Duke’s Daughter Bab 48

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Hasilnya

” .. Mulai!!”

Tepat setelah teriakan wasit, aku mengayunkan pedang pada pria yang bernama Dida dengan segenap kekuatanku. Aku menoleh dan melihat lawanku melakukan hal yang sama. Sepertinya kami berdua sepakat bahwa jika tidak mengerahkan segenap kekuatan kami, kami tidak punya kesempatan untuk menang.

Dida membelokan seranganku dengan pedangnya. Dentuman antar logam bergema di seluruh arena. Sejak saat itu, tidak peduli seberapa keras aku berusaha mengalahkannya, dia tidak bergerak bahkan satu inci-pun. Melihat dia begitu tenang, mengayunkan pedang seolah-olah tidak memiiki berat sama sekali.

Jika ini terus berlanjut, aku tidak akan bisa mendaratkan serangan. Mengambil keputusan, aku melangkah mundur dan mencoba menyerang dari sudut yang berbeda. Saat aku mulai menyerang lagi, pedangku diblokir, dan kali ini aku didorong kebelakang. Setiap serangan terasa berat, dan yang bisa aku lakukan hanyalah bertahan.

“…Kuh.”

Aku coba mencari celah, tempat untuk menerobos, tapi kuda-kudanya tidak memiliki kelemahan sama sekali. Jangankan balik menyerang, aku bahkan tidak bisa mempersiapkan serangan … Sudah lama sejak aku terpojok seperti ini. Mengingat pelatihanku, aku tidak pernah kalah dari rekan-rekanku sebelumnya.

Ketika aku bergabung dengan Ordo Kesatria, aku berusaha keras dan mencapai kemenangan. Tetapi … Dalam situasi ini aku hanya bisa bertahan. Lawanku tetap tenang dan masih tenang. Aku tidak bisa melihat kemungkinan memenangkan laga ini. Jujur, aku takjub dengan perbedaan kekuatan diantara kami.

*Prang!!*

Di sampingku, pedang terbang ke udara. Sepertinya petandingan orang militer dan Ryle sudah selesai. Pemenangnya adalah Ryle. Pada saat yang sama, ayunan Dida semakin kuat. Seperti yang kupikir, tampaknya ia belum mengerahkan semua kekuatannya. Serangannya bertubi-tubi sampai akhirnya aku dilucuti.

Aku kalah … Aku coba menyerah, tapi Dida terus mengayunkan pedangnya tanpa henti.

“A-….”

Biasanya, jika lawan ingin menyerah, kau akan menghentikan seranganmu. Semua yang bisa kulakukan hanya menghindar, aku bahkan tidak diizinkan menggerutu. Mengingat kekuatan serangannya, kecepatan ayunan pedangnya sungguh menakjubkan.

“Berhenti! Pertandinan selesai!”

Dida menghentikan serangannya setelah mendengar teriakan wasit. Pedangnya hanya satu inci dari leherku, wasit hampir saja telambat.

“Cih …”

Dida menarik pedangnya kembali dengan ekspresi kecewa. Aku menghela napas lega.

“T-tunggu! … Kenapa kalian tidak bergabung dengan Ordo Kesatria maupun Militer?”

Aku bertanya sesuatu yang membuatku penasaran dari tadi. Jika mereka, aku yakin kedua organisasi akan menyambut mereka, dan aku juga belum pernah mendengar tentang mereka sebelumnya.

“Kami memiliki seseorang yang harus kami layani.”

“Tapi .. Dengan kekuatan kalian …”

“Terus? Aku bahkan tidak pernah berpikir mau melayani keluarga Kerajaan. Selama aku bisa melindungi putri, aku tidak keberatan.”

“… Dida, kau … Kau tidak perlu mengatakan hal seperti itu disini.”

Ryle menimpali omongan Dida.

“Tapi Ryle, kau juga sama kan? Apa yang Kerajaan telah lakukan untuk kita? Orang yang menyelamatkan kita adalah putri.”

“Itulah sebabnya. Kami tidak punya niat untuk bergabung dengan Militer atau Ordo Kesatria.”

Setelah pernyataan itu, Ryle dan Dida, kedauanya meninggalkan arena. Jendral Gazelle menjemput mereka di arena dan berdiri di depan Militer dan Ordo Kesatria.

“Kalian melakukannya dengan baik. Semuanya, mari kita akhiri acara ini dengan makan dan minum.”

Dengan itu, simulasi pertempuran berakhir.

Sementara arena kembali berisik, aku memutuskan mencuci keringatku ke sumber air terdekat.

“Kerja bagus.”

Merasakan seseorang menepuk bahuku, aku berbalik dan melihat seniorku di sana. Karena usianya tidak jauh denganku, kami sering berbincang.

“Pertarungan tadi sangat mengesankan.”

“Atau tidak. Aku bahkan sedikitpun tidak sebanding dengan mereka.”

“Yah itu wajar. Jika harus mencari lawan yang seimbang, itu harus Jendral Gazelle dari pihak militer, dan Kapten Malcolm dari pihak Ordo.”

Kapten Malcolm adalah kartu AS Ordo Kesatria. Jika murid Jendral Gazelle bisa setara dengannya, itu sebuah prestasi besar.

“Aku sangat heran kenapa mereka berdua tidak datang ke ibu kota. Aku yakin baik Militer maupun Ordo Kesatria akan menyambut mereka dengan tangan terbuka.”

“Mereka sudah menjelaskan itu sebelumnya.”

“Tetapi …”

“Ketika kau tiba-tiba bertanya pada mereka, aku sangat ketakutan. Jika kau terus melanjutkannya, tidak ada keraguan jika mereka akan membunuhnu.”

“Kau bercanda kan …”

Aku melirik seniorku memastikan ini hanya candaan, tapi aku hanya bisa melihatnya dirinya dengan ekspresi serius.

“Sama sepertimu, baik militer maupun Ordo mencoba menyelidiki mereka beberapa waktu lalu. Kami terlalu kelewatan, dan ada duel. Mereka bilang Tuan mereka telah dihina oleh kami. Dan mereka menangkan pertarungan.”

Aku terkejut. Memang benar, jika tuanmu dihina, sebagai seorang kesatria kau berhak menantang orang itu untuk berduel, tapi aku belum pernah mendengar hal ini benar-benar terjadi sebelumnya. Aku hanya bisa membayangan mereka sebagai anjing gila yang melindungi tuan mereka dengan cara apapun, dan akan mengarahkan taring mereka pada siapa saja yang menghalangi jalan mereka. Tapi, orang yang mampu mengontrol hewan buas seperti mereka, seperti apa tuan mereka sebenarnya?

” … Pertarungan itu sangat buruk. Mereka tidak main-main seperti barusan, jika Jendral Gazelle tidak menghentikan mereka, kami mungkin sudah mati.”

“Itu memang buruk, ya …”

“Ya. Mereka tidak seperti Ordo Kesatria, dan juga tidak sama dengan keganasan Militer. Gerakan Dida sangat cepat, sedangkan Ryle memiliki serangan yang sangat kuat untuk bisa ditahan. Pertarungan itu tak akan pernah kulupakan. Itu mengingatkanku, kau sangat beruntung Ryle menghentikan serangannya.”

“Kenapa?”

“Tuan mereka tidak lain adalah putri Duke Armelia, Iris. Aku merasa kasihan padamu. Sangat mungkin jika Jendral Gazelle sudah tahu bahwa tidak peduli pihak mana yang menang, hal ini akan menggangu keseimbangan antara dua organisasi. Itulah sebabnya, beliau mengirim kedua muridnya untuk memastikan tidak akan ada satu pihakpun yang menang. Ketika tiba giliranmu untuk maju, aku pikir mereka akan membalas dendam tentang apa yang telah kau lakukan pada tuan mereka di akademi. Aku serius khawatir padamu waktu itu.”

“Itu …”

Tuan mereka adalah putri Duke Armelia, Iris … Mendengar identitas tuan mereka, emosiku bergejolak. Tentunya itu sangat mengerikan jika dijadikan lelucon.

“Itulah sebabnya aku katakan kau sangat beruntung masih hidup.”

Sekarang aku merasa seperti itu juga. Sangat bagus karena ini hanya simulasi pertempuran. Jika aku serius bertarung dengan mereka berdua, aku mungkin sudah tidak berdiri di sini sekarang. Aku merasakan hawa dingin merayap di belakang punggungku.

” … Senior.”

“Ya?”

“Apa yang kau pikirkan mengenai Duchess Iris?”

“Jangan tanya padaku. Bagaimanapun, aku belum pernah sekalipun bicara dengannya.”

Aku merasakan kata-kata itu menusuk jantungku. Bahkan sebelum peristiwa itu terjadi, aku juga belum pernah sekalipun bicara dengannya.

“Tapi kau tahu … Melihat tindakan mereka berdua, aku hanya bisa bilang tampaknya ia memiliki hati yang besar.”

” … Itu kabar baik …”

* * *
Table of Content
Advertise Now!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *