Duke’s Daughter Bab 63

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Keberangkatan

Aku bersiap-siap dan mengenakan pakaianku. Aku akan menuju istana kerajaan sekarang. Seperti pidatoku sebelumnya, aku memilih pakaian yang tidak terlalu mencolok dan berangkat dengan pakaian sederhana.

Alasanku ke ibukota karena di sana akan diadakan pertemuan yang membahas mengenai alasan pengucilanku untuk ayah. Ini merupakan masalah yang sangat serius, karena pertemuan ini akan menentukan nasibku. Alasan ayah harus mendengar penjelasan adalah karena beliau merupakan kepala keluarga. Jika aku menggunakan istilah kantor, ayah adalah bosku, dan CEO memanggil bos untuk menjelaskan situasi.

Mereka juga akan memutuskan hukuman yang sesuai … Jika beruntung, mereka akan mengakui pengucilanku sebagai kesalahan dan menariknya kembali. Paling buruk, aku akan dipenjara atau menerima hukuman mati. Pertemuan ini memerlukan kehadiran sang pelaku, keluarga mereka, satuan penyidik, dan saksi. Karena ini menyangkut kaum bangsawan serta orang yang sangat berpengaruh, dalam pertemuan ini, diharapkan banyak bangsawan untuk hadir berpartisipasi menyaksikan proses.

Pengawalku saat ini, seperti biasa, adalah Ryle dan Dida.

Orang-orang sudah berkumpul di persidangan … Sebenarnya saat ini aku tidak diundang, karena pengucilanku, status bangsawanku dicabut, tetapi, dengan izin khusus dari Janda Ratu, aku diizinkan untuk hadir.

Kami bergerak melalui rute yang telah ditetapkan oleh Janda ratu …. Ahh, orang-orang menatapku dengan cemoohan … Yah, kukira aku seorang penyusup, karena tidak ada yang menyangka bahwa aku akan hadir.

“Duke Armelia, sebagai seorang ayah, Anda gagal mengawasi putri Anda sendiri dan mencegah kebodohannya. Bagaimana mungkin Anda bisa mengelola sebuah negara dengan benar?” (Ellia)

Suara itu… Apakah itu suara istri kedua Raja, Nyonya Ellia? Dari apa yang kudengar, sepertinya ia ingin ayah berhenti menjadi Perdana Mentri …Apakah dia menyalahkan ayah untuk apa yang terjadi?

“Tidak bisakan Anda membayangkan rasa malu negara kita dengan mempunyai putri seorang Perdana Mentri yang dikucilkan sebagai pendosa? Apakah Anda sudah benar membesarkan putri Anda?” (Bangsawan 1)

“Pertama, dia adalah seorang Perdana Mentri yang tidak kompeten, tetapi sekarang kita melihat ia gagal sebagai seorang ayah juga.” (Bangsawan 2)

Para bangsawan yang mendukung Nyonya Ellia mulai menyerukan keluhan mereka tentang ayah. Segera bisik-bisik kegaduhan menyebar di sekitar ruangan.

“Saya tidak pernah menyuruh putri saya melakukan itu.” (Louis)

Suara rendah ayah membungkam semua penonton.

“Jadi, maksud Anda, karena Anda bukan orang yang menyuruhnya menghancurkan gereja, Anda tidak bertanggung jawab, begitu? Sangat menyedihkan.” (Ellia)

Nyonya Ellia tertawa angkuh dan menaikan suaranya.

“Semuanya, kalian dengar itu? Dengarkan ini baik-baik. Selain menjadi Perdana Mentri, Anda juga seorang Duke Armelia. Segala tindakan dan operasi di wilayah Anda menjadi tanggung jawab dan kesalahan Anda. Jangan bermimpi Anda bisa melarikan diri.” (Ellia)

Pernyataanya mengandung berbagai penafsiran: Dia ingin ayah melepaskan jabatannya sebagai Perdana Mentri dan melepaskan wilayah kami. Para bangsawan nampaknya sangat mendukung ini, karena wilayah kami adalah yang paling makmur di kerajaan ini dan kaya akan sumber daya. Jika mereka saling berbagi dengan wilayah tetangga, tidak diragukan lagi mereka akan mendapat keuntungan yang besar.

Pernyataan Nyonya Ellia ini menyebabkan kegaduhan yang luar biasa. Ayahku berbalik dan memberikan penonton tatapan dingin dan mereka pun segera terdiam. Seperti yang diharapkan dari ayah.

“Saya tidak menyangkal kesalahan saya. Saya tidak pernah ikut campur urusan putri saya bukan tanpa alasan. Saya sangat percaya padanya sepenuh hati. Saya mengirimnya untuk bertindak sebagai penguasa wilayah dan, saya sangat bangga melihatnya mencapai begitu banyak prestasi. Memang benar saya adalah Perdana Mentri. Memang benar saya seorang Duke Armelia. Namun, saya juga seorang ayah. Jadi, saya sangat percaya pada putri saya dan tidak merasa perlu untuk mengawasi tindakannya.” (Louis)

” …. Terima kasih, ayah…” (Iris)

Aku mengucapkan terima kasih pada ayah, meskipun aku yakin beliau tidak mendengarnya. Kata-katanya dipenuhi keberanian, keberanian yang aku butuhkan untuk memasuki ruangan itu.

Tanganku gemetar kerena rasa takut dan kegelisahan, tapi, setelah mendengar itu, ketakutanku menghilang dalam sekejap. Meskipun kata-kata beliau mencapaiku, aku tidak secara fisik hadir di ruangan itu, ataupun mengintip melaui pintu. Aku berada di sebuah ruangan di dalam benteng yang mengarah ke ruangan rapat melewati jalur yang rumit.

Penjaga yang berada di depan pintu melihatku dan bingung. Tetapi, mereka segera tenang setelah aku menunjukan pada mereka surat dari Janda Ratu dan patuh membiarkanku memasuki ruangan.

Saat mereka membuka pintu ke ruang rapat, aku berjalan menuju tantangan terbesar dalam hidupku.

* * *
Table of Content
Advertise Now!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *