan bodoh itu dimaksudkan untuk menarik perhatianku. Aku tersanjung dengan pertunjukan kalian, jadi aku datang untuk memberikan pujian.” (Alfred)

Wilmotz menelan ludah saat dia mencoba menahan kepanikannya.

“Nyonya Ellia dan Marquis Maeria keduanya bersekongkol denganmu dan membuat masalah ini benar-benar tak terkendali, jadi aku tidak bisa lagi terus berada dalam bayang-bayang. Kekuatan mereka dan milikku adalah dua kekuatan yang bersaing di kerajaan ini. Meskipun mereka memiliki sedikit keunggulan, bukan berarti aku tidak bisa menangani mereka. Akan tetapi, setelah kau bergabung dengan aliansi mereka, aku tidak bisa lagi duduk tenang menunggu gerakan mereka selanjutnya, yang ternyata, bertujuan untuk mengurangi kekuatan Keluarga Armelia. Berkat rencana bodoh kalian yang mencoba memerangi salah satu orang paling berpengaruh di kerajaan ini, aku tidak perlu lagi melangkah ke panggung sendiri; putri Duke Armelia menggagalkan rencana kalian dengan mudah. Ini benar-benar hasil yang diluar ekspektasiku.” (Alfred)

“T…tolong….Yang Mulia… aku hanya dimanfaatkan oleh Nyonya Ellia… menyebutnya persekongkolan itu tidak benar….Kumohon…beri aku belas kasihan..” (Paus)

Aku tertawa terbahak-bahak saat mendengar suara menyedihkan Wilmotz. Kupikir lucu bagi seorang Paus meminta belas kasihan dari orang biasa. Sungguh orang Tua yang menyedihkan.

(Tl note: Paus dianggap sebagai utusan Tuhan)

“Aku ‘adalah lawan yang mudah’…. bukankah itu yang kau pikirkan tentangku?” (Alfred)

“A–aku!!!! Aku tidak pernah mengatakan hal semacam itu! Itu semua Nyonya Ellia….” (Paus)

“Salah.” (Alfred)

Suaraku sangat dingin. Sepertinya dia sedikit terintimidasi.

“Huh?” (Paus)

“Pedagang itu….Siapa namanya? Oh ya, Divian.” (Alfred)

Wajah Wilmotz memucat seperti mayat….aku benar-benar terkejut mengetahui bahwa ini sudah mengakar semenjak lama mengingat posisi dan tanggung jawabnya yang tinggi. Aku mengerti bahwa dalam perebutan kekuasaan, Gereja sangat berbeda dengan kami dari Instana… tapi meski begitu…. sungguh mahluk menyedihkan….

“….Kenapa…?” (Paus)

“Jadi kau dimanfaatkan oleh Nyonya Ellia dan Marquis Maeria…tentu itu masuk akal, tapi jika benar seperti itu, maka kau tidak perlu bertindak lebih jauh selain yang diperlukan. Sebaliknya, kau malah mempertahankan peranmu, jadi aku berasumsi bahwa kau memiliki motif lain.” (Alfred)

Mulut Wilmotz membuka dan menutup berulang kali seperti ikan yang diambil dari air… Sanggahannya sepertinya tidak akan muncul.

“Dari awal, tujuanmu bukanlah menjatuhkan Iris…Yah, tidak perlu bagimu mengambil tindakan seekstrim itu jika hanya itu tujuanmu, jadi tujuanmu pastinya jauh lebih besar. Tujuanmu adalah untuk sementara menghentikan Perdana Menteri, Louis, dan mengalihkan semua fokus politik ke arahnya. Ini akan membuat Divian dan komplotannya bergerak lebih leluasa. Dengan memperlambat suplai dari Keluarga Armelia dan pengaruh mereka, Divian akan membantu menyebarkan pengaruhmu ke negara lain, dan kau mengharapkan lebih banyak kekuatan melalui jalur-jalur itu. Oh, kau tidak perlu menjawabnya; bagaimanapun juga, kata-katamu tidak ada gunanya.” (Alfred)

“Jika…kau sudah mengetahui semuanya k-k.. kenapa…?” (Paus)

“Kenapa? Maksudmu alasanku kemari? Aku ingin mengucapkan terima kasih karena kau telah menghancurkan diri sendiri, sehingga aku bisa mengambil keuntungan dari situasi ini. Karena jasamu, aku bisa dengan mudah menyingkirkan lintah-lintah yang menggerogoti negri ini.” (Alfred)

Wajah Paus berubah menjadi espresi lucu lainnya.

“Baiklah. Aku masih punya urusan lain. Aku harap kau betah tinggal di tempat ini. (Alfred)

Aku berbalik dan meninggalkan ruangan bersama Rudy. Wilmotz merangkak mengejarku sambil meneriakan sesuatu yang tidak jelas, yang mana itu cukup menyebalkan. Aku percaya aku meninggalkan ruangan itu dengan waktu yang sempurna.

“Anda telah bekerja sangat keras, Yang Mulia.” (Rudy)

Rudy menyeringai padaku.

“Ini waktu yang sempurna untuk membersihkan korupsi yang telah lama bersembunyi dibalik jubah agama. Aku tidak bisa menyia-nyiakan kesempatan langka seperti ini.” (Alfred)

“Tidak, yang kumaksud adalah menolong Iris.” (Rudy)

….Sialan. Dia benar-benar suka membahas topik ini.

“Yah, aku telah membuatnya bekerja keras dengan menanggung beban yang berat, jadi aku punya kewajiban untuk menolongnya sebagai balasan.” (Alfred)

“Tidak, sebenarnya kau tidak punya alasan nyata untuk melakukannya. Malahan, ini adalah kesempatan sempurna untuk mengurangi kekuatan Keluarga Armelia, tapi pada akhirnya, kau masih membantunya, dan membuatnya mendapatkan lebih banyak pengaruh.” (Rudy)

“….Apa kau punya masalah dengan metodeku?” (Alfred)

“Tidak, tidak! Haha…aku percaya sekarang kau bisa mempertimbangkan Keluarga Armelia dan semua fraksi netral lainnya yang berhubungan dengan mereka agar berada di pihakmu.” (Rudy)

Memang benar. Aku telah mendengar banyak laporan bahwa fraksi-fraksi yang sebelumnya netral mencoba untuk menghubungiku.

“Tentu saja, alasanku mengatakan ini karena aku ingin berterima kasih, anda telah mengulurkan tangan untuk sepupu saya, Yang Mulia.” (Rudy)

“…Aku tidak melakukannya untukmu…” (Alfred)

Table of Content
Advertise Now!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *