Duke’s Daughter Bab 66

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Para Saksi

“Maukah kedua saksi memperkenalkan diri?” (Iris)

Aku melangkah ke belakang dan mempersilahkan dua orang yang berjalan masuk memperkenalkan diri mereka.

“…. Salam semuanya. Nama saya Danban. Saya adalah administrator gereja di kota ini. (Danban)

Meskipun ada banyak bangunan gereja kecil di kota ini, hanya ada satu gereja resmi di Royal City. Yang ia maksud mengacu pada gereja resmi tersebut, yang juga dikenal sebagai Markas Besar Gereja yang terletak di bagian utara kota. Jika seseorang bilang ingin pergi ke gereja ibukota, maka tempat tersebut yang terpikirkan pertama kali.

“Saya adalah kaki tangan paus yang bekerja selama 20 tahun….oh benar. Penjualan bangunan gereja di wilayah Armelia itu atas nama saya. Saya diperintahkan melakukan ini oleh Paus akan tetapi, karena beberapa alasan aneh, setelah 20 tahun mengabdi, saya diusir dari Gereja.” (Danban)

“Salam, Yang Mulia. Nama saya Lenin. Saya berkerja di Gereja yang sama dengan Danban. Peran saya adalah menginformasikan penjualan gereja di wilayah Armelia. Saya bersumpah hanya melakukan apa yang Gereja perintahkan, namun… beberapa hari yang lalu, saya diusir dari Gereja. Saya hanya melaksanakan intruksi mereka, tapi entah kenapa, saya malah dituduh melakukan kejahatan pemalsuan. Saya masih memiliki salinan surat dan intruksi yang saya kirimkan ke wilayah Armelia. Jika ada yang meragukan identitas saya, silahkan tanyakan pada orang-orang ini, ada banyak wajah-wajah yang tidak asing disini.” (Lenin)

Setelah keduanya memberikan kesaksian, para hadirin menjadi gaduh. Aku merasakan bahwa kami sekarang berada di atas angin.

“Saya meyakini pendeta-pedeta yang sekarang hadir di ruangan ini dapat menjamin identitas mereka; bahkan saya sakin, beberapa diantaranya adalah teman mereka.” (Iris)

Daripada mengajukan pertanyaan pada para pendeta, aku memilih menegaskan kembali kebenaran ini.

Banyak diantara mereka yang membelalakan mata saking terkejutnya saat melihat kedua saksi tersebut, dan cepat-cepat menghindari tatapanku.

“Saya telah menunjukkan bukti dan kesaksian saksi. Dengan ini, saya sepenuhnya telah menyajikan kasus saya. Yang Mulia, bagaimana keputusannya?” (Iris)

Ellia mengigit bibirnya menanggapi pertanyaanku. Dia sedang berusaha keras menemukan celah untuk menyanggah pernyataanku, namun, kecuali dia bisa menyajikan bukti dengan kualitas yang sama, apapun yang dia katakan saat ini hanya akan melemahkan argumennya.

Wajah Paus, Wilmotz, sedikit memerah karena marah, namun tidak ada yang bisa dia katakan.

“Baik, kukira ini adalah akhir dari pertemuan ini. Kita telah mencapai kesimpulan akhir.. Bukankah begitu?” (Janda Ratu)

Janda Ratu berbicara untuk pertama kalinya dalam pertemuan ini. Seperti diriku, tidak ada yang bisa menentang atau menyanggah pernyataannya. Pernyataan adalah searah dan bukan untuk dijawab, ini lebih bersifat retoris yang menandakan pertemuan akan berakhir.

“Iris Lana Armelia, keluarga kerajaan di negeri ini menyatakan bahwa kau terbebas dari segala kejahatan dan kau memang bangsawan yang layak menyandang nama Armelia, yang merupakan salah satu keluarga bangsawan terkemuka di kerajaan ini.” (Janda Ratu)

Itu adalah kesimpulan dari pertemuan ini.

“Terima kasih. Terima kasih banyak atas kata-kata Anda, Janda Ratu. Namun saya mempunyai satu permintaan: apa Anda tidak keberatan jika kita melanjutkan pertemuan penyelidikan ini?” (Iris)

“Oh astaga…apakah masih ada sesuatu yang perlu dibahas?” (Janda Ratu)

“Benar Yang Mulia. Ini mengenai siapa yang bertanggung jawab melakukan perbuatan tercela tersebut.”

Nyonya Ellia mengerutkan alisnya.

“Keputusan telah dibuat. Tidak perlu lagi mengejar masalah ini. Bukankah tidak ada gunanya melanjutkan pertemuan ini lebih lama?” (Ellia)

“Ada alasan kenapa kita harus mengejar masalah ini lebih jauh: kita harus menemukan pelaku sebenarnya yang menyebabkan keributan dan keresahan bagi warga kerajaan ini.” (Iris)

Saat aku menyelesaikan kalimatku, aku mendongakan kepala dan menatap langsung ke arah paus.

“Anggota keluarga Armelia telah melayani negri ini sebagai perdana menteri selama beberapa generasi. Kami setia dan memenuhi kewajiban kami. Saya bangga dengan keluarga kami dan perannya. Bagi seseorang yang menaburkan kecurigaan dan kebencian terhadap keluarga kami… kami harus mencari tahu siapa pelakunya.” (Iris)

Beberapa orang membuang muka. Inilah yang kumaksud sebelumnya bahwa semua akan berjalan lancar.

“Yang Mulia. Membiarkan masalah ini tak terpecahkan hanya akan mendorong dan membuka jendela bagi negara-negara lain untuk meremehkan kita dan membuat masyarakat yang terpengaruh secara negatif oleh tindakan keji ini tidak akan memiliki keadilan yang pantas mereka terima; ini akan menodai wajah bangsawan. Ini adalah tugas kita menemukan pelakunya dan membawanya ke pengadilan.” (Iris)

Bukankah begitu, Paus Wilmotz? Aku tidak mengatakan itu keras-keras, namun itu tersirat ketika aku menatapnya secara langsung.

“Begitu. Jadi apa pendapatmu mengenai masalah jni, Ellia?” (Janda Ratu)

Janda Ratu meminta Nyonya Ellia pendapatnya namun mulutnya masih tertutup.

“Sigh. Apa yang para pendeta geraja pikirkan mengenai masalah ini?” (Janda Ratu)

Janda Ratu menghela napas kecil karena kurangnya tanggapan Nyonya Ellia mengunci tatapannya pada para pendeta Gereja.

Banyak yang membuka mulut mereka namun pada akhirnya segera menutup kembali.

Sang Ratu mulai mengusap pelipisnya saat menatap para pendeta itu dengan dingin.

“Aku tidak tahu kenapa begitu banyak dari kalian yang memilih diam. Tidak seperti Iris, tidak seorangpun dari kalian memberiku bukti apapun untuk mendukung pihak kalian atau ketidakbersalahan kalian. Dua orang pendeta telah diusir dari Gereja, seorang bangsawan yang dikucilkan, dan negara berada dalam keadaan genting. Namun yang kulihat dari kalian hanya berusaha melenyapkan saksi, menghancurkan bukti, dan membingkai sekutu lama kerajaan ini. Sekarang, siapa yang akan mengambil tanggungjawab dan menyajikan argumen kalian?’ (Janda Ratu)

“….Mohon maaf, Yang Mulia.” (Ralph)

Pendeta Ralph berdiri untuk berbicara mewakili Gereja. Semua orang mengalihkan perhatian mereka padanya.

“Yang Mulia. Sehubungan dengan kasus ini, kami, dari pihak Gereja, akan melakukan penyelidikan penuh dan mengambil tanggungjawab atas insiden ini. Ini sepenuhnya kesalahan kami.” (Ralph)

“Tentunya, rincian penyelidikannya harus kalian laporkan. Akan tetapi, mengingat bahwa Gereja dikelilingi oleh tudung yang menutupi pekerjaannya bahkan dari pihak bangsawan. Bagaimana kami tahu bahwa Gereja tidak akan melakukan kesalahan yang sama dan melimpahkan semua tuduhan pada dua orang ini? Apa kau akan sungguh-sungguh menyelidiki kebenarannya?” (Janda Ratu)

Tatapan tajam dari sang Ratu menyebar ke seluruh ruangan dan menusuk jantung para pendeta yang hadir. Dia bahkan lebih baik dari ayah dalam mengintimidasi orang.

Tabir misteri ini lebih dari sekedar metafora. Gereja sudah mengakar jauh sampai ke pusat kerajaan. Tidak peduli seberapa kuat seorang bangsawan, mereka tidak diizinkan memasuki kantor pusat Gereja. Agama ini juga sudah mengakar jauh ke dalam hati dan pikiran orang-orang. Jadi, jika mereka ingin memicu pemberontakan atau bahkan kudeta, mereka memiliki kemampuan untuk melakukannya.

…Aku tidak akan membiarkanmu lolos kali ini. Aku akan membuka celah dari baju besimu. Aku harus memisahkan faksi pangeran kedua dan Gereja hari ini, atau hal semacam ini akan terulang kembali. Khususnya, aku harus memisahkan koneksi antara Van dan Edward.

“Tentu saja Yang Mulia. Saya tidak akan membiarkan sejarah terulang. Saya mungkin hanya seorang pendeta, namun saya juga warga kerajaan ini. Bahkan jika orang yang bertanggung jawab itu duduk di kursi tertinggi Gereja, mereka akan dibawa ke pengadilan.” (Ralph)

“Oh. Terdengar meyakinkan… Bahkan jika pelakunya dirimu sendiri?” (Janda Ratu)

“Tentu saja. Kami akan menyerahkan dokumen yang terkait dengan insiden ini dan membuat semua pendeta dan anggota gereja diinterogasi oleh penyidik keluarga kerajaan. Kami akan menerima hukuman dari keluarga kerajaan sendiri sebagai warga negara yang berbakti pada kerajaan ini.” (Ralph)

“…Pendeta Ralph, bukan tempatmu untuk membuat keputusan itu…!” (Paus)

Setelah mendengar pernyataan Pendeta Ralph, Paus mengajukan keberatan.

Namun keberatannya ini dengan cepat dipotong oleh tatapan tajam Pendeta Ralph.

“Memang, saya menyadari posisi saya, namun ini satu-satunya hal yang bisa kita lakukan,Yang Mulia. Hutang harus dilunasi dan kita harus memberikan dokumen-dokumen laporan pada putri Duke Armelia. Saya yakin anda menyadarinya juga, Yang Mulia.” (Ralph)

“…” (Paus)

“Tolong lihat mata orang-orang yang berdiri di depan kita. Hingga saat ini, ketidakbersalahan kita sedang dipertanyakan dan kepercayaan yang mereka berikan telah rusak. Satu-satunya cara mendapatkan kembali kepercayaan mereka adalah dengan membiarkan mereka menyelidiki dengan benar masalah ini untuk kita demi menerima hukuman yang seharusnya.” (Ralph)

“… Seperti yang dia katakan. Aku memujimu, Pendeta Ralph, atas keberanian dan tekadmu. Karena keteguhan hatimu, aku ingin kau yang memimpin tim penyidik dari orang-orang yang kupilih dan menemukan kebenaran di balik insiden ini.” (Janda Ratu)

“Saya akan mengabdikan diri dalam melaksanakan tugas yang diberikan dengan sebenar-benarnya.” (Ralph)

Pendeta Ralph merendahkan kepalanya sebagai tanggapan menerima tugas tersebut… Seperti yang diharapkan dari aktor dan aktris dengan skill dewa.

“Tidak! Yang Mulia! Hal semacam itu tidak boleh diserahkan padanya!” (Paus)

Paus WIlmotz adalah orang yang mengajukan keberatan atas keputusan Ratu.

“Kenapa kau berteriak?” (Janda Ratu)

Sang Ratu menusuknya dengan tatapannya saat ia bertanya.

“Mohon maaf, Yang Mulia. Namun tolong pikirkan kembali keputusan ini! Izinkan saya mengumpulkan tim yang benar untuk menyelidiki insiden ini, saya akan pastikan melaporkan rinciannya pada anda setiap hari! Saya bahkan akan memimpin tim ini untuk memastikan bahwa disana tidak ada korupsi.” (Paus)

“Tidak, Paus Wilmotz. Seperti yang Pendeta Ralph katakan. Tidak seorang pun disini yang mempercayai personel Gereja lagi. Aku meminta Pendeta Ralph, karena dia sendiri siap jika ditunjuk sebagai pelakunya. Aku menghargai tekadnya dalam menghadapi kemungkinan seperti itu.” (Janda Ratu)

“Itu …” (Paus)

“Tidak ada keberatan lagi. Pendeta Ralph, aku menantikan pekerjaanmu.” (Janda Ratu)

“Suatu kehormatan, Yang Mulia.” (Ralph)

* * *

Table of Content
Advertise Now!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *