Duke’s Daughter Bab 59

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Konflik

“Upacara peresmian akan berlangsung besok. Tapi kesampingkan dulu hal itu sekarang. Dean, kamu jelas sudah mempersiapkan ini. Seberapa banyak kamu sudah mengetahui rencanaku?”

Pemahaman Dean akan rencanaku sedikit berbeda, tapi secara keseluruhan sangat mirip.

Dia menyadari apa yang kulakukan pada bangunan gereja setelah pembongkaran. Dia sebagian besar mendengarnya dari mulutku sendiri serta dari berbagai rumor yang beredar, kemudian membuat persiapan berdasarkan informasi yang ia simpulkan.

“Saya memahami langkah-langkah yang akan Anda ambil. Tetapi, apakah Anda akan keluar bertemu orang-orang dengan wajah seperti itu?”

“Wajah?”

“Anda mungkin tidak menyadarinya, Nyonya muda, tetapi Anda tampak mengerikan sekarang.”

‘Anda tampak mengerikan’, aku ingin membalasnya, akan tetapi aku tidak bisa membantah kata-katanya.

“Semua orang di sini telah mengetahuinya, akan tetapi, meskipun mereka khawatir, tidak ada yang berani mengatakannya karena mempertimbangkan perasaan Anda. Itulah sebabnya saya ingin mengeluarkan isi pemikiran saya di sini. Saya telah mendengar banyak hal tentang Nyonya muda, selain itu, berdasarkan pengalaman saya selama bekerja dengan Anda, saya jadi ingin tahu …. Nyonya muda, yang pertunangannya dengan Pangeran Kedua dibatalkan, yang sekarang bekerja keras demi semua orang, dan terus bekerja keras bahkan di tengah-badai seperti ini … Beliau tidak menangis, juga tidak menunjukan tanda-tanda kelemahan, bahkan dalam suaranya. Beliau terus bergerak maju dengan semua beban di pundaknya. Mengapa Anda mencoba untuk menjadi begitu kuat?”

“… Kamu salah. Aku tidak pernah mencoba mejadi kuat.”

Tidak menangis … Menjadi kuat. Apakah ‘Iris’ akan melakukan itu? … Atau ‘diriku’? Takdir yang aneh.

“Tidak bisakah Anda lebih jujur pada perasaan Anda sendiri?”

Tidak, tolong hentikan. Aku tidak ingin bergantung pada siapapun seperti itu lagi. Tolong, berhenti menyudutkanku.

Aku menggigit bibir.

“Menangis tidak akan menyelesaikan apapun.”

Kata-kata yang keluar dari mulutku adalah kata-kata yang paling tidak ingin aku dengar.

“…’Menangis tidak akan menyelesaikan apapun. Hmmm. Meskipun saya setuju dengan itu, mengurung diri Anda seperti ini jauh lebih buruk daripada menangis. Melalui tangisan, Anda dapat keluar dari kekangan dan akan mampu bergerak bebas. Anda harus menghadapi perasaan Anda secara langsung, karena itu akan memberikan hati Anda sebuah kemantapan.”

Aku sudah tidak tahan lagi…Begitu memikirkan itu, semua emosi dan perasaan yang telah kutekan selama ini meledak.

“Jadi, apa yang harus kulakukan?! Menangis di pojok dan berteriak minta tolong berharap seseorang datang dan membantuku?! Apa maksudmu dengan aku menangis dan mengeluh akan memecahkan situasi ini?! Kamu juga tahu jika aku melakukannya tidak akan ada apapun yang berubah…!”

Aku ingin berhenti, tapi remku tidak bekerja.

“Aku tidak bisa santai dengan hanya meninggalkan semuanya dan menangis! Bahkan dengan pertunanganku – Meskipun itu menyakitkan dan membuatku frustasi mengingat tidak berdayanya aku!”

Meskipun cintaku telah memudar sejak pembatalan itu, aku tidak bisa bilang bahwa sebenarnya aku masih memikirkannya. Aku cemas tentang ke mana aku harus membuang rasa frustasi dan kebencianku ini. Tapi menangis tidak akan memberikanku keyakinan dan solusi di atas kepalaku. Jadi aku menyerah untuk menangis. Aku memutuskan menggunakan kepalaku untuk bernegosiasi dengan ayah.

Bahkan setelah aku tiba di wilayah garapan, aku masih tidak sepenuhnya yakin. Di kehidupanku sebelumnya, aku hanya seorang sekretaris biasa yang bisa kau temukan di departemen perpajakan manapun. Ini pertama kalinya aku harus berurusan dengan situasi politik. Aku selalu cemas jika kebijakanku akan berdampak buruk pada masyarakat. Aku selalu dihantui hal-hal seperti itu.

“Apalagi sekarang, aku dikucilkan oleh Gereja … aku seorang pendosa … Apa salahku? Apa yang telah kulakukan hingga aku pantas mendapat perlakuan seperti ini?”

Tik. Tik. Aku bisa merasakan air mataku menetes.

“Itu kejam. Begitu kejam. Kenapa? Kenapa ini terjadi padaku?! Aku hanya ingin melarikan diri, menjerit, dan berteriak, tapi …”

Aku mencoba menyembunyikan air mata dengan kedua tanganku, tapi itu malah menetes pada telapak tanganku.

“Dan semua itu karena ketidakmampuanku ,,, Dadaku terasa sakit jika memikirkan orang-orangku dan penderitaan mereka. Mereka semua telah banyak bekerja keras demi membangun wilayah kami … Karena aku, mereka semua menderita. Aku sangat tidak berguna dan menyedihkan… Ini sangat menyedihkan.”

Layaknya lumpur, kata-kataku tidak beraturan dan buruk, emosiku membingungkan kata-kata yang tumpah dari mulutku. Kata-kata yang keluar setelah emosi dan gerak batin keduanya saling bercampur.

“Jika aku menangis dan memohon bantuan, akankah seseorang datang untuk menolongku? Tidak, aku hanya akan menjadi beban berat yang harus ditinggalkan. Kalaupun aku menerima pertolongan, sebagai anggota keluarga Armelia, sebagai pendosa, semua orang yang berhubungan denganku akan ikut terpengaruh. Kecuali jika aku bisa membuat mereka menarik kembali pernyataan itu, tidak akan ada yang berubah. Sampai saat itu, aku hanya akan menjadi beban.”

Itu benar, kalaupun aku melepaskan semua otoritas dan statusku pada orang lain, selama aku masih seorang pendosa yang dikucilkan oleh Gereja, keluarga dan konglomerat masih akan terkena dampak. Bahkan jika aku tidak bisa menghapus titel pendosa ini sepenuhnya, setidaknya, aku perlu menyingkirkan pernyataan itu.

“Aku mencoba untuk tetap kuat … Dean, kamu salah. Aku tidak menahan air mataku karena itu memang percuma … Itu karena aku tidak bisa menangis, bagaimana …. bagaimana jika aku ditinggalkan lagi?”

Aku takut menjadi beban. Meskipun aku tahu itu adalah pemikiran yang bodoh, aku masih tidak ingin kehilangan semua orang. Dari dasar hatiku yang paling dalam, aku sangat ketakutan, aku takut jika …. Seandainya aku benar-benar ditinggalkan.

“Aku tidak mencoba menjadi kuat … Aku hanya berusaha terlihat kuat. Tapi aku bahkan tidak bisa melakukannya. Aku hanya seorang gadis yang menyedihkan-. Ini kenyataanya.”

Setelah mengungkapkan semua perasaanku, air mataku meluap. Ini mungkin pertama kalinya sejak aku menjadi Iris di mana aku mengekspresikan emosi kebingungan dan kesedihankanku.

” … Saat Anda terlihat kuat, Anda benar-benar cantik … tapi, tolong, jangan melupakan sekeliing Anda. Ini adalah keinginan semua orang untuk bekerja dengan Anda. Anda tidak perlu jatuh dengan menanggung semuanya sendirian … Mengingat posisi Anda dan masa lalu, ini adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari, tetapi jika Anda menanggung semuanya sendirian, orang-orang mungkin akan khawatir pada Anda dan kehilangan Anda sepenuhnya. Tolong jangan lupakan itu.”

Ekspresi Dean saat ia mengungkapkan isi pikirannya yang sebenarnya terlihat sangat serius. Ini bahkan terasa seperti salah satu nasehat ayahku. Tapi sekarang aku mengerti maksud di balik kata-katanya. Ayah, dan meskipun sangat menyakitkan. Terima kasih. Dean.

Setelah waktu yang lama …yah, setelah menangis begitu banyak, aku pergi ke kamarku untuk tidur setelah Dean memberikan tawaran menyelesaikan sisa pekerjaanku hari ini. Jika bukan karena dia, aku mungkin masih bekerja. Ini adalah pertama kalinya aku tidur begitu nyenyak. Aku segera tertidur tak lama setelah meletakan kepalaku di bantal.

Keesokan paginya, saat aku melihat diriku di cermin, aku melihat mataku masih merah. Tetapi, hatiku terasa segar. Sekarang, saatnya untuk upacara peresmian.

* * *
Table of Content
Advertise Now!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *