Duke’s Daughter Bab 41

Font Size :
Table of Content
Advertise Now!

Jalan-Jalan di Royal City

Well, rencananya hari ini aku akan berkeliling di Royal City. Aku menerima pesan dari Mimosa bahwa dia akan datang, jadi aku sangat menantikan ini.

” … Nyonya muda, sudah waktunya Anda membuat persiapan.”

Sementara aku berlatih yoga di tempat biasa, aku mendengar suara Tanya dari belakang. Oh, Tuhan, sudah waktunya. Dengan demikian, aku segera mandi dan mulai persiapan. Karena aku akan pergi ke kota hari ini, seperti biasa aku mengubah pakaianku seperti “Allice.”

“Mimosa-sama telah tiba.”

“Kalau begitu, tolong antar dia agar menungguku di kamar sebelah. Aku akan ke sana segera.”

Ketika aku selesai persiapan, aku menuju kamar sebelahku. Meskipun kamar sebelah juga merupakan bagian dari kamarku, jika tempat di mana aku berdandan beberapa saat lalu adalah ruangan pribadi, maka kamar di sebelahku bisa disebut ruangan untuk tamu.

“Selamat pagi Mimosa. Aku menyesal telah memintamu datang pagi-pagi.”

“Selamat pagi Iris. Oh Tuhan … gaun yang kamu kenakan saat ini sangat bagus.”

“Mimosa juga.”

Karena Mimosa juga akan pergi ke kota dengan menyamar, apa yang dia kenakan kali ini lebih sederhana dari biasanya. Jika menggambarkan penampilannya, dia seperti putri seorang pedagang.

“Dan juga, saat aku memakai pakaian semacam ini, panggil aku Allice.”

“Apa itu?”

“Nama alias, itu alias. Aku tidak bisa mengumumkan namaku pada masyarakat … Jadi, hal pertama yang harus dilakukan adalah merubah penampilan, kan? Ketika kamu memberikan alias pada dirimu sendiri, itu memberikan perasaan yang berbeda.”

Bisa dikatakan, ini memberikan perasaan menjadi seorang aktris. Ketika seseorang memanggilku dengan nama itu (Allice) … Aku merasa melakukan sebuah peran atau sesuatu seperti itu.

“Aku mengerti … Jika seperti itu, maka namaku sekarang adalah Misha.”

“Baiklah. Kalau begitu, Misha. Haruskah kita pergi sekarang? … Lebih tepatnya, pertama aku akan membuat perkenalan. Ini adalah Tanya, aku kira kamu sudah tahu, dan mereka berdua, Ryle dan Dida, berfungsi sebagai pengawal kita hari ini.”

Dua orang yang berdiri di belakang, ketika aku memperkenalkan mereka, mereka sedikit menundukan kepala. Meskipun Ryle melakukannya dengan normal, tapi Dida bersikap seperti biasanya, jadi aku merasa sedikit gelisah.

“Senang bertemu dengan kalian …. Tetapi, saya pernah mendengar nama kalian sebelumnya, jadi ini tidak seperti pertama kalinya aku bertemu dengan kalian. Mohon kerja samanya hari ini. Di sebelah saya, mereka berdua adalah pengawal saya, Harry, dan Dan.”

Harry dan Dan berdiri di samping Mimosa, keduanya membungkuk.

“Harry, Dan. Mohon kerja samanya.”

Aku juga menyambut mereka berdua. Harry dan Dan memiliki nuansa “Aku pengawal!” di sekitar mereka dengan tegas. Untuk saat ini, karena mereka mengenakan pakaian biasa, aku kira itu tidak begitu buruk.

“Kalau begitu, karena kita tidak punya banyak waktu, mari kita pergi.”

Pertama-tama, kami menuju ke kafe di Royal City. Disini orang bisa makan kue cokelat dan berbagai macam makanan penutup lainnya. Aku ingin tahu bagaimana penjualan teh herbal berlangsung.

Ketika aku mengintip, sepertinya itu baik-baik saja. Orang-orang mengantri cukup panjang. Karena kami mematok harga serendah mungkin, tidak hanya kaum bangsawan yang menjadi pelanggan, tapi juga orang-orang biasa di kota.

“Yosh, mari kita ikut mengantri.”

“… Maafkan saya karena bersikap kasar, Allice-sama. Tidak bisakah Anda menggunakan nama Anda disini?”

Tanya diam-diam memberikan saran. Setiap orang mungkin berpikir hal yang sama, dengan tanda tanya melayang di atas kepala mereka.

“Tentang itu, bukankah tidak akan ada gunanya jika mereka tahu aku berada disini? Jenis layanan yang mereka berikan, kualitas produk yang mereka bawa, dan cara mereka memperlakukan para pelanggan, itu semua tidak bisa diketahui jika aku tidak datang sebagai pelanggan. Itulah sebabnya kita harus mengantri.”

“Saya sudah kelewatan, mohon maafkan saya.”

“Misha. Karena keadaannya seperti ini, apa kamu tidak keberatan berjalan dan banyak menunggu hari ini?”

“Yah. Ketika seseorang banyak berjalan, itu cukup bagus karena perutmu akan terasa lebih kosong.”

“Jika seperti itu, aku senang.”

Setelah itu, kami menunggu untuk waktu lama sebelum kami bisa memasuki toko. …. Aku ingin tahu apakah aku harus memperluas toko ini. Mari kita memikirkan itu setelah melihat penampilan toko.

Toko ini dibagi menjadi dua bagian, yang satunya berfungsi menerima pesanan untuk dibawa pulang. Dan ruangan lainnya diubah menjadi kafe.

Hmmm – Aku ingin tahu apakah sudah waktunya membangun sebuah toko yang khusus untuk dibawa pulang. Karena tidak terlalu memakan banyak ruang, dan penjualannya-pun hampir sama dengan toko kembang gula, ini mungkin bisa jadi pertimbangan.

Ada juga yang mengatakan, ‘ayo kita membeli beberapa untuk dibawa pulang setelah makan’ – sebagian orang berpikir seperti itu. Haruskah kami tetap mempertahankan konsep dua ruangan tetapi membuat tokonya jauh lebih besar? Atau haruskah kami membangun toko cabang? Hmmm, aku tak yakin.

“Halo, selamat datang di toko kami. Untuk berapa orang?”

“Tujuh orang.”

“Saya benar-benar menyesal. Untuk rombongan Anda akan dibagi menjadi dua grup, saya akan memandu kalian mendapatkan tempat duduk secara berdekatan.”

“Kami tidak keberatan.”

Dan karena itu, kami duduk secara terpisah. Karena kursi dengan kursi lainnya relatif dekat, kami memutuskan pembagian dengan cara ini: Mimosa, Ryle, Tanya, dan aku dalam satu meja, dan Harry, Dida, dan Dan di meja lainnya.

Pada awalnnya, aku ingin Tanya duduk di meja lainnya agar tetap seimbang, tapi dia mengungkapkan ketidaksetujunnya. Dia bilang, jika saya duduk di meja yang berbeda dengan Anda maka ….

Dengan begitu, aku bertanya pada Harry apakah dia bersedia menggantikan tempatnya untuk Tanya. Bagaimanapun, bukankah dia penjaga pribadi Mimosa? Tapi Mimosa mengatakan, selama Ryle ataupun Dida berada disini, dia tidak akan keberatan. …Untuk beberapa alasan, tampaknya dia sangat percaya pada dua penjaga kami.

Aku memesan satu set kue sementara Mimosa meminta berbagai macam buah dengan saus cokelat. Setelah kami selesai memesan, sambil menunggu pesanan kami datang, Mimosa dan aku memulai obrolan ringan.

Untuk sistem kafe ini: pelayan akan datang mengambil pesanan dengan membawa catatan untuk diserahkan ke dapur. Nomor meja akan ditulis pada selembar kertas dan kemudian diteruskan ke loket akuntan.

Nomor pada kertas akan sama dengan nomor pada papan di atas meja. Dan untuk papan yang disesuaikan di atas meja, bagian belakangnya dicat dengan warna putih.

Ketika semua pesanan selesai dikirim, mereka akan menggunakan bagian putih, tapi jika pesanan lain dibuat, mereka akan membalikanya lagi. Tentu saja, ketika seseorang membuat pesanan lain, itu akan diteruskan ke loket akuntan sebelum pesanan datang … Inilah sistem yang kafe ini gunakan.

(Tln: Intinya selain penanda nomor, papan itu juga berfungsi membedakan meja mana yg sedang menunggu pesanan dgn yg tidak.)

Karena mungkin akan sulit untuk menghitung penjumlahan, aku memperkenalkan sempoa. Saat aku masih tinggal di Jepang – Aku benar-benar beruntung bisa mengunakan sempoa saat masih SD.

Karyawan bingung dengan hal itu pada awalnya, tapi sekarang mereka sudah terbiasa. Hasilnya proses perhitungan bisa dilakukan dengan cepat. Tidak hanya kafe, aku ingin tahu apakah aku harus memperkenalkan itu di divisi sekolah dasar di wilayah kami … Aku akan menyimpannya dulu sebagai pertimbangan.

Sambil memikirkan berbagai hal dan berbincang, tau-tau, pesanan kami telah tiba.

“Waaa…. kelihatannya enak …!”

Mimosa tampak senang hanya dengan melihatnya dan segera makan. Untukku, karena Merida selalu menyajikanku prototipe produk tanpa kegagalan, ini bukan hal baru bagiku. Bisa dikatakan, makan di toko seperti ini dengan makan di rumah memberikan perasaan yang berbeda secara keseluruhan.

” … Hmm ~!! Ini rasanya enak!”

Mimosa mengatakan itu dengan wajahnya yang tampak puas. Entah kenapa, aku juga merasa senang seolah-olah aku yang memakannya.

“Aku senang jika seperti itu.”

Meskipun mereka sibuk dan masih banyak pelanggan yang menunggu, layanan mereka tidak asal-asalan. Aku benar-benar senang para karyawan bekerja dengan keras.

“Omong-omong, kenapa kamu memutuskan memulainya dari kafe?”

Mimosa tiba-tiba bertanya, tanpa kusadari, piring di depannya sudah bersih.

“Tidak ada alasan khusus. Hanya saja mereka mempunyai bahan baku yang sangat baik disini …. itu saja.”

“Akan tetapi, ini telah menjadi populer, aku terkejut.”

“Seperti aku, aku merasa diberkati hanya dengan berada disini.”

“… Baiklah, sudah waktunya kita pergi.”

Setelah kami selesai makan dan berbincang, kami membayar tagihan dan meninggalkan toko.

“Selanjutnya, kita akan pergi melihat produk kecantikan. Mari kita berjalan perlahan sambil menjelajahi Royal City”

Karena ada cukup jarak antara kafe dengan toko yang menjual produk kecantikan, kami harus berjalan untuk sementara waktu. Dalam perjalanan, tidak lupa aku melihat sekilas toko-toko di Royal City dan harga-harga barang mereka.

” …Oh?”

“Ada apa, Allice?”

“Baru saja, kupikir aku melihat Nona Yuri …”

Karena orang tersebut menghilang dalam kerumunan, aku tidak bisa meihatnya secara jelas. Selain itu, karena dia selalu bersama dengan rombongannya, tidak akan sulit mengenalinya … Tapi kali ini, tidak tampak bahkan satu orangpun yang mengikutinya.

“Apakah kamu yakin tidak salah lihat? Tidak mungkin di datang ke sini sendirian.”

“… Kamu mungkin benar.”

Aku ingin tahu apakah ini penyebab apa yang dikatakan Mimosa hari sebelumnya, serta percakapanku dengan Tanya. Sepertinya aku terlalu memikirkannya sehingga berhalusinasi.

Aku segera berpaling dan pergi ke toko selanjutnya.

* * *
Table of Content
Advertise Now!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *